The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Terluka



"Roy, malam ini kita bergerak, kau sudah mengatur pasukan untuk ikut bersamaku, kan?" Usai bertengkar dengan Yuna, Samuel pergi menemui Roy untuk mematangkan rencananya menyusup ke keluarga Adiguna.


"Sudah, Bos. Namun, kenapa Anda tidak membawaku juga?"


"Kau tunggu di bagian luar saja, setelah Kakek Ghani berhasil keluar, maka kau cepat bawa dia, ke mana pun yang penting bersembunyi di tempat aman. Ingat, jangan ceroboh, satu orang pun jangan sampai mengikuti jejakmu atau rencana kita akan gagal, kau mengerti?" Samuel memantapkan perintahnya.


"Baik, Bos. Aku sudah mengerti, tapi Anda teruslah sambungkan komunikasi padaku, jika sesuatu terjadi pada Anda, setidaknya aku tidak terlambat." Tatapan peduli dari Roy, selalu saja seperti itu dari dulu, membuat Samuel juga selalu percaya padanya.


Malam hari telah menyapa, sekitar pukul 01:00 dini hari, mereka tiba di kediaman Adiguna, masih seperti dulu, penjagaannya begitu ketat bahkan lebih ketat lagi setelah terakhir kali Samuel meninggalkan tempat itu.


"Anda yakin ingin masuk sendiri?" Roy kembali mengulangi pertanyaannya.


"Tenang saja. Kau tunggulah di sini." Samuel keluar dari mobil mengamati di sekitarnya.


Setengah jam kemudian, ia akhirnya berhasil memasuki tempat itu. Namun, saat ia mencari ke kamar yang biasanya Kakek Ghani berada, ia tak menemukan siapa pun di sana, tempat itu begitu luas, sampai pagi pun ia akan kesulitan mencari keberadaan Kakek Ghani, belum lagi waktunya sangat terbatas, ia tak mungkin menelusuri setiap tempat satu persatu.


"Roy, kita beralih ke rencana kedua," ujar Samuel sedikit berbisik melalui monitor komunikasi yang ia bawa.


Samuel menyalakan tombol penanda kebakaran di rumah itu dan ia pun duduk di sofa dengan santai menunggu seluruh penghuni rumah keluar.


"Tidak ada apa-apa, lalu kenapa bisa berbunyi?" Salah satu dari mereka bersuara ketika semuanya telah berkumpul.


"Tidak perlu bertanya, aku yang melakukannya." Samuel berdiri melepas masker dan topinya, agar mereka melihat dengan jelas siapa tamu spesial mereka kali ini.


"Samuel?" Paman tiri menunjuk ke arahnya dengan wajah terkejut.


"Kenapa? Tidak senang jika aku datang?" Samuel tersenyum miring.


"Kulihat setelah kepergianku, sepertinya kalian benar-benar menganggap diri sebagai tuan rumah, kalian lupa bahwa kalian hanya cadangan saja?"


"Kau, ngomong apa, hah?! Beraninya kau!" Riko, sepupu Samuel terlihat kesal.


"Ini lagi satu, anak haram yang berharap dapat harta warisan, tidak tahu malu," ledek Samuel merasa puas melihat wajah kesal mereka.


"Bangsat, beraninya kau!" Sepupunya tampak ingin memukuli Samuel, tapi dicegah oleh ayahnya.


"Benar-benar tidak cocok menjadi anggota keluarga Adiguna, selain tak sopan, lidahmu juga ternyata tidak pernah disekolahkan."


"Kau mau apa? Hukumanmu belum berakhir, beraninya kembali ke sini." Pamannya angkat bicara.


"Hukuman menjijikkan itu apa kau pikir aku peduli? Aku datang ingin membawa Kakek Ghani keluar dari sini, serahkan beliau atau aku akan menyerang kalian langsung," ujar Samuel memperingati.


"Ck, berani sekali. Dengan apa kau ingin menyerang? Kau datang sendiri bukankah sama saja bodohnya dengan ayahmu," sulutnya mengejek.


Samuel mengepalkan tangannya begitu geram, mereka masih saja berani menyinggung ayahnya tanpa berkaca terlebih dahulu.


"Dasar sekelompok pria dungu."


"Bos, aku sudah menemukannya. Beliau ditinggal di gudang paling belakang." Roy memberitahukan lewat monitor setelah berhasil menyelundup ke area pemantauan cctv.


Beberapa pasukan langsung bergerak ke arah gudang setelah mendapat pemberitahuan dari Roy.


"Siapa yang mau berduel denganku? Jika aku menang, serahkan Kakek Ghani, jika kalah, aku akan pulang dengan tangan kosong, bagaimana?" Samuel memberi tantangan.


"Biar aku." Sepupunya segera angkat suara dan maju menerima tantangan.


Akhirnya setelah lewat setengah jam Samuel pun mendapat pemberitahuan dari pasukannya bahwa Kakek Ghani berhasil dibawa pergi menuju ke markas. Samuel tak menunda waktu lagi, ia sengaja berpura-pura kalah agar mereka tak curiga.


"Baiklah, aku mengaku kalah, tapi di lain waktu, aku akan menantang kalian kembali, tunggu saja." Samuel berbalik badan ingin meninggalkan mereka.


"Sialan!" Paman tirinya seketika melesatkan tembakan ke arah Samuel dan tepat mengenai punggung Samuel.


"Berani sekali." Samuel menggeram menatap Pamannya dengan sorot mata yang dipenuhi aura pembunuhan.


"Kau menipuku, ke mana kau bawa orang tua itu? Berani kau membawanya kabur, hah?!" Ia berteriak kesal pada Samuel. Baru saja bawahannya memberi informasi bahwa Kakek Ghani hilang dari tempatnya.


"Samuel berbalik melesatkan tembakan ke arah pamannya, itu berhasil mengenai dada bagian kanan.


"Sialan!"


"Mendengar tembakan dari Samuel, pasukan yang tadi diperintahkan untuk diam-diam mengikuti Samuel, keluar dari persembunyian dan mengepung orang-orang itu.


"Bagaimana ini, Kak? Ternyata dia membawa banyak orang yang semuanya membawa senjata, kita semua tidak ada yang bawa senjata selain dirimu." Salah satu adiknya berbisik.


Samuel terus menembakkan senjatanya ke arah semua barang meski menahan rasa sakit pada punggungnya, tapi hal itu juga berhasil membuat mereka semakin takut dan tak berani untuk bergerak.


"Cukup!" Pamannya seketika mengangkat pistolnya tinggi-tinggi.


"Aku menyerah." Lalu ia lemparkan senjata tersebut ke lantai.


"Kalian tangkap mereka semua, masukkan ke penjara bawah tanah, ini peta rumah untuk membantu kalian menemukan tempatnya." Samuel memberikan gulungan kertas ke salah satu pasukannya.


Setelah berhasil membawa semua orang itu pergi, Samuel akhirnya berpegangan di tembok menahan sakit di punggungnya.


"Roy, kau datang ke sini, aku mendapat tembakan dan kau perlu mengeluarkan pelurunya dari tubuhku." Samuel kembali menyambungkan Monitornya pada Roy.


"Baik, Bos. Anda bertahan sebentar, lima menit saya akan tiba ke sana."



"Pa, apakah Samuel ada menghubungimu? Kenapa sampai sekarang ia belum juga kembali?" Yuna tampak cemas menunggu kepulangan Samuel hingga menghubungi ayahnya di tengah malam.



"Tidak ada, kenapa dia meninggalkamu sendiri di rumah?" tanya ayahnya lagi.



"Yuna tidak sendiri, Pa. Lagian bukan itu yang Yuna pikirkan, Yuna khawatir terjadi sesuatu padanya, apalagi ponselnya sulit dihubungi."



"Mungkin dia banyak urusan, kamu tahu sendirilah, dia orang penting di negara ini, pasti banyak yang mencarinya, mungkin sebentar lagi pulang, kau tidur saja, jaga kesehatanmu," titah ayahnya.



"Ya sudah, Pa. Yuna tutup dulu." Sambungan telepon mereka pun terputus.



"Kau ke mana, Sam? Apa kau sungguh marah padaku hingga tak ingin pulang ke rumah? Apa yang harus kulakukan sekarang?" Yuna terus berbalik gelisah di tempat tidurnya memikirkan Samuel yang entah ke mana perginya.