The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Mencapai Kesepakatan



"Ada yang ingin kalian tanyakan?" gumam Samuel setelah melihat keraguan pada raut wajah mereka.


"Asal Anda berani menandatangani surat perjanjian bahwa para pasukan ini tidak akan membuat onar baik di dalam maupun luar negara, maka kami bisa mempertimbangkannya, dengan catatan jika berani melanggar, maka Anda harus membayar denda yang tentunya tidak sedikit, bahkan perusahaan ini akan menjadi taruhannya."


"Bagaimana, Anda berani?" satunya malah menantang.


"Tidak masalah, setelah kalian mendiskusikannya pada pemimpin negara, aku akan segera tanda tangan, tinggal hubungi paman Jimmy setelah surat perjanjian selesai dibuat." Samuel menyetujui dengan cepat.


"Baiklah, akan kami usahakan secepat mungkin, jika tidak ada lagi, maka kami meminta undur diri."


"Oh ya, satu lagi, aku ingin mengadakan sebuah acara tak seberapa di rumahku, secara langsung juga ingin mengundang kalian, jika ada waktu senggang kalian bisa datang, aku akan meminta seseorang untuk mengirimkan undangannya," ujar Samuel sambil berdiri dan tersenyum ramah.


"Tidak masalah, kami pasti akan datang jika senggang."


"Baiklah, sampai di sini saja, terimakasih atas kesempatan rapat kali ini dan maaf sudah banyak membuang waktu kalian yang berharga." Samuel membungkuk secara hormat berterimakasih pada para pejabat tersebut, mereka pun satu persatu meninggalkan ruangan setelah menjabat tangan dengan Samuel dan juga Tuan Jimmy.


"Selesai begitu saja?" Tuan Jimmy cukup terkesan dengan rapat Samuel kali ini, pertama kali melakukan perbincangan pada para petinggi itu dan membahas masalah sulit, tapi malah bisa selesai dalam waktu singkat dan mencapai kesepakatan. yang diinginkan.


"Tuan muda benar-benar mewarisi bakat Tuan Jovi, bangga sekali mengikuti orang-orang hebat seperti. mereka," batin Tuan Jimmy.


"Anda kenapa, Paman?" Samuel langsung bertanya ketika ia menyadari Tuan Jimmy tersenyum menatapnya.


"Ah, tidak apa-apa, Mari Tuan muda." Tuan Jimmy mengalihkan pandangannya dan mempersilahkan Samuel untuk jalan lebih dulu.


***


"Lama sekali baru pulang, dari mana saja, nenek dan kakek sudah menunggu kamu lama sekali," ujar Bu Rosi.


"Ada apa?" tanya Samuel acuh tak acuh.


"Jangan tidak sopan," tegur Bu Rosi.


"Sudahlah, Rosi. Jangan terlalu galak padanya. Samuel, duduklah dulu." Kakek Santoso tampak tersenyum ramah tidak seperti biasanya.


"Tadi Kakek melihatmu di acara peresmian perusahaan Tuan Jimmy, juga melihat dengan langsung bagaimana Tuan Jimmy yang sangat menghormatimu, sebenarnya kau dan Tuan Jimmy punya hubungan apa?" tanya Kakek Santoso langsung pada intinya.


"Apa perlu semua kehidupanku harus kuceritakan pada kalian? Apa itu sangat penting untuk dikatakan?" Samuel tersenyum sinis tak benar-benar serius menanggapi kedatangan mereka.


Kakek Santoso saling memandang dengan istrinya, sedikit kikuk menghadapi sikap Samuel yang terlanjur sulit untuk menerima mereka.


"Kau jangan kurang ajar, Kakek dan nenek secara langsung datang dan menunggumu selama berjam-jam, lantas beginikah sikap yang harus ditunjukkan sebagai cucu menantu keluarga Santoso? Kau benar-benar tidak punya sopan santu sama sekali," bentak Marlin dengan geramnya.


"Apa aku ada meminta mereka datang dan menungguku? Tidak ada, kan? Lantas untuk apa kau begitu heboh menggonggong di rumah orang?" Samuel balik mencibir.


"Kau!" Wajah Marlin berubah merah dan semakin menggeram di tempatnya.


"Marlin, jaga sikapmu!" Nenek Santoso langsung menegur.


"Cih, benar-benar tidak tahu apa yang begitu bagus dari lelaki sampah seperti dia." Marlin beranjak dan keluar dari rumah itu, memutuskan untuk menunggu di mobil.


"Samuel, maafkan sikap Marlin barusan, dia benar-benar kekanakan." Nenek Santoso secara langsung meminta maaf pada Samuel, meski sebenarnya itu ia lakukan hanya karena terpaksa, jika bukan karena melihat Tuan Jimmy menyapa Samuel di acara perjamuan itu, ia mungkin tak akan sudi untuk sekedar menatap Samuel yang ia percaya sebagai lelaki tak berguna dalam keluarga.