The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Buat Dia Tak Bisa Berjalan.



"Jangan bilang kau bahkan tak mengenali suaraku?" Samuel kembali bersuara.


Rasa penasaran itu akhirnya semakin besar dari rasa takutnya, ia pun menoleh tak tahan lagi ingin melihat siapa sebenarnya orang yang dianggap bos oleh Roy.


Deg!


Bagai petir yang menyambarnya seketika, bagaimana mungkin benar-benar Samuel?


"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Rendra sedikit berani karena ia memang tak pernah menganggap tinggi seorang Samuel.


Roy detik itu juga memukul kepala Rendra dengan keras. "Berani-beraninya kau bicara begitu lancang pada Tuan Samuel, tak ingin hidup lagi?" bentaknya geram.


Samuel tersenyum sinis dan juga merasa lucu melihat reaksi Rendra. "Sebenarnya aku bukan ketua mereka, hanya saja aku memiliki sedikit harta untuk membayar mereka agar menangkapmu hidup-hidup."


Rendra mengerutkan alis begitu kesal menatap Samuel, sudah ia duga, Samuel tentu saja bukan ketua Mafia.


Rendra percaya begitu saja dengan ucapan Samuel meski itu hanyalah kebohongan agar identitasnya tetap aman untuk sementara waktu.


"Tuan Roy, berapa yang ia berikan? Saya jauh lebih mampu untuk membayar Anda, berapapun yang Anda minta, saya akan berikan, tapi saya mau Anda menghukum pria pecundang ini untuk saya, kalau perlu buat dia tak bisa berdiri untuk selamanya." Rendra kembali menoleh pada Roy untuk bernegosiasi kembali.


Wajah Samuel kembali datar mendengar ucapan Rendra, pria itu bahkan menginginkannya cacat permanen, entah bagaimana ia harus memberi pelajaran pada penghianat itu.


"Bisa saja, tapi tentu ada syarat yang harus kau penuhi," jawab Roy santai.


"Katakan, katakan apa syaratnya, aku pasti akan memenuhi semuanya." Dengan cepat Rendra menjawab, terlihat begitu yakin, binar mata bahagia mulai terpancar darinya, ia pikir sudah ada titik terang baginya untuk keluar dari cengkraman Roy dalam keadaan utuh.


Roy tersenyum kecil, tapi terlihat begitu menakutkan. "Jika kau mampu mengalahkan ketua kami dan mengambil alih menjadi ketua klan naga merah, maka aku akan menurutimu bahkan tanpa kau berikan apa-apa." Memberikan syarat tersebut, sama saja ingin membuat Rendra mati mengenaskan, anggota klan mafia lain saja tidak ada yang berani menantang ketua klan naga merah, meminta Rendra melakukannya, tentu saja anak itu hanya akan sembunyi di bawah ketek keluarga.


"Bagaimana? Apa kau menyanggupinya?" tanya Roy.


Samuel benar-benar menikmati ekspresi Rendra yang seketika membeku, wajahnya memucat seakan pembuluh darahnya tidak bekerja dengan benar.


"Tuan, bukankah syarat Anda ini sedikit tidak berperasaan? Apa salahnya jika saya hanya memberikan beberapa uang dan kita jadi kolega, bukankah lebih mudah?" ujar Rendra yang tentunya tak menyanggupi syaraat dari Roy.


Samuel seketika terkekeh geli. "Berperasaan atau tidak, yang jelas kau salah orang untuk membicarakan hal itu, bukankah kau menyakiti adik iparku juga tanpa perasaan? Sekarang kutanya apakah kau layak membicarakan soal perasaan? Anggota klan mafia sama sekali tak mengerti apa itu menjadi kolega dengan menggunakan perasaan, yang klan naga merah tahu hanya yang bersalah yang harus diberi pelajaran." Aura pembunuh seketika terpancar dari mata Samuel, beruntung Rendra tak melihatnya, tidak tahu apakah pria itu akan tetap sadar jika melihat sisi lain dari Samuel.


Samuel menepuk bahu Rendra beberapa kali. "Setelah ini sebaiknya kau pikirkan akan nasibmu ke depannya." Tersenyum sinis lalu keluar dari mobil.


Sebelum masuk ke rumah mertuanya, Samuel menghampiri Roy terlebih dahulu. "Kuserahkan dia padamu, tidak perlu sampai mati, cukup buat dia tak bisa berjalan seperti yang dia inginkan terhadapku, setelah kau memberinya pelajaran, buang dia di depan rumah keluarganya," ujarnya memberi perintah.


"Baik, Bos. Serahkan semuanya padaku, semua akan beres malam ini juga," jawab Roy percaya diri.


Tanpa menjawab lagi, Samuel pun berlalu pergi dan masuk ke halaman rumah. "Jangan salahkan aku jika berani berbuat kejam pada seseorang, siapa pun yang berani mengusik anggota keluargaku, mereka tidak akan pernah bisa hidup tenang." Samuel mengepalkan tangannya begitu geram.


Saat membuka pintu rumah, terlihat semua penghuninya berkumpul di ruang tengah, Yuni tampak menangis, merengek seperti anak kecil.


"Ada apa?" tanya Samuel yang sengaja berpura-pura tidak tahu tentang apapun. Semua orang menoleh padanya.


"Sam, kau sudah pulang?" Yuna pun segera menghampiri Samuel.


"Adikmu kenapa lagi?"


"Kekasihnya bermain gila dengan wanita lain, semenjak pulang dari melabrak Rendra, dia terus menangis seperti itu, segala macam cara dan nasihat telah dilakukan, tapi dia tetap tidak mau tenang dan terus merengek seperti itu." Yuna menjelaskan, terlihat raut wajahnya yang ikut merasa iba terhadap adiknya.


Samuel berjalan menghampiri Yuni. "Apakah merengek seperti itu membuatmu kembali senang dan merasa lega? Apa yang kau tangisi, hm? Lelaki yang hanya bisa pamer itu adalah lelaki yang tak normal, dia yang suka menebar pesona dengan harta kekayaannya apakah cukup hanya dengan satu wanita saja? Bagi lelaki yang seperti itu, dia akan memiliki pola pikir yang berbeda, di mana semakin banyak wanita yang mengincarnya maka semakin tinggi pula popularitasnya, pria seperti Rendra itu hanya mementingkan kepuasan pribadi. Lelaki sejati tidak akan pernah banyak berbicara sana sini, tetapi mereka melakukannya dengan tindakan tanpa banyak omong kosong. Lain kali carilah lelaki yang tidak suka pamer ke sana ke mari, jika tidak kau akan merasakan hal yang sama seperti sekarang ini."


Yuni seketika berhenti menangis dan mendongak menatap Samuel dengan mata yang memerah. "Kau siapa berani mengajariku, hah? Di rumah ini statusmu bahkan tidak lebih tinggi dari seorang pembantu," cibir Yuni begitu merendahkan.


"Apakah yang kukatakan itu salah? Jauh di lubuk hatimu aku tahu kau pasti setuju dengan ucapanku. Hanya dengan karena gengsi maka kau mencoba merendahkan aku, tapi sepertinya kau lupa bahwa kau terlalu sering mengucapkan kalimat merendahkan seperti itu, jadi aku tidak akan menangis dan merengek seperti apa yang kau lakukan barusan." Samuel balik meledek.


"Kau!" Yuni melotot padanya.


"Tentu saja kau bisa berbicara seperti itu dan menjelekkan Rendra, bukankah kau tidak punya apapun untuk dipamerkan? Aku yakin dan percaya jika kau memiliki segalanya kau pasti juga akan bersikap sama seperti para hidung belang itu, hanya karena kau sekarang miskin dan kakakku bersedia menafkahimu makanya kau tidak berani bermain gila dengan perempuan lain, jika ketahuan kau bisa saja diceraikan oleh kakakku dan hidup menjadi gelandangan!" hardik Yuni dengan suara yang begitu lantang.


"Jadi kau menganggap semua lelaki itu sama? Lalu bagaimana dengan Papa? Apa kau juga ingin menyamakan Papa dengan kekasih bejatmu itu?" Samuel menyeringai.


"Samuel, cukup!" Akhirnya Bu Rosi angkat bicara dengan suara yang cukup keras. Semua orang terdiam seketika.