
"Tuan Samuel, kami tahu maksud Anda mungkin baik membela mereka yang melakukan kebenaran, tapi mau dilihat dari sisi apapun, klan mafia itu tentu memiliki dampak buruk lainnya, seperti pembunuhan dan juga perampasan, apa Anda yakin klan terbesar itu tidak melakukan hal itu? Dari mana pemasukan mereka datang jika tidak melakukan perampasan harta terhadap sesamanya? Mereka tidak akan terus berdiri seimbang di dunia kegelapan itu tanpa uang, benar bukan?" Yang lain ikut bersuara, berusaha menghilangkan kecanggungan atas usul Samuel yang tentunya mustahil untuk disetujui, meski usul tersebut tegas dan berani, tapi tetap saja begitu gegabah, bagaimana jika saat datang mereka malah menjadi sasaran pembantaian terhadap klan itu? Mereka tentunya tak ingin mengambil resiko terbesar yang dapat membahayakan nyawa.
Samuel menghela napas kasar mendengar penuturan tersebut, walau bagaimana pun, apa yang dikatakannya adalah kebenaran, klan mereka memang melakukan pembunuhan dan perampasan terhadap mafia yang melakukan kejahatan beruntun, terlebih meminta mereka untuk datang ke markas Naga Merah adalah hal yang tak masuk akal.
"Baiklah, saya terus terang saja pada para pejabat sekalian. Sebenarnya saya adalah ketua dari klan Naga Merah, saya yang memimpin klan ini dari nol hingga sekarang, saya pula yang membiayainya dan menghidupi seribu pasukan selama klan ini berdiri, saya berharap bisa kerjasama dengan Anda-Anda sekalian," ujar Samuel tanpa basa basi.
Para pejabat itu seketika menegakkan punggung saling memandang dengan raut wajah yang tak bisa dituturkan, pengakuan Samuel kali ini begitu di luar dugaan, diantara mereka satu orang pun tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pria di hadapan mereka yang bahkan umurnya belum separuh jalan sebenarnya adalah seorang pemimpin di klan mafia terbesar di negara mereka sendiri, kini masalahnya pun tidak akan semudah yang mereka perkirakan.
"Tuan muda, apa yang terjadi? Perjanjian kita sebelumnya tidak seperti ini." Paman Jimmy berbisik pelan di samping Samuel, ia sendiri pun tidak mengerti apa yang diinginkan Samuel pada rapat kali ini, juga baru mengetahui ternyata Samuel memimpin sebuah klan mafia.
"Maaf tidak pernah menceritakannya pada Anda, aku butuh bantuan mereka agar pasukanku bisa bergerak bebas, Paman," jawab Samuel yang balas berbisik.
"Itu tak akan mudah." Paman Jimmy tak dapat berkata apapun lagi, hanya bisa menggeleng pasrah membiarkan Samuel menyelesaikan masalahnya kali ini, ia pun tak bisa menghentikan rapat ini begitu saja, sudah kepalang basah, butuh waktu untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan Samuel.
"Anda bisa membela sebuah klan mafia itu karena Anda adalah pemimpinnya, wajar saja. Namun, dengan apa Anda ingin mencapai kerjasama dengan kami? Apa yang bisa Anda buktikan untuk membuat kami setuju akan kerjasama yang belum tentu akan menguntungkan negara?" Salah satu dari mereka angkat bicara.
"Bukankah ini sangat menguntungkan negara? Lalu kamu dapat apa dengan kerjasama seperti ini?" tanya yang lain.
Samuel tersenyum tipis. "Pak, saya belum selesai mengatakan semuanya," lanjutnya lagi.
"Oh, baiklah. Silahkan." Ia pun menunduk dan kembali mempersilahkan Samuel berbicara.
"Mereka adalah orang-orangku, tentu saja aku tidak memberikan mereka kepada negara, hanya saja aku ingin mendapat persetujuan agar pasukanku mendapat pengakuan dari negara ini, tentu saja mereka akan menjadi tentara militer khusus hanya mendengarkan perintah dariku, jika negara ingin menggunakan kekuatan mereka, pemimpin negara juga harus secara resmi meminta izin dan persetujuan langsung dariku."
"Bukankah kerjasama ini saling menguntungkan? Seperempat penghasilan perusahaan ini selama setahun tidak bisa dianggap sedikit, kalian pasti tahu itu, kan?" Samuel menatap lekat pada para pejabat tersebut, mereka pun silih berganti saling menatap satu sama lain.
Benar-benar tak percaya anak muda yang di hadapan mereka ini begitu ambisius, bahkan kekuatan pasukan sebanyak itupun ingin ia kuasai sendiri tanpa ingin berbagi dengan negara, untuk apa? Namun, apa yang ditukarkan Samuel cukup sebanding, dengan adanya bantuan donasi dari Samuel, itu mampu memperbaiki keuangan negara bahkan mampu menutupi hutang-hutang pada negara lain. Begitulah pikir mereka.
Tentu saja Samuel memiliki maksud dan tujuannya sendiri, dengan ia memiliki setengah kekuatan negara ini, maka ia pun akan semakin mudah untuk melawan keluarga Adiguna suatu saat nanti dan kembali merebut tahta yang seharusnya diduduki oleh ayahnya, bukan sekelompok sampah yang mengaku-ngaku sebagai anggota keluarga.