The Fools

The Fools
BAB 27



“Sayang, kenapa kamu lama sekali?” Erbio membuka pintu kamar mereka dan menatap sang istri terdiam dengan meremas ujung bajunya.


“Sayang, kamu kenapa? Ada apa?” Erbio menghampiri Vee yang terlihat melamun. Tangan hangat yang tiba-tiba


menyentuh pipinya membuat Vee tersentak kaget, dia menoleh ke samping dan menemukan Erbio menatapnya dengan khawatir.


“Sayang?” kata lembut itu membuat Vee kembali ke dunianya. Vee langsung memeluk erat tubuh Erbio yang berad di sebelahnya. Sedangkan Erbio membalas pelukan dari sang istri tak kalah eratnya. Tangannya mengusap lembut punggung Vee.


“Ada yang mengganggu pikiranmu?” bisik Erbio dengan suara lirihnya. Entah mengapa dirinya merasa ada yang tidak beres dengan tempat tinggalnya saat ini. Seperti ada yang memantau dirinya dan juga Vee.


“Tadi, aku mendengar suara seseorang. Tapi, aku tidak melihat siapa pun di sini. aku takut, Mas,” lirih Vee membuat Erbio semakin mengeratkan pelukannya.


“Suaranya itu perempuan apa laki-laki?” tanya Erbio yang di balas gelengan oleh Vee.


“Aku tidak tahu, suaranya seperti di samarkan begitu. Aku takut,” jawab Vee. Erbio memejamkan matanya, dia terus memutar otaknya untuk memikirkan siapa dalang di balik semua ini. Erbio tahu, pasti orang ini sangat tahu tentang hubungannya dengan sang istri. Apalagi sampai menaruh kotak di dalam apartemennya.


“Kamu tenang dulu, jangan bebani pikiranmu dengan hal yang konyol ini. Kita akan berangkat ke rumah Mama. Di


sana kamu akan aman, mungkin untuk sementara waktu kita tinggal di sana saja. Barang-barang kita biar asisten Mama yang membereskannya, aku tidak akan membiarkan kamu berada di sini. karena, di sini mulai tidak aman. Aku akan menyelidikinya dulu, kalau sudah aman kita akan pulang ke rumah baru kita. Bukan apartemen ini,” ujar Erbio dengan suara tenangnya.


“Kamu setuju kan?” tanya Erbio dengan hati-hati. Vee nampak berpikir keras tentang keputusan yang di ambil


oleh suaminya. Namun, dia tahu kalau itu adalah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Dia tidak ingin membahayakan kandungannya, Vee tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.


“Aku setuju, itu pilihan terbaik,” jawab Vee membuat Erbio tersenyum senang mendengarnya. Erbio menarik lembut lengan Vee untuk keluar dari kamar mereka.


“Ingat pesanku, jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat! Aku akan bilang ke Mama kalau kamu masih keras


kepala nantinya,” Vee hanya memutar bola matanya jengah.


“Iya-iya Pak Bos!” sahut Vee dengan nada kesalnya. Erbio hanya tersenyum kecil saat melihat wajah kesal dari sang istri yang begitu menggemaskan di matanya.


“Gitu dong senyum, kan makin cantik!” Vee melebarkan senyumnya, kepalanya di sandarkan pada lengan Erbio. Tangan mereka saling bertautan dengan erat, di dalam lift hanya ada mereka berdua. Erbio memberikan kecupan di dahi Vee beberapa kali.


“Hati-hati, sayang,” kata Erbio ketika mereka keluar dari lift.


“Iya-iya, bawel!” kekeh Vee yang di balas Erbio dengan mengacak gemas rambut indah Vee. Mereka sama-sama tertawa sampai suara seseorang menghentikan kegiatan mereka, baik Vee mau pun Erbio menatap orang tersebut dengan alis berkerut.


“Pagi Pak Erbio, Vee,” sapanya dengan nada ramah.


“Pagi Siska,” sapa keduanya dengan ikut tersenyum formal, tetapi Erbio menatap tajam Siska yang tiba-tiba berada di lingkungan apartemennya.


“Ada perlu apa kamu di apartemen ini?” tanya Erbio dengan nada datarnya. Tatapan Siska yang sejak tadi menatap


tautan tangan sepasang suami-istri itu kini mengangkat kepalanya menatap ke arah Erbio dan Vee secara bergantian.


“Saya tinggal di sini, tepatnya di lantai sepuluh,” jelasnya membuat Erbio sedikit terkejut. Pikiran Vee mulai berkelana kemana-mana.


“Mas, kamu sepemikiran denganku?” bisik Vee dengan sangat pelan tepat di telinga Erbio. Wanita itu menarik bahu


Erbio agar tinggi mereka menyamai.


“Sepertinya, iya,” balas Erbio dengan suara pelannya.


“Bukannya lo udah tahu?” tanya balik Vee dengan sinis.


“Oh,  jadi benar yang gue duga?” kata Siska dengan wajah datarnya.


“Iya, kamu benar. Saya sangat mencintai Vee,” ujar Erbio membuat Vee tersenyum penuh kemenangan. Erbio


mengira kalau Siska sudah tahu, Vee adalah istrinya. Jadi, dia hanya memperjelasnya saja. Sedangkan Siska merasa marah mendengar penjelasan dari Erbio.


“Mas, aku lelah berdiri terus. Kapan kita berangkatnya?” tanya Vee dengan merengek.


“Sabar sayang. Ya sudah, kami berangkat dulu. Selamat siang Siska!” Erbio menggandeng lengan Vee dengan mesra meninggalkan Siska yang menatap keduanya sangat marah. Tangannya sudah mengepal kuat, sehingga buku-buku jarinya memutih.


“Sialan! Gue gak akan biarin itu terjadi! Lihat aja, lo pasti jatuh ke pelukan gue!” geramnya dengan menghentak-hentakkan kakinya masuk ke dalam lift.


***


“Hati-hati, sayang,” kata Erbio saat Vee turun dari mobilny. Mereka sudah sampai di rumah mama Erbio, bahkan


wanita paruh baya itu sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut putra dan menantunya.


“Mama!” seru Vee dengan berlari kecil memeluk mama mertuanya. Sedangkan Erbio hanya mampu menahan nafas, takut-takut istrinya tersandung dan terjatuh.


“Sayang! Jangan lari-larian lagi! Aku tidak suka!” seru Erbio yang kini memeluk pinggang Vee setelah wanita itu


melepaskan pelukannya dari sang mertua yang kini tersenyum geli menatap pasangan di hadapannya.


“Jangan berlebihan deh! Aku tidak apa-apa kan? Lagi pula sandalku tidak licin sama sekali,” kata Vee dengan


nada  kesalnya. Erbio hanya bisa menghela nafas, istrinya memang keras kepala dan selalu membuatnya khawatir setiap saat.


“Sudah-sudah! Kalian berdua ini,” mama Erbio menggelengka kepalanya dan memilih masuk ke dalam terlebih dahulu. Erbio menarik Vee ke dalam pelukannya. Tangannya terus mengusap lembut punggung sang istri, yang membuat Vee merasa nyaman.


“Aku berangkat dulu, ya sayang. Kamu ingat pesanku kan?” Vee menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Tidak boleh kelelahan dan harus hati-hati,” jawab Vee dengan suara menggemaskan. Erbio tertawa kecil dan


mengusap lembut pipi lembut sang istri.


“Pintarnya, istri siapa sih?” gemas Erbio.


“Istrinya Erbiolan Ersent, lelaki tampan kedua setelah Ayahku,” sahut Vee dengan wajah polosnya membuat Erbio


terasa enggan untuk pergi ke kantor. Dirinya ingin terus memeluk wanita di dekapannya itu dengan sangat erat.


“Aku berangkat ya, sayang,” Erbio mengecup kening Vee, turun ke mata, hidung, kedua pipi dan terakhir adalah bibir manis milik sang istriny. Sengaja dirinya berlama-lama di tempat itu, dirinya juga menggigit gemas bibir yang selalu mengoceh kepadanya.


“Hati-hati Ayah!” seru Vee denga suara yang di miripkan anak kecil.


“Iya, Bunda. Jaga Bunda ya sayang,” Erbio mengecup perut Vee beberapa kali, sebelum kembali mengecup kening Vee lagi. Setelah itu, Erbio benar-benar pergi menggunakan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sang mama.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, langkah Vee terhenti saat melihat sesosok orang menggunakan hoodie yang kini memperhatikan dirinya. Vee menajamkan penglihatannya, namun dia tetap tidak mengenali mata yang menatapnya dengan intens.