
"Paman, tadi Anda kenapa tiba-tiba datang? Seharusnya Anda tidak perlu melakukan itu, Anda sudah seperti orang tuaku, tidak perlu harus membungkuk dan memperlihatkannya pada para tamu," tegur Samuel ketika mereka berada di ruangan Paman Jimmy.
"Tidak masalah, Anda memang majikan saya dan saya pun melakukan itu juga karena ingin membungkam mereka, saya tidak suka jika ada yang menghina Anda, Tuan muda." Sembari mengambil satu set pakaian formal yang tergantung di ruangannya.
"Tapi Anda tidak perlu berlebihan begitu."
"Tidak berlebihan, Tuan muda. Sudahlah, pertemuan tertutup antar pejabat negara sudah akan dimulai, Anda ganti pakaian dulu, mereka sudah menunggu." Paman Jimmy memberikan kemeja dan jas pada Samuel dan tidak memperpanjang pembicaraan lagi.
Tiba di ruang rapat, semua para petinggi negara berdiri serentak dan menyambut hangat kedatangan Samuel.
"Tuan sekalian tidak perlu begitu sungkan, silahkan duduk kembali." Samuel tersenyum ramah dan duduk di bangku sebagai kepala perusahaan.
"Apakah Anda merupakan pemilik perusahaan ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar, Tuan. Beliau bermarga Adiguna, anak dari Tuan Jovi Adiguna, sepertinya semua juga tahu siapa Tuan Jovi itu, beliau memiliki satu orang putra bernama Samuel dan sekarang sedang duduk di hadapan kalian." Paman Jimmy menggantikan Samuel menjelaskan.
"Wah, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, ayah dan anak sama-sama memiliki bakat bisnis yang luar biasa, dulu sebelum Tuan Jovi diusir dari keluarga besar, perusahaan ADN GROUP berkembang dengan sangat baik, kini tak disangka perusahaan yang baru berdiri ini ternyata dikelola oleh anaknya, luar biasa." Semuanya memandang takjub pada Samuel, merasa bangga ketika melihat anak muda yang berjaya dengan usahanya.
"Tuan terlalu memuji, semua ini tentunya adalah kerja keras Paman Jimmy yang membantu saya mengatur perusahaan, jika bukan karena beliau, saya juga akan kesulitan untuk mencapai kesuksesan ini." Samuel tampak tenang sembari tersenyum ramah.
"Baiklah, memang diakui Tuan Jimmy ini tidak diragukan lagi, otaknya sangat cerdas," sahut yang lainnya.
"Kalau boleh tahu, pertemuan kali ini, apakah ada hal lain lagi yang ingin Tuan Samuel bahas selain perkenalan?" pria paruh baya yang merupakan wakil gubernur di kota tersebut langsung bertanya pada intinya.
"Benar, Pak. Anda ternyata sudah memprediksinya terlebih dahulu," jawab Samuel lagi dan tersenyum sedikit ragu.
"Jika menanyakan mengenai pendapat kami, klan mafia itu adalah sebuah kelompok yang melakukan tindak kejahatan atau tindak kriminal, misalnya saja seperti perampasan, pembunuhan, penyelundupan senjata, perdagangan narkoba dan obat terlarang. Namun, boleh kami tahu kenapa Anda menanyakan hal ini pada kami?" Salah satunya menjawab, dan Samuel kembali terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana cara kalian mengatasinya?" Samuel kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya.
"Klan mafia sebenarnya sudah seperti sebuah kanker ganas, menggerogoti dan juga mematikan, bergerak diam-diam dan di mana pun, memang sangat sulit dihadapi karena kekuasaan mereka yang terlalu besar, sampai sekarang kami hanya bisa menangkap segelintir anggota mafia saja yang tertangkap basah dalam menjalankan misi kejahatannya, setidaknya bisa mengurangi jumlah anggota mafia, kami berharap cepat ataupun lambat, semua klan mafia di negara ini bisa dimusnahkan, meski sangat mustahil, tapi demi keamanan warga di negara ini, setidaknya kami harus menyusun rencana yang sangat matang dan juga cerdik untuk bisa melancarkan misi pemusnahan tersebut," ujar sang walikota yang ikut berpendapat.
Samuel meremas kedua tangannya yang kini telah berkeringat, tak dapat ia pungkiri, sebagian besar klan mafia yang ada di negaranya memang sedikit meresahkan para petinggi ini karena tingkat kejahatannya yang begitu sulit dihadapi, tapi meski klan mafia miliknya tidak termasuk klan yang melancarkan aksi kejahatan, tetap saja nama mafia akan tetap buruk di mata banyak orang, ia sendiri pun bingung harus berbuat apa agar klan mafia miliknya bisa diterima oleh negara dan bisa membantai kejahatan dengan leluasan setelah adanya dukungan.
"Apa di antara Tuan di sini, pernah mendengar mengenai klan Naga Merah?"
"Tentu saja, klan ini adalah sebuah kelompok mafia terbesar yang ditakuti oleh klan lainnya, menurut informasi yang saya dapatkan, konon katanya Naga Merah ini memiliki pemimpin yang cukup sadis, membunuh dengan kejam dan tanpa ampun, tapi sampai sekarang, jangankan sebuah klan terbesar, bahkan yang terkecil pun masih belum bisa musnah sepenuhnya," timpal yang lain.
"Sebenarnya, sedikit banyak saya tahu tentang klan Naga Merah ini, mereka baru berdiri selama beberapa tahun, memang benar bahwa mereka kejam dan sadis dalam membunuh, membunuh yang saya maksud di sini adalah hal wajar, dalam arti lain mereka sebenarnya membasmi sebuah kejahatan dan membela kebenaran, mereka sama sekali tidak pernah melakukan aksi kejahatan ataupun tindak kriminal yang merugikan seperti penyelundupan senjata dan perdagangan narkoba, saya berani jamin bahkan semua anggota pun terbebas dari konsumsi narkoba dan obat terlarang. Jika begitu, apakah mereka akan tetap dimusnahkan?" Samuel mencoba untuk mendinginkan pemikiran mereka yang sudah terlanjur berpikir buruk tentang dunia mafia. Karena tidak semua klan menjalankan aksi kejahatan, contohnya klan Naga Merah yang ia pimpin sekarang.
"Kata-kata Tuan muda ini sedikit sulit untuk diterima, lagian Anda baru saja berkecimpung di dunia bisnis, Anda tidak begitu mengenal betul seperti apa dunia mafia itu, dengan apa Anda berani menjamin bahwa klan tersebut bersih dari kata kriminal, setiap mafia selalu memiliki sisi buruk dan tentunya lebih berat jika dibandingkan dengan sisi baiknya, yang bahkan mungkin hampir tidak memiliki sisi kebaikan. Anda masih muda, lebih baik jangan terlalu ikut campur mengenai masalah ini, atau jika tidak, usaha yang baru dibangun ini takutnya akan menjadi taruhan dan Anda bisa saja kehilangan semuanya." Tuan Walikota tampak memandang remeh pada Samuel.
"Sebaiknya Anda jangan remehkan saya, mungkin benar saya adalah pemula di dunia bisnis, tapi jika dalam dunia mafia, jangan sekali-kali Anda meremehkan saya, takutnya Anda akan terkejut jika tahu siapa saya sebenarnya." Samuel sedikit tidak terima akan tatapan sinis sang walikota tersebut yang sedang meremehkannya, boleh saja tidak percaya dengan apa yang ia katakan, tapi tidak perlu harus memandang remeh ke arahnya.
"Anda memang berkuasa, tapi jangan bilang karena kekuasaan ini, Anda ingin membuat saya bungkam dan harus menyetujui apa pun yang keluar dari mulut Anda, Anda orang terhormat, begitu pula dengan saya, saya juga berhak untuk tidak bisa percaya dengan ucapan Anda, kami di sini sulit untuk percaya omong kosong itu," sergahnya lagi.
"Baiklah, lalu bagaimana jika kita bersama-sama datang ke markas klan mafia tersebut, cari bukti bahwa yang saya katakan apakah benar atau tidak?" Samuel mengusulkan.
Wajah semua pejabat itu pun tampak begitu pucat seketika, bagaimana mungkin mereka akan berani untuk datang ke markas mafia secara langsung, itu sama saja menghantarkan nyawa dengan sendirinya.