The Fools

The Fools
BAB 28



“Sayang?” suara mama Erbio mengejutkan Vee yang sedang termenung di kolam renang belakang rumah mama mertuanya. Dengan kedua kaki yang di masukkan ke dalam air, Vee merasakan dingin yang menenangkan dari kakinya, tetapi pikirannya masih berkelana pada sosok yang di lihatnya tadi pagi.


Vee sudah ingin menghampiri sosok itu, namun niatnya gagal, karena mama Erbio memanggilnya untuk masuk ke dalam. Dengan terpaksa Vee membatalkan niatnya tersebut, dia tidak akan bisa membantah mama mertuanya yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri, apalagi kalau Erbio tahu dirinya berada di luar sendirian seperti tadi. Sudah di pastikan lelaki itu akan memarahinya tanpa berhenti.


“Iya, Ma?” tanya Vee kepada mama Erbio yang baru datang membawa sepiring kue yang di buatnya tadi. Vee ingin membantunya, namun di tolak keras oleh mertuanya. Bahkan, dirinya di ancam akan di laporkan pada Erbio. Oleh sebab itu, Vee memilih berdiam diri di kolam renang dengan tenang.


“Kuenya sudah matang, ayo kita nikmati kue ini di gazebo!” kata mama Erbio dengan menunjuk ke arah gazebo yang tak jauh dari kolam renang. Vee menaikkan kedua kakinya, dia melangkah menyusul mama Erbio yang sudah duduk di gazebo.


“Ini teh melatinya, minuman kesukaanmu,” mama Erbio menyerahkan secangkir teh melati yang masih hangat kepada Vee saat wanita itu duduk di hadapan beliau.


“Mama kenapa repot-repot?” Vee merasa sungkan dengan semua perhatian yang di berikan mertuanya. Dirinya merasa sangat menyesal sudah merepotkan mertuanya dengan menginap di rumah beliau.


“Kamu bicara apa sih? Mama sama sekali tidak keberatan sayang, kamu adalah menantu mama, sekaligus anak perempuan mama. Jadi, jangan pernah merasa sungkan tau tak enak sama mama mau pun papa. Kami berdua adalah orang tuamu, sayang,” hati Vee menghangat mendengar semua itu.


Kedua orang tua Vee memang tinggal cukup jauh dari tempatnya saat ini, bahkan mereka sering menghubungi lewat ponsel. Karena, Vee tidak ingin kedua orang tuanya kelelahan dengan menjenguknya ke tempat Erbio. Setiap weekend, Erbio dan Vee menyempatkan diri untuk berkunjung di rumah orang tua Vee.


“Makasih, Ma,” Vee mengucapkan kata itu dengan tulus.


“Sama-sama, sayang. Kamu adalah putriku, istri putraku dan kesayang keluarga Ersent,” jelas mama Erbio dengan suara lembutnya.


“Bagaimana kondisi cucu Mama?” tanya mama Erbio dengan mengusap lembut perut menantunya. Vee tersenyum dan menatap perutnya.


“Sehat, Ma. Aku dan Mas Bio sudah check up, kata dokter sangat sehat,” terang Vee dengan suara bahagianya.


“Kalian sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya mama Erbio dengan sangat antusias.


“Kami berdua mengatakan agar dokter merahasiakannya, karena hal itu akan menjadi kejutan kami. Kami tidak terlalu berharap jenis kelaminnya, yang penting anak kami sehat dan di lahirkan secara normal. Vee mau menjadi ibu seutuhnya, Vee sudah mengatakan pada Erbio akan melahirkan secara normal,” jelas Vee membuat mama Erbio tersenyum bangga mendengar penuturan dari menantunya itu.


“Mama ikut senang mendengarnya, semoga kalian selalu di beri keselamatan dan kesehatan,” Vee mengamini doa dari mertuanya itu.


“Kamu jangan terlalu memikirkan tentang peneror itu, sayang. Biarkan Erbio dan Papa yang mengurus semuanya. Kamu jangan terlalu membebani pikiranmu, Mama tidak ingin kamu kenapa-napa lagi. Cukup dengan kebodohan putra Mama yang membiarkanmu terjatuh di kantin kantor waktu itu,” Vee terkejut dengan pernyataan mama Erbio.


“Mama kok tahu tentang di kantin?” tanya Vee dengan wajah bingungnya. Karena, dia tahu bahwa tidak ada yang tahu masalah tersebut, kecuali Erbio, Enda dan Vino yang tak sengaja melihatnya saat di rawat waktu itu.


“Erbio sudah mengatakan keadaan Nessa padamu?” Vee menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa-apa tentang keadaan Nessa saat ini, yang dia tahu hanya Nessa sudah kembali ke tangan orang tuanya.


“Nessa sudah tiada,” nafas Vee terhenti. Dia tidak salah dengarkan? Apa yang di katakan mama Erbio itu tidak bohong kan? Kenapa Nessa pergi begitu cepat? Ada apa yang sebenarnya? Itulah yang ada di pikiran Vee saat ini.


“T—tapi


bagaimana Nessa bisa tiada, Ma?” suara Vee mulai melemah. Bagaimana pun, dirinya sangat terkejut mendengar fakta tersebut. Dirinya masih tidak percaya Nessa akan pergi secepat itu, baru waktu itu dirinya bertemu kembali dengan wanita itu. Kini, dirinya sudah tidak bisa melihat atau mendengar kabarnya lagi.


“Nessa di temukan bunuh diri di dalam kamarnya sendiri, itu yang Mama dengan dari kedua orang tuanya,” jawab beliau. Vee kembali terkejut dengan hal itu.


“B—bunuh diri? Kenapa Nessa nekat begitu?”


“Sebenarnya Nessa mempunyai trauma yang sangat menyakitkan. Dua tahun yang lalu, Nessa di perkosa oleh seseorang. Tetapi, saat dirinya sudah di kenali oleh Nessa orang itu terus mengancam Nessa bahkan mengugurkan kandungan Nessa. Sungguh kejam lelaki itu, setelah mendapatkan terapi Nessa sudah mulai sembuh dan melupakan hal itu. Tetapi, sebelum kembali ke orang tuanya,” mama Erbio menahan nafasnya. Beliau tidak tega menceritakan fakta menyedihkan tentang teman putranya itu.


“Nessa kembali bertemu dengan lelaki itu, sempat histeris dan ketakutan. Setelah di bawa ke rumah sakit, akhirnya Nessa sudah mulai tenang. Tapi, tiga hari setelahnya, Nessa sudah tidak bernafas lagi. Wanita itu memutuskan nadinya sendiri,” Vee memejamkan matanya mendengar semua itu. Sungguh, dirinya tidak menyangka hal itu akan terjadi pada Nessa. Ada rasa penyesalan di dalam diri Vee, karena tidak tahu tentang hal menyakitkan itu.


“Kenapa Vee tidak di beritahu tentang itu Ma? Kenapa Erbio tidak mengatakan itu pada Vee?” tanya Vee dengan suara lirihnya.


“Erbio melakukan itu, agar kamu tidak kepikiran sayang. Mama sudah mengatakan kalau ingin menceritakan hal ini padamu. Tetapi, Erbio langsung marah-marah, karena tidak mau kamu kepikiran,” jelas mama Erbio.


“Lelaki itu sudah di ketahui, Ma?”


“Masih belum di ketahui, sayang. Lelaki itu bukan orang biasa, lelaki itu semacam mafia atau bisa mafia. Susah untuk menemukannya, bahkan Erbio sudah mencarinya sejak satu tahun yang lalu setelah mendengar hal itu. Namun, sampai sekarang masih abu-abu,” ujar mama Erbio.


“Mama lupa lagi buat air, kamu tunggu sini ya! Mama akan kembali cepat!” Vee hanya menganggukan kepalanya. Pikirannya masih kalut. Vee melangkah mendekati pagar belakang rumah mama Erbio yang bertatapan langsung dengan taman besar di dekat komplek perumahan tersebut.


Vee kembali melihat seseorang yang memakai hoodie duduk di kursi taman, orang itu menatap ke arahnya membuat Vee sedikit ketakutan. Dia merasa orang itu berbahaya.


“Hai, sayang?” Vee tersentak kaget mendengar suara itu lagi.