The Fools

The Fools
BAB 24



Vee mengernyitkan dahinya saat melihat Siska duduk di kursinya, tumben sekali wanita itu datang pagi dan sudah


duduk anteng di kursi miliknya. Tanpa menebak-nebak apa yang tidak di ketahuinya, Vee mendekati Siska yang memang berada di tempatnya.


“Akhirnya lo datang juga,” ujarnya dengan menatap Vee yang di sadari kehadirannya.


“Ada apa? Tumben lo datang pagi sama duduk di kursi kerja gue,” Vee menatap datar Siska yang kini menatapnya sinis. Bahkan wanita itu terang-terangan menilai penampilannya dari atas sampai bawah sambil berdecak.


“Ini dia selingkuhan pak Erbio,” sinisnya membuat Vee sama sekali tidak mengerti.


“Apa maksud dari perkataan lo itu? Gue gak ngerti,” Siska tertawa hambar mendengar kata yang di lontar Vee


padanya.


“Lo gak usah ngelak lagi Vee! Gue udah lihat semuanya!” serunya dengan memegang bahu Vee dengan sedikit mencengkramnya. Namun, tak membuat Vee meringis sama sekali. Vee tetap konsisten dengan ekspresi datarnya dan terlihat sangat tenang.


“Gue lihat lo di CFD kemarin, kalian terlihat sangat mesra. Pantas aja, lo tahu tentang status pak Erbio. Ternyata lo selingkuhannya, lo itu busk Vee! Wajah lo yang terlihat lugu dan tak tersentuh, ternyata hanya kamuflase yang lo buat sendiri,” Siska menepuk pipi kiri Vee dengan pelan seakan menyadarkan wanita itu.


“Lo hebat bisa peranin itu semua, pantas aja gue sering lo ke ruang pak Erbio dan saat keluar lo pasti lama. Bahkan, terakhir kali gue lihat penampilan lo sangat berantahkan. Ternyata lo main kebo di kantor, ckckck. Gue gak nyangka lo ternyata sangat murahan Viola Leony,” decaknya yang sama sekali tidak membuat Vee marah atau terluka.


“Oh, ternyata lo udah sadar ya? Syukur deh, kalau begitu lo gak bisa deketin Erbio lagi,” jelas tenang Vee yang


tetap menampilkan wajah datarnya.


“Lo ngakuin kelakuan lo sendiri, Vee?! Wah… gue cukup kagum dengan keberanian lo kali ini. Tapi, ingat satu hal!


Kalau lo bisa jadi selingkuhan pak Erbio, maka gue juga bisa dan kita lihat aja nanti. Siapa yang akan di pilih olehnya,” Siska beranjak dari hadapan Vee saat kantor mulai ramai.


“Lo **** banget jadi wanita, Siska. Mana ada gue jadi selingkuhan? Yang ada gue minta cerai langsung ama laki gue,” kekeh Vee dengan menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran absurb rekan kerjanya itu.


“Well, gue ikutin permainan lo dan kita lihat sendiri,” Vee tersenyum miring dan duduk di kursinya. Wajahnya terlihat memerah, karena dia menahan tawanya yang akan pecah. Dirinya tidak ingin di anggap gila, karena menertawakan kebodohan temannya itu.


“Kenapa lo? Kesambet gara-gara datang kepagian?” tanya Enda yang baru datang dan menatap heran ke arah Vee


yang terus-terusan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Vee tersenyum kecil dan mendekatkan dirinya pada Enda.


“Tadi ada Siska yang labrak gue,” kata Vee membuat mata Enda melotot.


“Ngapain tuh orang labrak lo segala? Ada masalah apa lo sama tuh orang?” tanya Enda yang di balas kekehan geli dari Vee. Wanita itu masih tidak bisa menghilangkan ekspresi wajah Siska saat menceramahinya tadi. Sungguh sangat menggelikan.


“Dia ngiranya gue adalah selingkuhan Erbio. Kemarin, dia lihat gue yang lagi di CFD sama Erbio, entahlah bagaimana dia punya pemikiran konyol seperti itu,” jelas Vee membuat Enda tidak bisa menahan tawanya yang langsung pecah seketika.


“Lo bisa diam gak sih? Mau kita di tegur manajer!” Enda menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tetapi, wajahnya sangat aneh, karena menahan tawanya.


“Gue gak nyangka otaknya bisa kosong gitu gara-gara patah hati,” kata Enda.


“Patah hati?” bingung Vee yang di balas anggukan oleh sahabatnya itu.


“Kasihan juga yang tuh orang,” Vee menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


“Eh, tapi Siska tadi nantingin gue


buat dapatin Erbio sebagai seorang selingkuhan. Dia juga udah membanggakan


dirinya sendiri yang akan menang nanti. Awalnya gue mau acuh aja, tapi gue


merasa tertantang dengan kalimatnya. Jadi, gue mungkin berlagak jadi


selingkuhan suami gue sendiri nantinya,” ujar Vee.


“Lo serius?” tanya Vee yang merasa aneh dengan pemikiran sahabatnya itu.


“Tentunya,” senyum manis terpantri di wajah cantiknya. Enda yang melihat itu hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan menggedikkan bahu acuh.


***


Jam makan siang pun sudah di mulai, banyak sekali yang mengunjungi kantin untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan meminta asupan energi sebelum kembali berkutik dengan pekerjaannya yang masih menanti mereka.


“Vee, sepertinya Siska udah mulai beraksi tuh!” Enda menujuk ke arah depan mereka. Di mana terdapat sang suami yang sedang menikmati makan siangnya dan Siska yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Terlihat jelas Erbio hanya membalas ucapan wanita itu dengan dingin. Vee tersenyum kecil saat melihat wajah masam sang suami.


Tak selang beberapa lama, mata mereka saling bertubrukan satu sama lain. Terlihat binar bahagia dari tatapan


lembut yang di lemparkan Erbio pada sang istri yang membuat Vee tersenyum manis pada lelaki itu. Siska menyadari hal tersebut dan mendengus kesal.


“Gue turut bahagia dengar cerita lo yang udah baikan ama laki  lo! Adem gitu lihatnya,” ujar Enda yang di balas tawa kecil dari Vee yang masih menatap ke arah Erbio.


“Thanks, lo emang sahabat terbaik gue,” ucap tulus Vee.


“Berani juga ya si Siska terang-terangan dekatin suami lo di depan semua karyawan. Kalau gue sih mendingan langsung mundur, karena laki lo udah cuek dari awal. Tapi, Siska terlihat ngotot untuk dapat perhatian laki lo,” jelas Enda.


“Iya, lo benar. Tapi, gue sedikit kasihan sama dia. Kalau dia tahu gue bininya Erbio, mungkin Siska tambah galau.


Kok gue pusing ya?” gumam Vee dengan memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. Wanita itu meringis sambil memejamkan matanya.


“Vee, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?” Vee terkejut saat mendengar suara Erbio, saat dia membuka kedua


matanya. Erbio sudah duduk di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan khawatir. Apalagi, Siska yang terlihat geram melihat Erbio meninggalkannya demi mendatangi meja yang di tempati oleh Vee.


“Aku sedikit pusing aja,” lirih Vee yang memang tidak berbohong.


“Kita ke rumah sakit aja!” Erbio menarik lembut lengan sang istri.