The Fools

The Fools
BAB 02



Suasana kantor kembali kondusif, setelah perkenalan boss baru mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Tidak lupa dengan Enda dan Vee yang sekarang berada diruangan manajer nya setelah membuat kesalahan dan keributan. Vee lebih banyak diam dan hanya mendengarkan teguran manajernya. Suasana


hatinya sedang buruk hari ini, dia rasanya ingin pulang dan bermalas-malasan saja diatas kasur atau dia mengajukan surat pengunduran diri saja, opsi terakhir itu sangat tepat pikir Vee. Namun, dia tidak tega meninggalkan Enda bekerja disini tanpa dirinya, Enda sudah sangat bahagia bekerja disini tidak mungkin ia menghambat kebahagian sahabatnya demi kepentingannya sendiri.


“Vee! Kamu mendengarkan saya?” tegur manajer saat Vee tidak meresponnya.


“Iya pak,” sahut Vee seadanya dan menatap manajernya sekilas, katakan saja ia tidak sopan. Tapi, dia sedang dalam keadan tidak baik-baik saja untuk saat ini.


“Vee kamu keruangan boss sekarang!” seru manajernya dari telepon di meja Vee.


Vee menatap pintu didepannya, sudah sekitar sepuluh menit ia berdiri didepa pintu dan tak berniat untuk mengetuknya. Setelah cukup lama ia melamun, tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu. Namun, hanya melayang diudara saat pintu tersebut dibuka dari dalam. Vee menarik kembali tangannya dan menunduk hormat kepada boss barunya yang membuka pintu itu.


“Masuk!” perintahnya dan kembali duduk di sofa didalam ruangan ini.


“Bapak memanggil saya?” tanya Vee menunduk hormat dan berdiri didekat pintu.


“Saya menyuruhmu masuk dan duduk disofa hadapan saya!” perintahnya dingin dan menatap Vee yang enggan untuk melakukan apa yang di perintahkan.


“Saya perintahkan kamu untuk masuk dan duduk dihadapan saya!” suaranya mulai meninggi membuat Vee terkejut dan segera melaksanakan perintahnya.


“Bapak memanggil saya?” tanya Vee lagi dengan menatap datar sang boss.


Sang boss tidak menjawab, melainkan menatap tajam Vee yang juga menatapnya. Vee mulai jengah sudah lima belas menit mereka sama-sama terdiam dan saling menatap. Vee memejamkan matanya untuk menahan emosinya. Apa dia dikerjai? Untuk apa dia dipanggil kalau hanya menjadi patung yang hanya berkedip saja didalam ruangan ini.


“Kalau tidak ada yang bapak bicarakan saya permisi,” ucap Vee beranjak dan menuju pintu untuk keluar, tapi saat


tangannya hampir menyentuh ganggang pintu terdengar suara ‘klik’ pintunya terkunci.


“Aku gak mau kamu terlalu formal! Aku mau bicara serius!” ucap boss nya membuat Vee mau tak mau kembali duduk di tempatnya tadi.


“Baik, apa yang mau dibicarakan?” tanya Vee menatap lawan bicaranya itu.


“Apa maksud kamu menulis surat ini!” serunya menaruh sebuah kertas berisi tulisan milik Vee.


“Bukannya sudah jelas isinya?” tanya Vee membuatnya tertawa sinis.


“Iya aku paham, tapi aku gak setuju!” sahutnya dan bangkit berpindah duduk disebelah Vee.


“Emang perlu persetujuanmu?”


“Vee! Apa yang pikirkan? Aku gak mau! Kita tidak akan pernah putus kapan pun itu!” tegasnya mencekram bahu Vee.


“Oh ya? Itu terserah kamu, tapi aku sudah menggap kita ini tidak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan munafik dan menyakiti hati perempuan lagi! Cukup aku jangan ada lagi, kamu sudah punya Nessa jangan egois jadi orang, Erbio!” Vee menepis tangan Erbio dibahunya.


“Nessa? Aku sama dia cuma sahabat tidak lebih, itu dulu. Sekarang aku sama dia bukan sahabat lagi,” jelas Erbio membuat Vee paham.


“Bukan sahabat, tapi pacar? Oh bukan, sepertinya tunangan? Calon ist—”


“Vee! Aku sama dia gak ada hubungan apa-apa selain mantan sahabat. Kamu salah mengartikan semua yang kamu lihat, please. Dengarkan penjelasanku dulu,” potong Erbio meraih tangan Vee, namun segera ditepis.


“Cukup! Aku sudah tahu, kamu hanya jadikan aku pengganti Nessa saja. Kamu tidak tulus mencintai aku, aku paham dan aku hanya orang luar di mata kamu.”


“Tidak! Aku tidak pernah mencintainya, aku hanya menganggapnya sahabat tidak lebih. Wanita yang aku cintai itu kamu Vee bukan Nessa atau siapa pun,” jelas Erbio membuat Vee tertawa hambar.


“Sahabat tapi lebih menyayanginya dan mau jadi pacarnya, memangnya itu bisa disebut apa?” sinis Vee membuat Erbio bingung.


“Maksudmu?”


“Iya, aku tahu memang aku bodoh selama ini. Kamu ingat saat aku mengajakmu untuk membeli novel? Kamu beralasan menemani Nessa dan aku lihat kamu berada di toko buku. Saat aku menelponmu dan menanyakan kamu dimana, kamu jawab sudah ada di rumah. Itu adalah pertama kalinya kamu membuatku menangis, untuk apa kamu berbohong? Kalau kamu jujur aku masih bisa memaafkannya, tapi tidak untuk kebohongan. Lalu kamu tidak mau berangkat bersamaku di pesta ulang tahun Enda, bahkan kamu tidak menyapaku sama sekali,” jelas Vee membuat Erbio menegang.


“Vee, maafin aku! Aku terlalu senang saat bertemu kembali dengan Nessa saat itu, aku tidak sadar sudah membuatmu terluka. Maafin aku, aku tidak berpikir sampai membuatmu menangis, maafin kesalahan aku!” sesal Erbio membuat Vee semakin tertawa kencang.


“Bukan itu saja, hubungan kita sudah semakin jauh. Bahkan aku merasa kita itu diibaratkan orang yang tak saling mengenal. Kamu tidak pernah memanggilku dengan sebuatan spesial lagi, kamu memanggil namaku saja. Saat


acara pelepasan SMA, aku sudah bertekad untuk menanyakan tentang kelanjutan hubungan kita. Namun, aku dikejutkan dengan pengakuan Nessa yang bilang kalau kamu mau jadi pacar dia. Saat itu juga, keputusanku untuk melepasmu semakin kuat dan aku sadar kalau aku hanya peran pengganti dikehidupanmu,” lanjut Vee yang menangis mengingat kenangan itu.


Erbio menarik Vee kepelukannya, namun Vee meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Tetapi, yang terjadi pelukan Erbio semakin erat dan membuat Vee sulit untuk bergerak. Erbio membisikkan kata maaf ditelinga Vee.


“Kamu salah paham, aku tak memanggilmu seperti itu karena kamu selalu protes dan bilang malu. Mulai saat itu aku tak memanggilmu seperti itu. Dan—untuk Nessa aku hanya anggap pernyataan dia sebuah candaan saja dan


dia sangat marah. Dia menjelaskan semuanya kalau dia benar-benar mencintaiku, namun aku tidak menganggapnya lebih dari sahabat. Aku tidak mencintai siapa pun selain kamu. Aku memang lebih sayang kepada Nessa, namun sayang dalam artian adik aku, aku sudah anggap Nessa sebagai adikku sendiri. Sedangankan yang


kucintai adalah Viola Leony. Aku mencintaimu, saat aku bertatapan denganmu aku tidak langsung menahanmu, itu semua, karena aku masih merasa tidak karuan saat mendengar pernyataan dari Nessa.


Saat aku ingin menyusulmu aku telah melihatmu masuk kedalam taksi bersama Enda. Aku berencana untuk pergi ke rumahmu, namun aku menemukan kotak yang berisi semua barang yang pernah aku berikan kepadamu. Dan—yang membuatku semakin kacau, saat aku membaca surat darimu. Aku kehilangan dua orang terpenting dalam hidupku, kamu dan Nessa, tapi kamu berhasil membuat menjadi seperti orang gila mencarimu disetiap tempat. Sampai aku tahu kalau kamu sudah meninggalkan kota itu,” pernyataan Erbio membuat Vee terdiam.


“Vee aku mohon kita kembali seperti dulu, aku minta maaf atas apa yang sudah aku perbuat terhadapmu. Aku berjanji akan menebus semuanya, aku akan datang ke orang tuamu untuk melamarmu menjadi ibu dari anak-anakku, kamu mau kan?” Erbio menatap Vee penuh harap.


“Maaf, hubungan kita hanya ada dimasa lalu. Sekarang aku sudah melupakanmu dan memaafkanmu, jadi anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain,” balas Vee membuat Erbio terdiam dan menatapnya tidak percaya.


“Kenapa Vee? Aku mengaku salah, tapi apakah tidak ada kesempatan untuk aku bersamamu lagi? Aku mohon Vee beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pinta Erbio dengan mencoba menggenggam tangan Vee, namun segera ditepis.


“Maaf, aku sudah mempunyai seseorang yang aku cintai. Dan ini cincin tunangan kami, sebentar lagi aku akan menikah dengannya,” jelas Vee dengan senyuman bahagia terpancar jelas diwajahnya.


“Aku sudah melupakan semuanya, jadi ku harap kamu dapat menemukan wanita yang mencintaimu dan jangan pernah menyakitinya, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang. Kamu juga bahagia dengan seseorang yang akan mendampingimu kelak,” lanjut Vee membuat Erbio tidak dapat menerimanya.


“Vee! Apa yang kamu katakan? Menurutmu semudah itu untuk melupakanmu? Tidak, dengan mudahnya kamu meninggalkanku dan tidak tahu apa yang sebenarnya. Sekarang dengan mudahnya kamu berbicara seperti itu? itu adalah hal yang kejam.”


“Iya, memang aku kejam sudah meninggalkanmu tanpa mendengar pejelasannya terlebih dahulu. Tapi, mana ada seorang wanita yang tahan dengan sikapmu kala itu. aku sudah mencoba menerimanya, kamu malah semakin menjadi. Mengabaikanku hampir satu tahun dan aku mencoba untuk memahami keadaanmu. Namun, aku salah! Aku terlalu bodoh bersikap baik-baik saja kala itu, padahal hatiku tidak baik sama sekali.”


“Kenapa kamu tdak bilang dari awal? Kenapa tidak mau jujur? Coba kamu bisa jujur, aku pasti akan mengerti dan merubah sikapku kepadamu kala itu,” frustasi Erbio dengan mencengkrang bahu Vee yang membuatnya meringis.


“Bagaimana aku bisa bicara? Kalau waktumu saja tidak ada untukku! Kamu selalu bersama dia dan menjauh dari aku. Kurasa pembicaraan kita sudah selesai, itu sudah lalu. Aku tidak bisa berlama-lama disini, tidak enak dengan sekretarismu di luar sana,” ucap Vee untuk mengakhiri pembicara mereka.


***


Jam istirahat—Erbio keluar menuju tempat parkir, ia akan makan siang diluar untuk menghindari Vee. Hatinya masih belum mampu untuk menerima semuanya, ia harus menghindari dulu untuk mencoba belajat merelakan Vee. Namun, hal tersebut malah membuatnya bertemu dengan Vee—bukan lebih tepatnya dia melihat Vee yang sedang tersenyum bersama laki-laki di restoran yang ia datangi.


“Mas langsung balik habis ini?” suara Vee mulai terdengar di telinga Erbio. Sialan—panggilan itu harusnya untuk dirinya bukan orang lain.


“Iya, masih ada proyek yang harus Mas survei. Tapi, Mas antar kamu dulu balik ke kantor,” jawab laki-laki itu dengan tangan mengelus rambut Vee yang tergerai.


“Mas Alan, kok perasaanku gak enak ya,” tangan Vee mengambil tangan Alan dan menggenggamnya.


“Kenapa, kamu sakit?” tanya Alan menatap Vee khawatir.


“Bukan, aku merasa akan terjadi sesuatu sama Mas. Memangnya Mas survei-nya dimana?”


“Tidak jauh masih sama kayak minggu-minggu lalu.”


“Mas hati-hati ya! Nanti kalau sudah sampai hubungi aku! Harus dan wajib!” tekan Vee sambil meremas tangan Alan menyalurkan bagaimana rasa khawatirnya.


“Iya, sayang. Ya sudah, Mas antar kamu dulu, ayo!” Alan menarik lembut tangan Vee, namun Vee menahannya. Alan kembali duduk dan menatap Vee yang memasang wajah sedihnya.


“Enggak usah, Enda sebentar lagi lagi datang. Aku mau menemani dia keluar sebentar.”


“Ya sudah, mas berangkat dulu ya,” pamit Alan dengan memeluk erat tubuh Vee dan dibalas tak kalah erat, sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Vee. Alan juga merasakan sesuatu hal yang aneh, seperti akan terjadi sesuatu.


“Mas hati-hati, jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai. Mas harus jaga kesehatan, minggu depan kita akan bagikan undangan pernikahan kita. Mas jangan makan sembarangan dan jaga kesehatan,” ingat Vee yang membuat Alan tersenyum, ia menatap calon istrinya dengan lembut dan hangat.


“Iya sayang, kamu juga jaga kesehatan dan jangan telat makan. Mas berangkat dulu ya, kamu jangan sedih begitu. Kalau kamu sedih Mas jadi tidak ragu untuk pergi,” desah Alan menatap Vee yang terdunduk sedih.


“Eh—jangan, nanti Mas dimarahi lagi. Aku gak sedih kok,” Vee tersenyum manis untuk menyakinkan Alan.


“Ya sudah, Mas pamint dulu. Kamu hati-hati,” pamit Alan lagi dengan mengecup kening Vee cukup lama.


“Iya, Mas hati-hati. Kalau sampai cepat hubungi aku ya!” ingat Vee lagi membuat Alan tertawa kecil, gemas dengan sikap tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ah—istri ya? Ia tidak sabar untuk menatap wajah Vee setiap dia akan tidur dan bangun tidur nantinya.


“Mas! Kok malah melamun?” suara Vee membuat Alan tersadar.


“Iya ini Mas mau berangkat, sampai ketemu nanti malam calon istriku,” ucap Alan dengan nada menggoda sukses membuat Vee merona.


Sedangkan seseorang yang mendengar pembicaraan antara Vee dan lelaki bernama Alan itu mulai mengepalkan tangannya. Ia masih belum bisa untuk merelakan Vee. Ia memutuskan untuk keluar dan tidak menyentuh pesanannya, ia juga tidak akan kembali ke kantor. Ia memutuskan untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


***


Sudah dua jam lebih Vee tidak dapat berkonsentrasi dengan apa yang ada di monitor, melainkan tangannya tengah sibuk mengetikkan pesan yang belum dibaca oleh orang di sebrang sana.


“Ck! Ini sudah dua jam lebih, kenapa Mas Alan belum memberiku kabar? Apa dia lupa? Akh—perasaanku semakin tidak tenang,” gumam Vee menatap ponselnya frustasi.


Tak selang berapa lama, ponsel Vee berdering dan dengan tarikan nafas panjang. Vee sudah siap untuk mengangkat dan memarahinya. Siapa suruh sudah membuat dirinya gelisah sedari tadi.


“Mas! Kenapa—Mama? Kenapa Mama menangis? Ada apa Ma?” omelan Vee terhenti saat yang menelponnya bukan Alan melaikan mama Ella—ibu dari Alan menggunakan ponsel Alan.


“A—apa? Tidak mungkin! Mas Alan pasti bercandain kita semua, Ma. Mama tahu sendiri bukan kelakuan Mas Alan yang suka jahil?” Vee tertawa hambar saat mendengar bahwa Alan kecelakan dan jenazahnya sudah siap di antar ke peristirahatan terakhirnya. Mereka sedang menunggu kehadiran Vee saja.


“Aku akan buktikan kalau ini hanya candaan Mas Alan,” Vee menutup panggilan dan mengambil tasnya. Ia segera menuju ke mobilnya dan melajukanya menuju kediaman Alan. Dengan air mata yang mulai membasahi pipinya


Vee dengan cepat mengendarai mobilnya. Bahkan, lampu merah ia langgar, ia tidak memikirkan keselamatannya saat ini. Yang ada di pikirannya cuma Alan.


“Mama!” suara Vee membuat semua orang yang sedang menangis menatap sesosok lelaki yang terbaring kaku di tengah-tengah mereka.


“Mas! Mas! Kamu lagi bercanda kan? Mas, bangun ini tidak lucu! Kalau kamu tidak mau bangun, aku tidak mau bicara lagi sama kamu! Mas, aku bakalan ngambek. Mas, bangun! Jangan gini, aku nangis lho Mas. Katanya Mas


Alan gak suka kalau aku nangis. Ini aku sudah nangis, kenapa Mas Alan gak hapus air mataku,” rancau Vee mengguncangkan tubuh Alan yang sudah kaku.


“Ikhlaskan dia, Nak. Bunda tidak tega lihat kamu begini,” Bunda Vee merengkuh tubuh anaknya yang terlihat rapuh.


“Nak, Mama mohon. Kamu ikhlaskan Alan, biar dia pergi dengan tenang. Mama sudah mencoba mengikhlaskan putra Mama satu-satu yang harus pergi terlebih dahulu, ini sudah takdir Tuhan,” Mama Alan mencoba untuk


menenagkan Vee.


“Mas, mungkin ini takdir kita. Aku sudah ikhlasin kamu, semoga kamu tenang,” lirih Vee dengan air mata yang terus mengalir, mengecup lama kening Alan.


“Selamat tinggal.”


Vee memang mengikhlaskan Alan, namun hatinya masih belum bisa. Dia hancur, kenapa orang yang dia sayang pergi lagi. Dia langsung pergi saat pemakaman Alan selesai, ia perlu menjauh untuk sementara. Dia sudah ijin


kepada orang tuanya untuk menenangkan pikiran dan dia juga meminta Enda untuk mengurus surat cutinya sementara.


“Kenapa takdirku seperti ini Tuhan? Kenapa kau renggut kebahagianku ukh-ukh, hahaha” rancau Vee yang sudah sangat mabuk, ia berada di sebuah club sendirian.


“Akh-pahit, gue harus keluar,” Vee berjalan melewati segerombolan manusia yang sedang menggoyangkan tubuhnya disetiap sudut tempat ini.


Langkah Vee terhenti saat seseorang mendekap dan menyeretnya kedalam sebuah mobil. Keadan Vee yang tidak sepenuhnya sadar, membuat orang yang mabuk berat itu tidak perlu repot-repot untuk membawanya. Mereka


sampai disebuah hotel yang cukup jauh dari club tadi. Orang itu tersenyum penuh kemenangan, “Kamu cantik sekali, sayang,” orang itu membelai wajah Vee yang tertutup oleh rambutnya.


“Kamu siapa?” gumam Vee sambil mencoba melihat wajah orang itu, namun penglihatannya kabur.


“Aku adalah pangeranmu,” orang tersebut mulai menyentuh Vee


“Jangan!” lirih Vee yang mulai merintihkan air matanya.


“Tenanglah, sayang.”