The Fools

The Fools
BAB 15



Pagi-pagi sekali Erbio sudah berangkat ke kantor, lelaki itu juga menyempatkan diri untuk melihat keadaan Vee yang masih tidur di kamar tamu. Untung saja, Vee tidak mengunci pintu kamar tempatnya tidur, sehingga Erbio dapat mengetahui keadannya.


“Tuan Vino akan datang pukul setengah delapan, pak Erbio masih memiliki waktu kosong setengah jam. Apakah ada yang anda butuhkan?” sekretaris Erbio menatap takut-takut pada atasannya yang terlihat sangat menyeramkan beberapa hari ini.


“Tidak ada, saya bisa sendiri. Kamu kembali cek persiapan rapatnya!” sekretaris Erbio hanya menganggukkan


kepalanya, tak banyak bicara dan langsung melaksanakan tugas yang di berikan oleh Erbio.


Erbio kembali melamun, dirinya kembali mengingat reka ulang kejadian di kantin yang membuat hubungannya dengan Vee mulai renggang kembali. Tangannya mengepal kuat, bayangan darah yang keluar membuatnya merasa sangat bersalah.


“Hampir saja anakku dan istriku celaka,” geramnnya dengan tatapan tajamnya.


“Maafkan, aku sayang,” lirih Erbio saat mengingat tatapan kecewa dari Vee saat dirinya di bentak di depan karyawannya sendiri. Vee juga sudah masuk kera dua hari yang lalu dan wanita itu terlihat acuh dengan kejadian di kantin waktu itu.


“Pak, tuan Vino sudah tiba di kantor,” lapor sekretaris Erbio membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya. Erbio memerintahkan sekretarisnya untuk menyambut kedatangan Vino, dia izin ke toilet dulu untuk membasuh wajahnya yang terlihat lelah.


“Sekarang waktunya untuk fokus dengan kerjaan lo, Bio! Urusan Vee, lo harus mencari celah dan strategi untuk mendapatkan hati wanita itu lagi,” Erbio menyunggingkan senyum miringnya saat menatap pantulannya di depan cermin.


Erbio merapikan penampilannya dan melangkah lebar menuju ruang rapat, saat memasuki ruang rapat Erbio menahan nafasnya saat melihat Vee juga ikut serta di dalam rapat tersebut. Tentu saja wanita itu berpartisipasi, karena wanita itu yang menemaninya rapat pertama waktu di restoran kala itu. Mengingat waktu itu membuat Erbio ingin menghentikan waktu, agar dia bisa lebih lama bersama Vee yang terlihat bahagia.


“Tuan Erbio!” Erbio tersentak kaget dengan panggilan Vino yang cukup keras. Semua pasang mata menatap ke arahnya, tak terkecuali Vee yang menatapnya sangat datar.


“Maaf, saya sedikit kurang enak badan. Baiklah rapat hari ini kita mulai!” sesuai instruksi dari Erbio rapat pun di mulai. Mulai dari Erbio yang menjelaskan beberapa ponit-point penting dan Vino yang menyampaikan beberapa pendapat dan masukan.


Rapat berjalan dengan lancar dan proyek mereka akan di laksana dua hari lagi. Erbio menghembuskan nafas leganya, dia tidak menyangka hari ini terasa lebih cepat dan dalam sekejap proyek yang sudah di siapkan sejak lama, akhirnya selesai dengan cukup mudah.


“Baiklah sesuai dengan kesepakatan rapat hari ini, proyek akan di mulai dua hari lagi dengan waktu sebelumnya di


persiapkan untuk bahan-bahan dan juga praktek lapangan. Saya tutup rapat hari ini, selamat siang,” semua yang berada di dalam ruang rapat satu-persatu keluar dari sana. Termasuk Vee yang masih membereskan barang-barangnya.


“Apakah kita bisa makan siang bertiga lagi?” suara Vino terdengar di seluruh ruang rapat yang hanya tersisa mereka bertiga.


“Tentu saja,” jawab Vee dengan nada riangnya membuat Vino tersenyum senang, sedangkan Erbio hanya bisa menahan nafasnya.


“Bagiamana tuan Erbio? Apakah anda tidak keberatan?” Erbio menggeleng pelan.


“Saya tidak keberatan,” Vino mengembangkan senyumnya semakin lebar.


Mereka bertiga berjalan keluar dari ruang rapat dengan Vee berada di tengah-tengah lelaki tampan yang sedang asik berbincang masalah bisnis. Vee hanya menatap lurus jalannya dan mengabaikan beberapa karyawan yang masih berkeliaran di lorong kantor.


“Vee kamu ingin makan di mana?” tanya Vino membuat Erbio mengerutkan alisnya.


“Rumah makan padang bagaimana? Aku sangat ingin makan di sana,” jelas Vee membuat Vino terkekeh geli dan mengusap puncak kepala wanita itu. Erbio meradang melihat kejadian live di depan matanya sendiri.


“Kita bukan sekali bertemu, bahkan kita sering bertemu,” ujar Vino membuat Erbio mengepalkan tangannya dengan


kuat. Giginya bergemelatuk, dia sangat tidak suka dengan jawaban yang di lontarkan itu.


“Apa maksudnya ini?” nada suara Erbio mulai tak bersahabat. Vee menghembuskan nafasnya dan mengusap pipi Erbio dengan pelan, untung saja mereka berada di dalam lift. Sehingga tidak akan ada yang melihat kejadian tersebut.


“Kami tidak sengaja bertemu di minimarket waktu itu, lalu besoknya Vino tak sengaja melihatku yang sedang berada di taman rumah sakit bersama Enda. Mulai saat itu, kami menjadi kenal satu sama lain,” jelas Vee dengan suara lembutnya. Mendengar dentingan lift yang nyaring, Vee menarik tangannya dari Erbio dan melangkah keluar meninggalkan kedua lelaki yang masih berada di dalam lift.


“Tuan Vino, anda memang rekan bisnis saya. Tapi, untuk urusan Vee. Saya minta tolong jaga sikap anda, karena


wanita itu sudah tidak sendiri lagi,” Erbio keluar dari lift menyusul Vee yang sudah melangkah ke lobby terlebih dahulu.


“Tapi, saya melihat hubungan kalian tidak dalam keadaan baik,” Erbio menghentikan langkahnya saat Vino menyahut dengan suara datarnya. Lelaki itu mengepalkan tangannya, dia berbalik dan menatap nyalang Vino.


“Tahu apa anda dengan hubungan kami?” tanya Erbio dengan suara kerasnya, terbukti lelaki itu sedang di


selimuti emosi yang cukup kuat.


“Saya hanya memperkirakan saja, tetapi saat melihat reaksi anda yang berlebihan membuat perkiraan saya benar,


bukan?” Vino tersenyum sinis saat Erbio terlihat menghembuskan nafas beratnya untuk menahan emosinya.


“Jangan berspekulasi seperti itu, bisa saja tebakan anda salah!” titah Erbio yang sudah sedikit tenang. Vino terlihat diam untuk beberapa saat, membuat Erbio tersenyum miring melihatnya. Namun, hal itu tidak berlangsung dengan lama.


“Saya sedikit yakin, karena saya dapat melihat Vee lebih memilih di temani sahabatnya dari pada anda yang merupakan suaminya,” Erbio cukup terkejut dengan pernyataan itu. Tetapi, dia masih mencoba untuk terlihat tenang.


“Itu karena, saya banyak kerjaan dan anda tidak berhak tahu lebih tentang rumah tangga kami!” titah Erbio membuat Vino terkekeh sinis mendengarnya.


“Saya rasa anda sedang berbohong,” tuduhnya yang tepat sasaran.


“Terserah anda berpikiran seperti apa! Saya dan istri saya tidak jadi makan siang bersama. Kami akan makan siang


berdua, maaf karena tidak bisa menemani anda. Saya permisi dulu, selamat siang,” Erbio berlalu dari hadapan Vino yang kini menyeringai.


“Selamat siang, sampaikan salamku pada istri manismu itu!” seru lantang Vino yang di abaikan oleh Erbio. Lelaki


itu tahu kalau Vino sudah terlanjur jauh mencampuri kehidupannya, mengingat lelaki itu orang asing membuat Erbio menggeram marah.


“Yang sebentar lagi akan jatuh ke dalam pelukanku.”