
"Apa-apaan ini?" gumam Tuan Daniel yang tak terima akan pengakuan Zodi.
Tentu saja, siapa yang akan terima jika setelah susah payah mengundang sang petarung yang bisa diandalkan, tapi malah membuatnya bangkrut dalam satu malam disaat ia telah memberikan kepercayaan sepenuhnya pada petarung tersebut. takutnya Tuan Daniel akan muntah darah setelah seluruh hartanya benar-benar akan lenyap.
"Kau dengar itu? Dia mengaku kalah dan aku memenangkan pertandingan ini, kuharap kau tidak lupa akan perjanjian tadi!" seru Samuel sembari menyunggingkan bibir tersenyum puas sekaligus meledek.
Tuan Daniel berjalan ke arah Zodi dan Samuel dengan langkah cepat, tentu dengan raut wajah yang juga memerah.
"Tidak bisa, siapa yang tahu bahwa kau sebenarnya melakukan kecurangan pada pertarungan ini, atau jangan-jangan kau mengancamnya dengan menggunakan senjata tajam, dia tidak akan mengaku kalah begitu saja," Protes tiada hentinya, tidak ada yang mau menerima kekalahan begitu saja dengan taruhan seluruh harta, tak terkecuali Tuan Daniel yang kini benar-benar sedang menghantarkan kekayaannya menuju ujung tanduk dan siap untuk dijatuhkan ke dalam jurang terdalam dan tak akan ditemukan kembali.
"Apa kau berusaha mencari pembelaan atas kekalahanmu? Baiklah, aku paham, sangat paham jika kau tidak terima, tapi bukankah itu konyol jika kau menganggapku melakukan kecurangan atau membawa senjata tajam sementara ada begitu banyak manusia yang kau undang untuk menyaksikan pertarungan ini? Apa kau menganggap mereka semua buta hingga mempertanyakan soal kecurangan terhadapku, hm?" Samuel tentu saja tak akan tinggal diam disaat lawannya mulai mencari alasan untuk terlepas dari hukuman. Janji adalah janji, mau menggunakan apa untuk mengingkarinya di hadapan seorang Samuel, jika pun berani mengingkari, maka ia pun tak akan terlepas dari kejaran, mengingat berapa banyak prajurit mafia yang dikendalikan oleh Samuel sendiri, hingga dunia pun akan terasa begitu sempit disaat tidak lagi menemukan jalan pulang untuk kembali pada kenyamanan hidup, ia akan selamanya dihantui oleh rasa takut akan seramnya dunia mafia jika berani memberontak.
"Hidup Samuel!" Semua orang bersorak gembira.
"Tepati janjimu, Tuan Daniel!" seru mereka bersemangat.
Gembira akan mendapatkan bagian dari harta seorang konglomerat adalah hal wajar dan sangat manusiawi, mereka berbalik mendukung Samuel tentu saja ada kemauan, jika mereka tetap mendukung Tuan Daniel dan menjatuhkan Samuel, bukan berarti mereka akan benar-benar mendapatkan sesuatu dari Tuan Daniel, tapi jika sebaliknya, mereka akan mendapatkan dengan pasti apa yang sudah menjadi kesepakatan, dan Tuan Daniel tak akan bisa menyangkal apalagi membantah apa yang telah ditetapkan.
Tuan Daniel tentunya panik dan semakin panik melihat beribu orang kini telah berpihak pada Samuel, dan yang pasti tidak ada satu pun dari mereka yang mendukungnya, jika ia lari, tentu akan langsung diserbu, itu artinya jalan keluar agar tetap hidup hanya satu, yaitu memasrahkan semua harta bendanya untuk dibagikan dengan cuma-cuma dan pergi mengasingkan diri, hanya itu cara agar dia bisa hidup dan kembali memulai hidup baru sebagai seorang pemula yang tak memiliki harta sepeser pun, bahkan sendiri pun masih bingung bagaimana memulainya dengan tanpa sedikit uang, belum lagi namanya akan tercemar begitu buruk, bukan hanya di negara ini, tetapi juga di beberapa negara sekali pun.
"Kau ... ingatlah, suatu saat aku akan membalasmu berkali-kali lipat." Sebelum pergi meninggalkan Samuel, ia sempat melontarkan kalimat ancaman. Untuk apa? Mungkinkah berharap Samuel akan takut dan berubah pikiran kembali? Tapi sayangnya Samuel bukanlah lelaki yang goyah pada pendiriannya, apa yang sudah menjadi kesepakatan, maka terima dan diamlah saja.
Setelah memastikan Tuan Daniel menepati janjinya, barulah Samuel dan keluarganya pergi dari sana, tak lupa pula mengajak Zodi Tamoro untuk datang berkunjung di rumah mertuanya.
Tiba di depan rumah, Zodi mengedarkan pandangan ke sekeliling, diam sejenak lalu memandang Samuel dengan tatapan prihatin.
"Apakah selama ini Anda tinggal di tempat seperti ini, Tuan muda?" tanyanya.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya bertanya pada Tuan muda." Zodi tersenyum tipis dan menunduk ramah.
Terlihat Bu Rosi tampak kesal dan lalu diam setelah mendapat teguran dari suaminya, tentu saja Pak Fandi sebagai lelaki tahu betul siapa Zodi Tamoro, berani istrinya mencari masalah takutnya malah memancing harimau untuk mengaum.
"Sepertinya Anda hidup cukup layak setelah pergi dari sana," singgung Samuel bercanda.
"Ya begitulah, tapi tidak ada yang lebih baik selain menjaga singa cerdik yang sedang berkembang, seperti tempo dulu. Bahkan trik bertarung Anda menjadi semakin gagah saja, Tuan muda." Sembari mengikuti Samuel yang masuk ke dalam rumah.
"Anda duduklah di sini sebentar, aku segera kembali." Samuel berlalu menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu?" Yuna mengikuti Samuel dari belakang dan langsung bertanya.
Terlihat Samuel tersenyum tipis dan lalu menatap Yuna. "Kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, untuk sekarang kamu cukup jadi istriku seperti biasanya, menerima apa adanya, apakah bisa?"
Yuna tak menjawab dan terus menatap Samuel tanpa berkedip, Samuel mengerti dan melangkah mendekati Yuna. "Kamu tenang saja, aku tidak akan mengecewakanmu, akan kuceritakan semuanya di saat yang tepat."
"Percaya padaku, semua yang kulakukan demi keamananmu, jangan berpikir yang bukan-bukan, oke?"
Yuna menghela napas kasar dan menatap Samuel begitu lekat. "Aku hanya tidak ingin kamu keluar dari batas sewajarnya, kamu mengerti maksudku, kan?" Dan Samuel mengangguk pelan.
"Aku bukannya tidak suka kamu melawan dan membela keluargaku, tapi jika terus-terusan melakukannya dan mencari banyak lawan di kota ini, aku takutnya kondisi kita akan semakin sulit, kamu tahu sendiri aku dan keluargaku bukan orang besar, kami tidak punya apa pun untuk membelamu. Katakanlah kamu berhasil memukul mundur Tuan Daniel dari kota ini, tapi bagaimana jika ada dampak buruk setelah kejadian tadi? Sam, kamu tahu aku sekarang sedang mengandung, ada anak kita yang sangat membutuhkanmu, jika suatu saat terjadi suatu hal yang sangat buruk, bagaimana caraku menghadapinya? Bagaimana aku akan menjelaskan pada anak kita nanti jika kelak dia mencari ayahnya?" Yuna berkata penuh emosional, air matanya tercurah tanpa kendali, Samuel langsung mendekapnya berusaha untuk menenangkan.
"Selama aku masih bernapas dalam keadaan sadar, tidak akan aku biarkan terjadi sesuatu padamu dan anak kita. Kelak kita akan tetap bersama. Aku, kamu, dan anak kita."
"Aku memang bukan suami yang penuh akan keromantisan seperti suami orang pada umumnya, tapi aku berani jamin akan selalu ada untukmu, kamu paham apa yang kumaksud, kan?"