The Fools

The Fools
BAB 08



Erbio tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia menatap wajah damai Vee di dalam dekapannya itu. Cantik, kata itulah yang berada di benak Erbio. Vee terlihat nyaman dalam tidur, sehingga Erbio membiarkan wanita itu memeluknya dengan sangat erat sepeti guling, Erbio tidak keberatan sama sekali, malahan dia sangat menyukainya.


“Eungh,” Vee mulai mengerjapkan matanya dengan gerakan lambat, sedangkan Erbio kembali menutup matanya,


berpura-pura tidur.


“Sudah sore,” gumam Vee saat menatap langit jingga dari balik jendela kamar mereka yang tersikap, Vee


mengembuskan nafas panjang dan tersentak kaget.


“Bio?” gumamnya dengan menatap wajah lelaki di sebelahnya, tangannya terulur menyentuh rambut Erbio, perlahan tangannya semakin turun dan berhenti di bibir lelaki itu. Entah dorongan dari mana Vee mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir seksi Erbio.


“Sebaiknya aku membuat makan malam dulu, tadi kita sudah melewatkan makan siang,” Vee beranjak turun dan mengikat  rambut panjangnya asal-asalan. Wanita itu memakai kaos putih milik Erbio yang terletak di atas ranjang.


Erbio membuka kedua matanya dan mengintip Vee yang sudah menutup pintu kamar mereka, lelaki itu melebarkan


senyumnya dan menutup wajahnya dengan bantal bekas Vee. Erbio dapat merasakan harumnya wangi bantal Vee seperti pemiliknya.


“Selalu saja membuatku jatuh,” kekehnya dengan beranjak dari ranjang. Erbio membersihkan diri di dalam kamar


mandi. Saat memasuki kamar mandinya, Erbio kembali tersenyum saat bayangan dirinya dan Vee tadi pagi di dalam sana.


“Bisa bahaya kalau aku terus mengingatnya lagi,” gumamnya sebelum menghidupkan air dingin. Erbio berdiri di


bawah shower yang membasahi dirinya dengan air dingin.


Vee sudah selesai dengan masakannya, dia tidak memasak banyak. Hanya ayam kecap dan sayur sup, tiba-tiba dirinya menginginkan dua menu tersebut. Vee menaruh piring terakhirnya di ata meja makan, setelah itu dia beranjak menuju kamar untuk membangunkan Erbio yang juga melewatkan makan siangnya.


Vee sudah menyentuh gangang pintu, tetapi pintu  di hadapannya terbuka dari dalam membuat tubuhnya terdorong ke depan. Erbio terkejut dan langsung memeluk tubuh istrinya. Debaran jantung keduanya saling bersahutan, membuat mereka saling bertatapan untuk beberapa saat sebelim Vee memutuskan kontak matanya dan menarik tubuhnya.


“Makan malamnya sudah siap, aku ingin memanggilmu. Ayo,” Vee melangkah terlebih dahulu meninggalkan Erbio yang menyentuh dadanya yang masih berdebar.


Seperti tugas seorang istri biasanya, Vee mengambilkan Erbio makannya dengan bertanya sebanyak apa porsi


yang di inginkan lelaki itu. Erbio diam-diam tersenyum senang melihat Vee tidak menjauh lagi darinya, bahkan terasa semakin dekat.


“Segini?” tanyanya dengan suara yang mengalun lembut di telinga Erbio.


“Iya, sudah cukup,” Erbio menerima piring yang sudah lengkap itu. Dengan lahap lelaki itu menghabiskan makan malamnya yang terasa begitu nikmat. Semua masakan yang di buat oleh Vee selalu cocok dengannya dan menjadi makanan favoritnya.


“Apakah dia tidak rewel?” tanya Erbio dengan mengusap perut Vee yang sedikit menonjol itu, mereka sedang berada di ruang tengah menonton film super hero kesukaan mereka. Vee mengalihkan tatapannya dari televisi, kini menatap Erbio yang terlihat lebih tampan dan terkesan dewasa.


“Aku mencintaimu,” bisik Erbio di telinga Vee, tetapi wanita itu hanya diam dan enggan untuk menjawabnya. Setidaknya, Erbio sudah mengatakan sejujurnya.


***


Vee sedang di sibukkan dengan tugas-tugasnya yang merekap hasil rapat dua hari yang lalu, sebentar lagi perusahaannya akan menjalankan sebuah proyek yang sangat besar. Sehingga, tidak heran saat melihat hampir semua pegawai terlihat sangat sibuk sekali.


“Vee, kalau sudah selesai segera bawa ke ruangan bos. Beliau sudah menunggunya,” jelas sang manajer yang


menghampiri Vee di meja kerjanya.


“Baik, Manajer,” balas sopan Vee. Setelah manajernya kembali ke dalam ruangannya, Vee juga kembali fokus dengan pekerjaannya.


“Sudah sembilan puluh persen dan tinggal sedikit lagi! Semangat Vee!” serunya dengan menyemangati dirinya


sendiri. Wanita itu tidak menyadari ada seseorang yang tak sengaja berhenti untuk melihatnya saat bekerja. Dan… orang itu tersenyum geli melihat kelakukan Vee yang terlihat  menggemaskan itu.


“Yah… sudah selesai. Tinggal nunggu di cetak setelah itu ke ruangan bos,” gumam Vee dengan mergangkan otot-ototnya yang terasa sakit. Vee mengambil air minumnya yang berada di gelas, dia sering kehausan dan selalu menaruh gelas besar berisi air mineral.


“Segarnya,” Vee memejamkan matanya. Tak lama setelah itu, laporannya yang di cetak di bawa oleh OB kepadanya. Vee tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih.


Dengan langkah santai, Vee berjalan ke arah ruangan Erbio. Wanita itu mengetuk pintu dan saat mendapat sahutan dari sekretaris Erbio, Vee masuk ke dalam dengan sebuah map berwarna biru di tangannya.


“Siang, Bu,” sapa Vee dengan sopan kepada sekretaris Erbio yang kini tersenyum ramah padanya dan membalas sapaanya tak kalah hangat.


“Kamu sudah di tunggu sama Pak Erbio di dalam,” jelasnya yang di balas anggukan oleh Vee. Wanita itu mengetuk pintu ruangan Erbio dan mandapat sahutan dari dalam.


“Siang, Pak,” salam Vee dengan sopan, sedangkan Erbio tersenyum senang melihat ke datangan sang istri yang


sudah di tunggu sedari tadi. Erbio beranjak dari kursinya dan menghampiri Vee yang melangkah ke arah mejanya.


“Siang, sayang,” balas Erbio dengan mengecup kening Vee.


“Ini laporan yang kamu mau,” Vee menyerahkan map tersebut kepada Erbio.


“Aku akan membacanya dulu dan kamu duduklah di sofa, sekalian aku akan membuatkanmu susu dulu,” belum sempat Vee menjawab Erbio sudah pergi meninggalkannya. Vee hanya menghembuskan nafas kasar dan menggelengkan kepalanya.


“Dasar,” gumamnya. Pintu ruangan Erbio di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Vee menatap seorang wanita yang membuka pintu tersebut. “Nessa?!”