The Fools

The Fools
BAB 01



Tujuh tahun yang lalu...


Viola Leony atau sering dipanggil dengan sebutan Vee menunggu seseorang yang menaruh surat di laci mejanya. Isi surat itu meminta Vee untuk menemui si pengirim di taman dekat SMA yang baru tiga bulan terahkir ini ia masuki. Dia penasaran, hampir sebulan ini dia selalu mendapatkan sebuah surat dari seseorang yang ia tidak ketahui.


Sebenarnya ia tidak begitu menebak, karena ada seseorang yang selalu memperhatikannya setiap saat, bahkan sahabatnya pun tahu siapa itu. Tapi, Vee tidak begitu memikirkannya, ia takut salah orang lebih baik dia diam saja. Hingga setelah cukup lama ia menunggu seseorang duduk disampingnya, membuat Vee segera menolehkan pandangannya untuk melihat orang itu.


“Hai Vee,” sapa seorang lelaki dengan senyuman yang membuat lesung pipitnya terlihat, menambah kesan manis diwajah tampannya itu.


“Hai m—Erbiolan,” balas Vee setelah melihat name-tag di baju lelaki itu.


“Maaf, buat lo nunggu lama. Kenalin nama gue Erbiolan Ersent, bisa dipanggil sayang,” kekeh lelaki itu sambil mengulurkan tangannya dan membuat Vee mengernyit bingung dengan panggilan itu, aneh—kata tepat yang ada didalam pikiran Vee.


“Kalau gue Viola Leony, panggil Vee,” Vee menerima uluran tangan dan saat ia ingin melepasnya, tangannya digenggam dan menariknya untuk menuju ke penyewaan sepeda onthel disalah satu sisi di taman ini.


Setelah membayar Erbio menuntun satu sepeda onthel dan membawanya dihadapan Vee, “Ayo naik!” perintahnya saat sudah menaikinya. Vee masih memperhatikannya dan sepeda bergantian, dengan gemas Erbio menarik lembut tangan Vee menuntunnya menaiki sepeda.


Setelah di rasa Vee duduk dengan aman, Erbio menarik tangan Vee untuk memeluk perutnya. Sontak saja hal tersebut membuat Vee terkejut. Saat ingin menarik kembali tangannya Erbio mulai mengayuh sepeda  yang membuat Vee segera melingkarkan tangannya, “Bio pelan-pelan!” Vee mengeratkan tangannya, karena takut jatuh ini kali pertama ia menaiki sepeda.


“Bio? Wah panggilan sayang ya?” goda Erbio dengan mengelus tangan Vee yang berada di perutnya.


“Gak lucu,” Vee mencubit perut Erbio saat dirasa rasa takutnya mulai berkurang.


“Aww, sakit. Kok sadis—eh ada es krim,” Erbio menghentikan sepedanya didekat kedai es krim dan mengajak Vee untuk duduk di danau dekat kedai setelah membeli es krim.


“Tunggu dulu!” Vee berseru saat Erbio ingin merangkulnya, “Kita baru kenal, kenapa sikap lo kayak gini? Apa lo main ToD? Terus jalani Dare? Terus gue di jadikan target?” tanya Vee beruntun membuat Erbio tertawa kencang. Memang ada yang lucu? Dirinya juga bingung, kenapa dia ngikut aja saat ditarik sama Erbio. Padahal baru beberap saat yang lalu mereka berkenalan.


“Ekhm, gini—sebenarnya gue gak baru kenal. Lo tahu kan gue sering kirimi lo surat?” tanya Erbio yang diiyakan oleh Vee.


“Jadi, kita gak baru kenal. Gue sudah tahu lo dari awal kita masuk SMA, lo lupa gue orang yang ngasih lo kertas pas MOS dan air pas acara kebugaran setelah MOS,” lanjut Erbio membuat Vee menutup mulutnya.


“Oh iya, gue baru inget. Cuma lupa sih gak tanya nama lo waktu itu,” Vee tertawa saat mengetahui dirinya separah itu. “Tunggu—kenapa lo kirimi gue surat akhir-akhir ini,” Vee memicingkan mata menatap takut terhadap Erbio yang tertawa semakin kencang.


“Oke-oke gue akan jelasin semua, jadi gue ngirim surat itu agar lo ingat gue dan bisa buat lo jatuh cinta sama gue,” Vee langsung menatap Erbio bingung, “Tenang dulu, gue gak lagi main ToD dan jalani hukuman kayak dipikiran lo itu,” lanjut Erbio.


“Terus?” Vee mengalihkan pandangannya kearah danau saat Erbio menatapnya dalam, “Gue mau dekat sama lo!” tegas Erbio sebelum mengajak Vee pulang, karena sebentar lagi matahari akan tenggelam.


Semenjak hari itu Erbio selalu menyapa Vee saat disekolah, bahkan sering makan bersama saat jam istirahat. Sampai saat dimana Erbio mengajak Vee jalan disebuah pasar malam, diatas bianglala yang menjadi saksi dimulainya sebuah kisah diantara mereka.


“Vee, m—gimana ya?” bingung Erbio sambil mengusap tengkuknya gelisah.


“Kenapa Bio?” Vee dapat merasakan bahwa Erbio sejak mereka menginjakkan kaki di pasar malam selalu bersikap gelisah dan gugup.


“Hu—haa, Vee maaf ini mungkin tidak berkesan atau tidak romantis. Aku tidak tahu dalam hal seperti itu, ini pertama kali untukku dan kamu adalah orang pertama. Kamu adalah satu-satunya orang yang mampu membuat jantungku berdegup kencang, darahku mengalir begitu cepat dan selalu ingin melihat senyum diwajah cantikmu


saat kamu tidak berada didekat aku. Viola Leony maukah kamu menjadi pacar dari seorang Erbio Ersent, aku tidak akan memaksa kamu, kalau kamu belum bisa—aku bisa menunggu. Aku akan menerima dengan lapang dada apa itu keputusanmu,” Erbio berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


“Jadi, apakah kamu mau menjadi pacarku,” Erbio menatap manik mata Vee yang sejak tadi menatapnya.


“Bio, aku mau,” bisik Vee ditelinga Erbio.


“Terimakasih, sayang,” Erbio langsung merengkuh tubuh Vee kedalam pelukan, terdengar suara petasan saat mereka berada diatas. Membuat suasa semakin terasa romantis menurut mereka, alam bahagia dengan menampilkan warna-warna indah dari petasan, begitu juga dengan dua insan yang baru saja mengubah status mereka.


Hubungan Vee dan Erbio terus berjalan sampai mereka menginjaki kelas dua belas. Mereka juga sering bertengkar dalam masalah-masalah kecil, pastinya dalam hubungan ada pertengkarang kecil. Namun, mereka cepat berbaikan dan meminta maaf. Hubungan mereka membuat banyak orang merasa iri.


Namun, perlahan sikap manis dan senyum indah perlahan memudar. Disaat sahabat masa kecil Erbio, Nessa pindah ke sekolah yang sama dengannya dan mereka sekelas. Awalnya Vee memaklumi itu, karena sudah lama mereka tidak bertemu dengan Nessa mengikuti papi nya yang sedang ada kerja di luar negeri membuat dirinya harus ikut dan berpisah dengan Erbio.


“Bio, aku mau beli novel di toko biasanya kamu bisa gak antar aku nanti setelah pulang sekolah?” tanya Vee pada Bio yang sedang asik dengan ponselnya saat mereka berada perpustakaan sekolah.


“Maaf Vee, aku ada janji untuk mengantar Nessa untuk membeli baju ke acara ulang tahun Enda,” jawab Erbio yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Oh, ya sudah kalau begitu,” Vee kembali melanjutkan mencari rumus.


Vee pergi dengan Enda ke toko buku untuk membeli novel. Sepanjang jalan Vee hanya mendengarkan celotehan Enda tentang hubungan Vee dengan Erbio yang mulai merenggang semenjak datangnya Nessa. Tapi, Vee memaklumi karena Enda adalah sahabatnya.


“Iya gue paham, tapi gue gak boleh egois juga Enda. Gue gak mau hubungan persahabatan mereka rusak gara-gara gue,” Jelas Vee saat mereka sudah sampai di rak yang penuh dengan kumpulan novel.


“Terserah deh, awas aja sampai lo nangis gue pastiin kedua kaki Erbio gak berfungsi lagi,” ucap Enda membuat Vee tertawa kecil.


Saat Enda keluar sebentar menuju ke minimarket sebelah toko, Vee masih mencari novel yang ingin ia beli. Vee sudah menemukan novel yang dicarinya, namun gerakan tangan yang ingin mengambil novel itu terhenti saat netranya menangkap dua sosok yang ia kenal sedang bersenda gurau di kursi yang disedikan toko ini. Samar-samar Vee mendengar percakapan keduanya.


“Erbio, lo sayang sama gue kan?” tanya Nessa kepada Erbio yang sedang asik memainkan rambut Nessa.


“Sayang lah,” kekeh Erbio.


“Lebih sayang mana gue atau pacar ko itu?” tanya Nessa lagi.


“Malah ngambek, gue lebih sayang lo lah,” lanjut Erbio dengan menarik keras rambut Nessa sebelum bunyi ponselnya terdengar. Erbio melihat siapa yang menelponnya.


“Iya Vee?” sapa Erbio setelah mengangkat panggilan itu.


“Kamu di mana sekarang?” tanya Vee disebrang telepon


“Aku baru sampai rumah mau istirahat, nanti aku telpon lagi.”


Sambungan terputus begitu saja, Vee tidak tahu kenapa pipinya basah. Untuk pertama kalinya Erbio membohonginya, kalau dia jujur Vee masih bisa menerimanya. Kenapa Erbio berubah, bahkan dia memanggilnya Vee tidak seperti biasanya. Apa benar semua yang dikatakan oleh Enda, Erbio sebenarnya hanya menjadikan dirinya pengganti Nessa sebelum dia kembali. Tapi, Vee yakin bahwa Erbio tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Dia percaya itu, lebih baik di pulang saja daripada disini.


***


Pesta ulang tahun Enda begitu meriah, mulai dari tiup lilin hingga sesi dansa setiap pasangan yang datang di acara ini. Vee terdiam dikursi paling jauh dari tempat dansa menatap langit yang tak berbintang. Dia sedari tadi menahan air mata yang hampir jatuh sejak acara ini dimulai. Enda yang menemaninya saat ini sedang berbincang dengan keluarganya yang datang dari jauh.


Kenapa Vee sendiri dan tidak bersama Erbio? Jawabannya mudah, Erbio bersama dengan Nessa. Bahkan baju mereka pasangan, mereka juga sedang dansa dan saling menatap satu sama lain. Hati Vee mulai berdenyut dan air mata mulai keluar tanpa seizinnya, Vee masih bisa tersenyum saat Erbio bilang dia berangkat bersama dengan Nessa, bahkan sejak tadi Erbio tidak menyapanya saat bertemu. Sudah cukup, Vee memutuskan untuk pulang saja, dia sudah tidak sanggup.


Vee sudah di terima di salah satu perguruan tinggi ternama, malam ini ada acara pelepasan murid kelas 12. Vee sudah menyiapkan diri untuk memberi sesuatu kepada Erbio, hubungannya semakin jauh dan Vee ingin memberi keterangan hubungan mereka. Dia sudah bertekad dan menyiapkan ini dari jauh-jauh hari.


“Enda gue ke toilet dulu,” pamit Vee kepada Enda yang selalu bersamanya dari acara ini di mulai.


“Mau gue temenin?” tawar Enda yang d ibalas gelengan oleh Vee.


Vee tidak pergi ke toilet melainkan ke tempat dimana Erbio dan Nessa sedang duduk bersama. Saat langkahnya semakin dekat, Vee diam membeku mendengar pengakuan dari Erbio. Hatinya semakin hancur, sudah cukup ia berpura-pura tegar selama ini. Hati manusia pasti ada batasannya bukan, Vee sudah lelah.


“Erbio, gue suka sama lo. Gue sayang sama lo,” ucap Nessa menatap Erbio dengan pandangan yang tidak biasa.


“Iya gue tahu, gue juga sayang sama lo,” balas Erbio dengan senyuman manisnya.


“Tapi gue serius!” tekan Nessa.


“Iya, gue juga serius,” Erbio menatap Nessa serius.


“Lo mau jadi pacar gue?”


Sudah cukup, Vee tidak mau mendengarnya lagi. Dia memutuskan untuk pergi dan meletakkan barang yang akan dia berikan kepada Erbio di mobil milik Erbio. Ini memang terbaik, dia hanya orang lain bukan siapa-siapa. Setelah itu, Vee kembali ke tempat Enda sebelum dia mulai curiga.


“Lo baik?” tanya Enda saat melihat keadaan Vee.


“Gue oke.”


“Gak! Lo gak baik, kita pulang sekarang!” Enda menarik lengan Vee keluar dari acar yang masih belum selesai. Saat mereka berjalan, Vee berpapasan dengan Erbio yang menatapnya namun tak mengucapkan sepatah kata. Vee hanya tersenyum getir dan memilih mempercepat langkahnya sampai mendahului Enda yang menariknya.


Saat sampai di rumah Vee, Enda langsung mencecar Vee untuk menjelaskan semuanya. Vee sudah tidak tahan membendung semuanya, dengan tangis dia menceritakan semuanya kepada Enda. Enda yang baru mengetahui semuanya langsung menarik Vee dalam pelukannya dan ikut menangis.


“Maafin gue yang gak tahu semua ini,” ujar Enda yang mendapat gelengan dari Vee.


“Bukan salah lo, ini semua salah gue yang gak mau jujur dan terlalu larut dalam kesedihan, gue sekarang sudah nyerah dan melepaskannya. Ini yang terbaik menurut gue dan keputusan gue sudah bulat,” Vee menatap Enda dengan senyuman tulusnya.


“Gue bakalan temenin lo, gue gak akan biarin lo sedih lagi!” tegas Enda yang dibalas senyuman hangat oleh Vee.


“Makasih, Enda.”


“Ini yang dinamakan sabahat beb,” tawa mereka pecah.Vee beruntung mempunyai sahabat seperti Enda yang selalu ada dan mendampinginya.


***


“Vee!” pekik nyaring Enda di telinga Vee.


“Lima menit lagi!” seru Vee menarik kembali selimutnya, namun segera Enda tahan dan menariknya untuk duduk.


“Ini adalah hari penyambutan boss baru! gue sudah rapi, masa lo masih buluk gini!” cecar Enda membuat Vee mau tak mau melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan tidak lupa kakinya menabrak lemari di sebelah kamar mandi, sontak hal tersebut membuatnya langsung terbangun dan tawa Enda terdengar.


Mereka sampai di kantor satu menit sebelum jam masuk, untung saja tidak telat. Dan sialnya mereka terlambat untuk berbaris rapi sebagai bentuk penyambutan boss baru mereka, dengan wajah tegang mereka mengambil


posisi didekat manajer mereka yang menatap kedua berang. Alamat mereka akan kena teguran, perhatian mereka teralihkan kepada suara langkah kaki. Semua pusat perhatikan terarah kepada sesosok laki-laki yang berjalan berdampingan dengan pemilik perusahaan ini.


“Vee, kayaknya gue kenal,” bisik Enda ditelinga Vee.


“Lo lupa? Apa gimana? Itu kan teman kita waktu SMA,” balas Vee membuat Enda membulatkan kedua bola matanya.


“Astaga!” pekik Enda membuatnya menjadi pusat perhatian, sedangkan Vee hanya menunduk menyembunyikan wajahnya. Jangan sampai dia tahu bahwa Vee bekerja disini.