The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Terkepung



"Bos, bagaimana keadaanmu?" tanya Roy ketika keesokan paginya Samuel terbangun.


"Berapa lama aku tidur?" Samuel mengernyit merasakan sedikit ngilu di punggungnya.


"Tiga jam, Bos."


"Kakek Ghani di mana?"


"Beliau di sana." Roy menunjuk ke sebuah ruangan yang sering digunakan oleh Samuel.


Sam pun berdiri dan berjalan pelan menuju ke sana, terlihat Kakek Ghani terbaring lemah.


"Kek, apa kau bisa mendengarku?" panggil Samuel sedikit pelan dan sopan.


Kakek Ghani membuka matanya menatap Samuel. "Jovi?" Suaranya terdengar begitu lemah dan serak.


"Ini Samuel, Kek. Jovi adalah ayahku."


Kakek Ghani tampak tersenyum lemah. "Anak Jovi sudah sebesar ini, kau benar-benar mirip dengan ayahmu." Tiba-tiba ia terbatuk dan Samuel memberikannya segelas air.


"Pelan-pelan saja, Kek. Jangan banyak bicara dulu, istirahatlah."


"Di mana ayahmu? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Kakek Ghani.


"Beliau sebentar lagi akan tiba."


Kakek Ghani tidak mengatakan apapun, meski tubuhnya tidak lagi bisa digerakkan, beruntung ia masih bisa bicara.


Tak lama kemudian, Tuan Jovi pun datang menghampiri Samuel.


"Bagaimana keadaan Kakek Ghani?"


"Hanya bisa berbaring dan bicara, selebihnya dia tidak bisa melakukan apapun, sepertinya kita cukup terlambat menyelamatkannya hingga keadaannya pun memburuk." Samuel hanya bisa menjawab lemah, tak bisa berbuat banyak untuk membantu kesembuhan Kakek Ghani.


Tuan Jovi menepuk pundak Samuel beberapa kali dan tersenyum. "Kau tidak perlu merasa bersalah, aku punya caraku sendiri untuk membantunya berjalan lagi." Tuan Jovi pun masuk menemui orang yang telah lama tak ia jumpai.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Yuna pasti mencariku, aku tidak menghubunginya kemarin."


"Paman, bagaimana keadaanmu saat ini? Apa mereka memberimu racun itu?" Tuan Jovi langsung bertanya.


"Ya, aku tidak tahu mereka akan selicik ini, maaf merepotkanmu."


"Paman tenang saja, aku akan membuatkan penawarnya."


"Di mana anakmu tadi?" Kakek Ghani mengalihkan pembicaraan.


"Dia pulang ingin melihat istrinya, takut orang rumah mencemasinya."


"Kau pergilah ikuti dia, akan ada sesuatu yang terjadi di rumahnya, jangan sampai menyesal di akhir." Meski terlihat lemah, tetap tidak bisa menutupi raut wajah Kakek Ghani yang mengkhawatirkan Samuel.


"Ada apa? Apa yang akan terjadi? Tapi aku harus meracikkanmu obat penawar dulu, Paman." Tuan Jovi pun ikut berdebar mendengar ucapan Kakek Ghani.


"Sudah, pergilah susul anakmu, jangan pedulikan aku, atau kau mau apa yang pernah kau alami dulu terjadi pada anakmu? Kau ingin anakmu menjalani pengobatan selama lima tahun seperti yang terjadi padamu dulu? Berpisah dari anak tidaklah mudah, bukan? Apa kau ingin Samuel merasakannya?" Kakek Ghani terus mendesak.


"Apa mereka menargetkan istrinya?" Tuan Jovi langsung menebak dan Kakek Ghani mengangguk mengiyakan.


"Aku akan segera kembali, Anda jaga diri baik-baik, akan kusuruh bawahan Samuel untuk meracikkan penawar untuk Anda." Tuan Jovi nampak panik, segera pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menghampiri Roy.


"Apa kau yang bernama Roy?"


"Iya, Tuan. Ada apa?" Melihat wajah cemas Tuan Jovi, Roy pun ikut panik.


"Ini resep obat yang perlu kau cari, setelah kau mendapatkannya, langsung saja racik sesuai dengan yang tertera di sini. Ingat jangan sampai ada kesalahan." Tuan Jovi memberikan secarik kertas pada Roy, Roy menerimanya dengan sopan dan berkata, "Baik, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik."


Di lain sisi, Samuel yang baru saja memasuki rumahnya, seketika mendapatkan kepungan dari berbagai arah, tubuhnya terjerat oleh perangkap yang sudah direncanakan dengan matang oleh sekolompok orang yang mengepung rumahnya.


Seseorang tertawa terbahak-bahak menatap Samuel yang tak bisa bergerak. "Ternyata ucapan Tuan besar itu benar, seseorang akan menurunkan tingkat kewaspadaannya jika berada di rumah sendiri." Ia kembali tertawa nampak begitu puas.


"Sialan," gerutu Samuel sembari menatap mereka dengan jijik.


Kali ini Samuel benar-benar tak mengira bahwa pamannya masih bisa mengerahkan bawahannya untuk mengepung ke rumah, saat ini ia masuk dalam perangkap, bahkan ingin meraih ponselnya untuk menghubungi Roy saja ia tak bisa bergerak sedikitpun.