The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Semakin Takut



"Jangan tanyakan lagi, kau tau apa yang terjadi jika Samuel mempermasalahkan sikap kita selama ini? Kakekmu tak bisa bicara apa pun memikirkan semua itu."


"Semua ini juga karenamu, jika saja kau tidak memulai keributan dengannya, keluarga kita tidak akan terancam." Nenek Santoso berbalik menyalahkan Marlin.


"Kenapa Nenek berkata seperti itu? Bukankah selama ini kita sama-sama membencinya? tidak ada hubungannya denganku." Marlin tampak mengerutkan alisnya merasa tidak adil jika dirinya yang disalahkan.


"Kau lupa siapa yang mencari masalah dengan Samuel saat pertemuan keluarga Santoso? Itu kau, kan? Aku tidak pikun, aku mengingat semuanya meski kau ngin mengelak seperti apa pun." Nenek Santoso tak berhenti menyalahkan.


"Stop! Apa kalian tidak bisa memahami kondisi sekarang? Bukannya mencari solusi malah ribut." Kakek Santoso menggertakkan gigi merasa geram melihat tingkah dua wanita di hadapannya.


"Ini semua nenek yang mulai duluan, aku tidak akan ribut jika nenek tidak menyalahkanku." Marlin merengut masam menatap neneknya.


"Sudah, apa sekarang penting membahas soal siapa yang menyalahkan siapa? yang harus kalian lakukan itu berpikir. Pikir apa yang harus kita lakukan sekarang, kalian mau keluarga Santoso lenyap tanpa sisa? Mau keluarga kita bercerai berai tak tentu arah lagi?" Wajah Kakek Santoso tampak memerah menahan rasa takut dan marah yang bersatu padu.


"Kakek tenang saja, aku sudah mendapatkan ide, ini cukup cemerlang." Marlin menjentikkan jarinya tersenyum penuh maksud.


"Ide semacam apa?"


"Kakek tunggu saja kabar baik dariku."


"Kau yakin rencanamu akan berhasil?"


"Tentu saja, selera lelaki itu semua sama, Kakek. Aku pasti bisa menaklukkannya.


"Para hadirin sekalian, saya merasa terhormat dengan kehadiran Tuan dan Nyonya sekalian, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang ke pesta sederhana ini." Samuel telah berdiri di panggung menyambut para tamunya, sementara para pelayan di bawah sedang membagikan sebuah amplop untuk semua para tamu undangan.


"Anggaplah sebagai tanda terimakasih kecil-kecilan dari saya, semuanya bebas menggunakannya untuk apa pun," lanjutnya lagi sembari tersenyum datar.


Marlin yang tak sabaran, segera membuka amplop yang ia dapatkan dari pelayan. "Hah? Kartu apa ini?" Ia mengerutkan alis tak mengerti.


"Sini, berikan padaku, biar kulihat berapa jumlah uangnya." Ia pun merebut kartu itu dari tangan Marlin.


Setelah melihatnya, Nenek Santoso menghela napas panjang. "Benar-benar pemilik Yusa Group, 100 juta saja begitu kecil baginya, dibagikan begitu saja."


"Seratus Juta? Tidak salah? Segitu kan tidak kecil." Marlin kembali merebut kartu tersebut.


"Beruntung sekali Yuna, kenapa harus dia yang seberuntung itu mendapatkan Samuel?" Marlin berdecak kesal.


"Lalu apa kau berpikir untuk menggantikan Yuna? Ck, itu tidak mungkin." cibir Nenek Santoso sinis.


"Apanya yang tidak mungkin, usaha tidak ada yang sia-sia." Marlin mengabaikan cibiran tersebut dan terus berkelana dalam pikirannya.


"Saya juga ingin memperkenalkan kedua orang tua saya yang mungkin Tuan dan Nyonya sekalian juga sudah mengenal beliau."


Setengah tirai di samping Samuel terbuka dan menampakkan semua anggota keluarganya.


Tuan Jovi dan istrinya berdiri mendekati Samuel.


"Sudah lama sekali tidak menampakkan diri, kalian apa kabar?" Tuan Jovi tersenyum ramah pada para tamu."


"Apa? I-itu kan Tuan Jovi Adiguna? Bagaimana bisa?" Semua orang terperangah setelah melihat sosoknya yang telah lama tidak pernah terlihat untuk beberapa tahun belakangan ini.


"Selamat datang kembali Tuan Jovi," ujar mereka serentak Sembari berdiri dan membungkuk 90 derajat memberi hormat, tak terkecuali Kakek Santoso beserta istrinya.


"Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini? Matilah aku." Kakek Santoso terus memejamkan mata, tubuhnya semakin gemetar hebat, tulang kakinya seakan tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya agar tetap seimbang.