
"Kalian berdua ada perlu apa?" tanya Samuel langsung pada intinya demi mempersingkat waktu karena begitu malas berhadapan terlalu lama dengan orang yang pernah meremehkannya.
"Hem. Begini, Samuel. Kami ingin meminta bantuan padamu kali ini, berhubung kamu memiliki pertemanan yang baik dengan Tuan Jimmy, Kakek ingin meminta tolong padamu agar membantu bisnis keluarga Santoso agar bisa bekerjasama dengan Tuan Jimmy, jika kamu berhasil, tentunya kamu juga akan mendapat bagian yang tidak sedikit, kamu juga akan aku promosikan sebagai pegawai tetap di perusahaanku, dengan begitu hidupmu akan lebih terjamin dan kamu tidak terus-terusan menjadi seorang pria yang pengangguran." Akhirnya Kakek Santoso pun dapat mengutarakan maksud dan tujuannya datang mencari Samuel kali ini.
Semua keluarga yang berada di sana menatap Samuel berharap agar dia menyetujuinya, dengan begitu setidaknya mereka tidak akan dipandang sebelah mata di acara keluarga setelah Samuel mendapatkan kedudukan di perusahaan Kakek Santoso meski hanya sebagai pegawai tetap saja.
"Hanya pegawai tetap? Sebenarnya Anda ini sedikit tidak memiliki niat untuk meminta bantuan. Bantuan sebesar ini, bagaimana mungkin hanya dihargai sebegitu murahnya." Samuel menyeringai sinis sembari duduk di hadapan mereka.
"Lalu kamu mau bagaimana baru bisa dikatakan sepadan, kamu ingin menjadi kepala manager? Boleh saja, asal berhasil membujuk Tuan Jimmy, maka kedudukan ini resmi akan kamu dapatkan." Kakek Santoso kembali menawarkan tanpa pikir panjang, kali ini kerjasama itu sangat ia harapkan demi kesuksesan bisnisnya di masa mendatang dan juga reputasi keluarga Santoso agar mampu melejit menduduki peringkat atas jika berhasil menjadi kolega bisnis Tuan Jimmy.
"Samuel, tunggu apa lagi? Cepat setujui penawaran kakek, ini kesempatan yang sangat bagus agar keluarga kita tidak selalu dipandang sebelah mata, dengan begitu kamu juga akan menjadi suami yang utuh bagi Yuna setelah kamu berhasil mendapatkan kedudukan sebagai manager di perusahaan Santoso, jangan buang kesempatan emas seperti ini." Bu Rosi tampak semangat membujuk Samuel agar menerimanya, sudah lama ia menantikan hal-hal seperti ini, sekarang kesempatan sudah di depan mata dan ia harus memastikan agar Samuel benar-benar menerimanya.
"Aku sudah memberikan kesempatan bagus untukmu, tapi sebenarnya kamu tidak membutuhkannya dan tidak bersedia untuk membantu, kalau begitu untuk apa lagi kami di sini? Semua sudah jelas, kamu memang tidak berguna seperti yang lainnya katakan," cibir Kakek Santoso dengan sunggingan bibir yang begitu sinis menatap hina pada Samuel.
"Jika dari awal Anda tahu aku tidaklah berguna, lalu untuk apa tetap datang ke sini? Buang waktu dan tenaga saja, lagian aku juga memang tidak berniat untuk membantu, sama halnya dengan Anda, jika dari awal kalian bersikap baik pada keluarga istriku, maka aku juga tidak akan mempermasalahkan apa pun dari kalian. Sekarang datang dan menawarkan bermacam keuntungan hanya karena kalian butuh bantuanku, apa itu tidak terlihat dan terdengar naif? Sangat menjijikkan." Sorot mata Samuel kini berubah menjadi kebencian, hasrat ingin balas dendam kini mulai bermunculan satu persatu.
"Samuel, jaga sikapmu, jangan bicara sembarangan," tegur Bu Rosi sedikit berbisik.
"Sudahlah, Ma. Apa yang mereka lakukan terhadap Anda dan Papa selama ini sudah cukup keterlaluan, Anda tidak perlu mengemis harta pada mereka yang jumlahnya tidak seberapa itu, jika hanya uang yang menjadi permasalahannya, jika hanya uang yang bisa menaikkan derajat keluarga ini, maka aku sendiri bisa melakukannya tanpa bantuan dari mereka. Tidak perlu menurunkan dan menjatuhkan harga diri di hadapan orang yang tak mengerti arti kekeluargaan." Mata Samuel memandang teduh ke hadapan Bu Rosi, berharap mertuanya akan sadar dan tidak selalu dipermainkan oleh orang tuanya sendiri.