
Seperti hari-hari sebelumnya Vee menyiapkan segala kebutuhan Erbio, pernikahan mereka sudah berjalan satu bulan. Namun, sikap Vee mulai berubah. Dia sedikit menjahui Erbio untuk memastikan perasaannya, bahkan saat Erbio bertanya ada apa dengan Vee. Vee hanya menjawab ini kemauan bayi dalam kandungannya.
Tapi, tidak untuk hari ini, Vee tidak lagi menjauhi Erbio. Tetapi, sekarang dia sedang memijat tengkuk Erbio yang memuntah makanannya. Sudah hampir satu minggu Erbio mengalami mual dan ngidam, sedangkan Vee sudah tidak merasakan semua itu.
“Kamu ijin dulu aja, kamu sangat pucat sekarang,” suruh Vee yang memberikan teh hangat kepada Erbio yang sedang terduduk di sofa ruang tengah.
“Aku ada pertemuan penting hari ini dan tidak bisa di wakilkan,” lirih Erbio yang masih sangat lemas itu.
“Tapi—keadaanmu!”
“It’s okay, aku baik-baik saja. Asalkan kamu memelukku!” senyuman penuh harap tersungging di bibir pucat Erbio dan perkataan tersebut membuat jantung Vee terasa berdebar begitu kencang. Hampir dua minggu dia tidur terlebih dahulu untuk menghindari Erbio, dia tidak siap dengan segala sikap yang Erbio berikan kepadanya.
“Vee!” panggil lirih Erbio membuat Vee tersentak sadar dan perlahan tubuhnya merapat ke arah Erbio, dengan ragu Vee mulai memeluk Erbio dan mengelus pelan punggung Erbio. Sedangkan Erbio tersenyum bahagia ketika Vee memeluknya erat, dia menghirup dalam-dalam aroma Vee yang sangat ia rindukan itu.
***
Vee menyelesaikan tugas-tugas lebih cepat dan tentunya tetap profesional, di ingin melihat keadaan Erbio yang masih pucat saat berangkat kerja tadi. Dia akan mengunjungi ruangan Erbio sambil membawa berkas yang akan di selesaikannya itu. Vee memejamkan matanya saat merasakan pusing di kepalanya, pikirannya terpecah belah dengan Erbio. Dia sangat mengkhawatirkannya.
“Tumben pekerjaan lo hampir selesai? Padahal jam istirahat masih kurang dua jam!” Enda melongok ke kubikel Vee untuk melihat sahabatnya itu, sebenarnya dia merasa aneh saja dengan perubahan Vee yang menjadi rajin dan cepat memainkan jarinnya di atas keyboard sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Oh,” balas Enda kembali ke tempatnya dan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya, dia sangat geli dengan kelakuan sahabatnya dan juga suami sahabatnya itu. Enda sangat yakin kalau mereka berdua akan bersatu lagi dan hidup bahagia, Vee-nya saja yang masih belum yakin dengan apa yang di rasakan. Sahabatnya itu memang keras kepala semenjak putus dengan Erbio dulu.
Vee tersenyum lega menatap hasil kerjanya yang sudah selesai, dia sudah mengirimkannya kepada salah satu OB untuk mencetak hasil laporannya. Dia tinggal menunggu laporan itu selesai di cetak, kemudian akan naik ke lantai atas untuk meminta tanda tangan Erbio dan melihat keadaannya.
Vee mengikuti langkah sekretaris Erbio masuk ke dalam ruangan Erbio, Vee menyembunyikan keterkejutannya saat melihat wajah pucat Erbio, begitu pun Erbio yang sama terkejutnya dengan ke datangan Vee. Dia tidak menyangka Vee akan datang ke ruangannya, membuatnya merasa bahagia, dia yakin Vee khawatir kepadanya.
“Kamu boleh ke luar!” perintah Erbio kepada sekretarisnya, setelah sekretaris Erbio ke luar. Vee mendekati Erbio dan meletakkan map berisi laporan yang di kerjakannya di atas meja kerja Erbio.
“Kamu semakin pucat! Kita ke dokter saja, ya!” Vee mengusap peluh di kening Erbio dengan sapu tangan yang selalu di bawanya. Erbio mencoba berdiri dari duduknya, namun tidak kuat.
“Kamu berbaring dulu!” perintah Vee kepada Erbio setelah dirinya memapah Erbio ke sofa panjang di ruang kerja Erbio, Vee mengambil air dan mulai mengompres Erbio. Dia merasakan suhu tubuh Erbio yang sangat panas, dia sangat terkejut dan ingin membawa Erbio ke dokter saja.
“Aku bikinin bubur dulu, kamu bisa tidur sebentar!” Vee melangkah ke pantry di ruangan Erbio dan mulai membuatkan bubur untuk Erbio. Setelah selesai memasak, Vee membangunkan Erbio dan menyuapinya. Awalnya Erbio menolak memakan bubur dan meminta pasta, namun Vee terus memaksanya dan membuat Erbio mau memakannya.
“Ini minum obat demamnya, lalu kamu bisa istrirahat!” Vee menyerahkan obat demam yang biasa tadi pagi di mimun Erbio, setelah selesai dia kembali mengopres Erbio.
“Kamu temani aku tidur!” pinta Erbio yang di balas anggukan setuju dari Vee, dia tidak dapat menolaknya. Erbio sangat membutuhkannya untuk saat ini, iya untuk saat ini. Tidak tahu lagi nanti, apa Erbio masih membutuhkannya? Atau tidak?