
"Ini kita di mana sih? Papa bawa kita nyasar?" Yuni tampak bolak balik melihat ke arah sekitar.
"Ini alamat yang diberikan Samuel sudah benar, masa iya nyasar?" Pak Fandi kembali melirik ke arah ponselnya melihat alamat yang dikirim oleh Samuel.
"Ya kalau memang benar, lalu Samuel dan Yunanya di mana? Jangan-jangan anak itu membohongi kita," sergah Bu Rosi yang ikut kesal.
"Tau begini aku tidak akan susah-susah untuk datang, beraninya anak itu membohongi orang tua, tak mampu beli rumah bilang saja tak mampu, untuk apa berlagak sok punya uang," gerutunya lagi.
"Tidak mungkin, selama ini anak dan menantu kita tidak pernah berbohong soal apa pun, apalagi mengenai hal ini, tak mungkin Samuel tega membohongi kita." Pak Fandi masih mencoba untuk percaya.
"Lalu buktinya apa sekarang? Mereka tidak ada, kan? Lihat di sini, tempat ini kawasan elit, mana mungkin ia membeli rumah di sini, dan lagi batang hidungnya saja tidak tampak untuk menjemput kita, pasti sekarang dia sedang bersembunyi di suatu tempat."
"Biar aku telepon mereka sebentar."
"Sudah-sudah, tidak usah telepon lagi kita pulang saja, menyusahkan sekali." Bu Rosi pun berbalik ingin masuk ke mobil, tapi belum juga sempat masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah mendekat ke arah mereka.
"Ma, Pa, maaf kami terlambat." Samuel membuka kaca mobil dan memperlihatkan dirinya."
"Samuel?" Pak Fandi mencoba untuk memperjelas penglihatannya, dan itu benar-benar menantu dan anaknya.
"Wah, ini mobil siapa, Kakak ipar?" Yuni seketika berlari mendekat dan mengelus mobil tersebut dengan jemarinya.
"Tadi ada kendala di jalan, jadi sedikit terlambat, maafkan Samuel, Pa."
"Lalu rumah yang kamu maksud ada di mana?"
"Ada di ujung jalan sana, Papa ikuti aku saja." Samuel menunjuk ke arah ujung jalan yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Baiklah. Yuni, apa kau belum selesai melihatnya?" tegur Pak Fandi pada anak bungsunya yang dari tadi seperti anak kecil yang tak pernah melihat mobil.
Tiba di ujung jalan, terlihat sebuah rumah yang begitu besar mengalahkan beberapa rumah di sampingnya, juga tata letak rumah itu paling apik untuk menikmati pemandangan yang luas tak terjangkau.
"Kakak ipar, apa ini rumah yang kamu maksud?" tanya Yuni yang berlari menghampiri Samuel dan Yuna.
Samuel mengangguk dan berkata, "Iya."
"Ini bukan rumah, melainkan seperti kastil kecil yang ada di film-film. Samuel, kau tidak membohongi kami lagi, kan?" Bu Rosi menyipitkan matanya menatap Samuel curiga.
"Aku membawa sertifikat rumahnya, Mama bisa lihat dan buktikan sendiri apakah aku berbohong atau tidak." Samuel memberikan sebuah map di tas pada Bu Rosi, mertuanya itu pun tampak membaca dengan seksama dan juga teliti, tak lama bibir berlapis lipstik merah itu melengkung dengan sendirinya dan menatap Samuel, seketika tawanya meledak dan berjingkrak memeluk Pak Fandi sehingga Pak Fandi pun kesusahan mengimbangi gerakan istrinya yang begitu gembira.
"Pa, anak kita jadi nyonya kaya, Yuna jadi orang kaya, Pa!" serunya tanpa malu-malu sembari terus memeluk Pak Fandi dengan air mata yang terus menetes.
"Iya, Ma, iya. Tenangkan dirimu dulu, malu kalau ada yang lihat, tulangmu ini sudah rapuh, bagaimana jika setelah ini kau tidak bisa berjalan lagi?" Bu Rosi pun perlahan menghentikan gerakannya dan melepas pelukan dari Pak Fandi.
"Iya ya, seketika lupa kalau aku sudah tua saking senangnya." Sembari mengusap air mata yang dari tadi terus menetes.
"Sam, ini sungguh rumah kita?" Setelah begitu lama Yuna mencerna pikirannya yang sempat kosong akan pemandangan rumah di depannya itu, akhirnya kini ia mulai menatap Samuel dan bertanya.
"Iya, ini rumahmu dan anak-anak kita kelak. Bagaimana? Apa kamu menyukainya?"
"Kak Yuna tidak hanya menyukainya, tapi dia hampir pingsan saking tak dapat mengutarakan rasa bahagianya kali ini. Ayo, Kak. Kita lihat rumah barumu." Yuni pun menarik tangan Yuna dengan senyum lebarnya.
"Oh ya, Kakak ipar, kali ini kau benar-benar membanggakan kami!" serunya sambil berlari kecil menggandeng kakaknya.
"Yuni jaga sikapmu, jangan ajak kakakmu berlarian, di sana ada cucu Mama!" Sontak Bu Rosi berseru tampak geram karena sikap Yuni yang begitu sembarangan.
"Samuel, ngomong-ngomong, dari mana kamu bisa mendapatkan ini semua? Awalnya mobil ini, juga sekarang rumah, apa kamu sudah menyembunyikan sesuatu dari kami?" Pak Fandi kini tampak serius.
"Kamu ini apa-apaan sih, Pa. Tidak peduli dari mana Samuel mendapatkannya, yang pasti ia sudah membuktikan bahwa ia mampu membawa anak kita ke ranah yang lebih baik, dan pasti dia adalah menantu kita." Bu Rosi tampak tersenyum selebar-lebarnya.
"Sekarang baru mengakui Samuel sebagai menantu, kamu tidak malu, Ma?"
"Sudah-sudah, dari mana aku mendapatkannya, Papa dan Mama akan segera mengetahuinya, sekarang kita masuk dulu, lihat apa yang bisa di lihat, sebentar lagi akan ada beberapa orang yang membawa barang-barang keperluan pesta malam ini, jangan bebankan pikiran kalian." Samuel pun merangkul ayah mertuanya, mengajak untuk masuk agar tidak terlalu memikirkan dari mana ia mendapatkan semua itu.
"Kakak ipar, berhubung masih ada waktu, apa aku boleh mengundang semua teman-temanku untuk datang ke acara malam nanti?" pinta Yuni.
"Undang saja siapa pun yang kamu inginkan, tidak perlu meminta izin."
"Yes, terimakasih, Kakak ipar, malam ini aku pasti akan menjadi seorang putri di antara mereka." Seketika Yuni tersenyum licik sembari menatap layar ponselnya.