The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Menjenguk Rendra



"Kak, aku boleh tidak ikut bersama kalian? Aku sungguh bosan tinggal di rumah," pinta Yuni pada Yuna.


Yuna menoleh pada Samuel, tidak biasanya Yuni ingin ikut bersamanya apalagi jika ada Samuel, tapi kali ini malah menawarkan diri, Yuna berpikir mungkin Yuni benar-benar merasa patah hati karena dihianati oleh Rendra.


"Ya sudah, masuklah ke mobil." Yuna menyetujui, Samuel pun tidak merasa keberatan sama sekali.


Yuni tampak senang, membuat mereka berdua saling menatap keheranan, tak biasanya Yuni mengekspresikan senyuman lebarnya di depan mereka.


"Sudahlah, jangan berpikir hal aneh, mungkin dia memang sedang butuh hiburan, setelah dari rumah sakit, kita bawa dia jalan-jalan sebentar, kamu juga sudah lama tidak jalan-jalan, kan?" Samuel tersenyum pada Yuna sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Sesekali Yuna menoleh pada adiknya yang kini duduk di kursi belakang, jika Yuni tidak ikut, mungkin mereka hanya akan menggunakan sepeda motor milik Samuel.


"Kamu kenapa, Kak? Terlihat tidak senang dengan kehadiranku?" sahut Yuni tiba-tiba, tentu saja membuat Yuna sedikit gelagapan.


"B-bagaimana mungkin, tentu saja aku senang kau mau ikut bersama kami," jawabnya sembari memaksakan diri untuk tersenyum. Jujur Yuna memang sedikit takut kalau-kalau adiknya itu ingin membuat keributan dan menyusahkan suaminya, dari dulu Yuni selalu tidak puas terhadap Samuel.


Tiba di rumah sakit, ada beberapa wartawan yang berdiri di depan gerbang utama, Yuna sedikit ragu untuk masuk ke sana. "Lebih baik kita cari rumah sakit lain saja, sepertinya Rendra juga dirawat di sini, tidak enak jika keluarganya nanti tiba-tiba banyak bertanya pada kita, aku takut mereka akan menyusahkan kamu dan Yuni nantinya."


"Kenapa harus takut? Kita tidak tahu apa-apa mengenai musibah itu, jika pun dia bertanya, kita tinggal jawab apa adanya saja, kita memang keluarga yang miskin, tapi bukan berarti mereka bebas menuduh, kan?" Yuni segera membantah dengan cepat.


"Iya, lagian sudah tiba juga, kita hanya pergi kontrol sebentar setelah itu pergi lagi," timpal Samuel yang menyetujui ucapan Yuni. Yuna akhirnya mau tak mau menuruti perkataan suaminya dan mereka masuk ke sana.


Tiba di meja kasir, Samuel berbicara pada salah satu perawat yang berjaga.


Melihat penampilan mereka yang sangat-sangat sederhana, sang perawat sedikit malas untuk melayani.


"Baiklah, kalian bisa duduk di kursi tunggu terlebih dahulu sembari kami melayani pengunjung sebelumnya." Dengan wajah datar dan semalas mungkin untuk melayani Samuel.


"Lagi-lagi direndahkan seperti itu, jelas-jelas mereka bisa langsung menunjukkan ruangan dokternya dan kita bisa pergi sendiri, apa mereka pikir kita datang tanpa ingin bayar?" cibir Yuni merasa kesal.


Sedikit lama mereka menunggu, entah apa yang dipikirkan oleh perawat itu, mereka malah melayani orang yang baru datang sementara mereka yang datang lebih dulu diminta untuk menunggu, Samuel mulai tak tahan sehingga berdiri dari tempatnya mendekati meja kasir.


"Apa rumah sakit ini sama sekali tak punya aturan? Kami datang terlebih dahulu, tapi kalian malah melayani orang lain yang bahkan baru tiba, kalian mau kami menunggu untuk apa? Harus berapa lama lagi?" protes Samuel dengan tegas.


"Jika Anda tidak suka, maka pergi dan cari rumah sakit lain, kami tidak menerima orang yang tidak tahu tata krama dan tidak sabaran seperti Anda!" Perawat tersebut malah balik memarahi Samuel.


"Yang tidak tahu tata krama itu saya atau Anda? Di sana ada wanita yang sedang hamil, sebagai seorang perawat Anda pasti tahu bahwa wanita hamil tidak boleh duduk terlalu lama, Anda meminta kami menunggu hingga detik ini apakah Anda ingin terjadi sesuatu padanya?!" hardik Samuel begitu kesal, rahangnya mulai mengeras ditambah dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Hm ... Tuan, maafkan teman saya, saya akan melayani Anda, silahkan pilih pelayanan yang Anda mau dan kami akan memprosesnya." Perawat yang lain akhirnya angkat bicara dan tersenyum ramah pada Samuel.


"Cih, dasar pria menjijikkan," cibir perawat tadi sembari mencebik kesal.


"T-Tuan, meski pelayanan VIP sangat bagus, tapi harganya juga tidak main-main, lebih baik Anda memilih pelayanan menengah atau tidak pelayanan dasar saja, itu juga tidak buruk," kata perawat itu yang merasa ragu dengan pilihan Samuel.


"Kau juga ingin meragukanku?" Tatapan mata Samuel bagaikan seekor elang yang hendak memangsa, begitu menakutkan hingga wanita di hadapannya mengalihkan pandangan tak berani.


"M-maafka saya, Tuan."


"Palingan juga nanti akan terkejut dengan nominal pembayarannya, berlagak sok kaya di awal, tapi di akhir malah menyesal," cibir perawat yang dari tadi terus merendahkan Samuel.


Setelah menjalani beberapa prosedur, mereka pun diantar ke ruangan dokter yang akan memeriksa Yuna, semua berjalan lancar dan mereka bisa langsung pulang, tapi saat melewati beberapa koridor, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Tuan Daniel.


"Kebetulan sekali," ujarnya.


"Tidak pergi lihat Rendra sebentar?" Ia menawarkan pada Yuni, melihat dari situasi sekarang, sepertinya ia belum mengetahui bahwa Yuni telah putus hubungan dengan anaknya.


"Em ... saya hanya ikut bersama kakak, mereka nampaknya terburu-buru, jadi saya harus ikut pulang bersama mereka," tolak Yuni secara halus.


"Tidak apa-apa jika kau ingin menjenguknya sebentar, kami akan menunggu," ujar Samuel.


"Tidak apa, lagian Rendra juga pasti butuh istirahat yang banyak, aku takut kedatanganku malah membuatnya semakin buruk." Yuni segera menolak dengan seribu alasan.


"Begini saja, Tuan Daniel. Karena Yuni tidak ingin, bagaimana jika saya saja yang menggantikannya untuk menjeguk Rendra sebentar, sudah terlanjur ada di sini, kami sebagai kerabat juga tidak mungkin abai begitu saja, kan?" Samuel pun memberi usul, jauh dari itu, ia sebenarnya memiliki niat yang terselubung untuk Rendra.


"Astaga, apa yang sedang dipikirkannya, disaat aku tidak ingin berlama-lama dengan keluarga pecundang itu, dia malah menawarkan diri untuk datang menjeguk," batin Yuni yang seketika merasa tertekan.


Akhirnya Samuel pun masuk ke ruangan Rendra seorang diri, terlihat pria malang itu terbaring dengan kaki yang berbalut perban, Samuel menyunggingkan bibir tersenyum sinis, ia memperhatikan kedua belah kaki Rendra dengan teliti. "Aku memintamu agar membuatnya tak bisa berjalan, tapi kau malah gagal melakukannya," gumam Samuel dengan suara pelan, ia datang memang hanya untuk memastikan bahwa Roy melakukan tugasnya dengan benar, tapi tidak menyangka, hanya dengan sekali lihat saja, Samuel langsung bisa menyimpulkan bahwa kaki Rendra masih memiliki peluang besar untuk bisa berjalan kembali.


Samuel akhirnya memasukkan sedikit cairan ke dalam mulut Rendra, tak lama kemudian pria itu pun terbangun dari masa kritisnya.


"Ternyata obatku masih bekerja dengan maksimal." Tidak diragukan lagi jika untuk soal obat-obatan, Samuel tentunya sudah mempelajari semua itu dari ayahnya.


Sementara Rendra dari tadi terus bergerak seperti cacing di atas ranjang pasien karena ia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali, hal itu membuat Samuel semakin puas akan efek obat yang ia racik sendiri.


"Sshh ... jangan banyak bertingkah, atau aku tidak akan memberikan obat penawarnya," bisik Samuel sembari menyeringai sinis.


Rendra semakin melotot ke arahnya ketika tahu bahwa ternyata Samuel yang membuatnya tak bisa berbicara.


"Ini akibat jika kau berani berbuat kesalahan terhadap keluargaku, tidak hanya kau saja, bahkan jika perwakilan negara ini berani mengusik, aku juga tidak akan segan untuk membuatnya bernasib sama sepertimu." Samuel kembali berbisik pelan di telinga Rendra, suaranya berubah menjadi menakutkan hingga membuat Rendra seketika berkeringat dingin.


Samuel meletakkan satu buah pil obat di atas nakas tepat di samping Rendra. "Jika kau percaya aku bisa membuatmu tak bisa bicara, maka kau harusnya juga tak akan ragu untuk meminum pil obat itu. Sampai ketemu di lain waktu, kuharap kau bisa sembuh dengan cepat." Senyuman meledek tersirat di wajah Samuel, lalu ia pergi begitu saja. Rendra terlihat benar-benar marah karena tak berhasil meraih pil obat tersebut dikarenakan kakinya yang tak bisa bergerak.