
Vee hanya bisa tersenyum miris, saat Erbio tidak menjawab pertanyaannya malam kemarin, “Memang sudah buta,”
gumam Vee yang kini menatap Nessa yang berduaan bersama Erbio di Kafe dekat kantor mereka.
“Kalau gue gak mau nasi goreng Kafe ini, mana mungkin gue sudi nginjakin kaki di sini. Apesnya lagi ketemu dua
dedemit,” gerutunya dengan sesekali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan perasaan dongkol.
Kedua makhluk yang sedang asik berbincang itu tidak menyadari keberadaannya yang tidak jauh dari mereka. Vee memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya sejenak, tetapi kursi di hadapannya kini bergerak dan seseorang duduk di sana.
“Vino?” Vee melihat Vino yang duduk di hadapannya dengan senyuman manis di wajah tampannya. Vee juga membalas dengan senyum seadanya.
“Kenapa makan sendiran? Dan siapa wanita yang bersama suami itu?” tunjuk Vino ke arah Nessa yang tertawa renyah dengan leluconannya sendiri. Vee menganggap wanita itu mulai tidak waras, ngomong sendiri dan tertawa sendiri.
“Lagi gak mau di ganggu dan wanita itu! Entahlah mungkin nenek lampir,” jawab Vee dengan kembali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Vino menaikkan sebelah alisnya, lalu tertawa kecil seakan di sadarkan dengan situasi sebenarnya.
“Mau ku temani?” tawar Vino dengan nada gelinya.
“Tidak keberatan?” tanya balik Vee yang di balas gelengan kuat oleh lelaki di hadapannya itu. Vee hanya tersenyum kecil dan mengangguk satu kali.
“Apakah kamu ingin menambah lagi?” tanya Vino saat piring Vee sudah bersih tak tersisa. Mata wanita itu sedikit bergulir.
“Apakah boleh?” tanyanya dengan mata berbinar terang.
“Tentu saja, manis,” Vino mengacak rambut Vee dengan gemas. Setelah itu, Vino memanggil pelayan untuk membawakan nasi goreng lagi untuk wanita di hadapannya itu.
“Terimakasih,” Vee melebarkan senyumnya, memperlihatkan deretan giginya.
“Sama-sama manisku,” kekeh Vino yang hanya di anggap candaan saja oleh Vee.
Tak lama makanannya pun datang, Vee langsung mengambil piring yang berisi nasi goreng seafood yang masih panas itu. Tetapi, belum sempat dirinya memasukkan nasi goreng yang sudah berada di sendok tersebut. Tangannya langsung di tarik oleh seseorang.
“Kita kembali ke kantor!” seru Erbio dengan nada dinginnya. Bahkan belum sempat Vee mengeluarkan sepatah kata pun, lelaki itu sudah menariknya keluar dari Kafe. Tetapi, sebelumnya, Erbio sudah menaruh dua lembar uang berwarna merah di atas meja. Sedangkan, Nessa juga sudah tidak ada di sana, mungkin sudah pulang, pikir Vee.
“Kenapa bisa berasama Vino?” tanya Erbio setelah mereka berada di dalam mobil lelaki itu. Padahal jaraknya tidak
jauh dan bisa di tempuh dengan jalan kaki saja. Memang dasarnya Erbio pemalas, bahkan lelaki itu tidak pernah berolah raga atau sekedar joging pagi. Tidak seperti bayangan laki-laki di dalam cerita
novel yang sering di baca olehnya. Erbio memang berbeda, tetapi sangat bodoh, itu yang ada di benak Vee.
“Kenapa bisa bersama Nessa?” tanya Vee yang mengembalikan pertanyaan lelaki itu. Erbio menghela nafas kasar, sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan halaman Kafe.
“Nessa ngajak bertemu tadi, aku kira cuma sebentar aja. Tetapi, dia meminta menemainya makan siang,” jelasnya dengan sekali tarikan nafas.
“Kenapa makan di sana?” Vee tidak menatap lelaki di sebelahnya sama sekali.
“Lagi pengin, bawaan bayi,” jujur Vee dengan suara dinginnya.
“Kalau kamu ngidam. Bilang aku! Aku akan menemanimu dan memberikan apa yang kamu inginkan,” titah Erbio yang di balas kekehan sinis oleh Vee.
“Apa yang aku inginkan?” tanya Vee yang kini menatap ke arah Erbio, mereka sudah sampai di parkiran kantor dan mesin mobil lelaki itu baru saja di matikan.
“Tentu saja,” sahutnya dengan sangat enteng.
“Kalau aku minta kita cerai?” tanya Vee dengan nada sakartisnya. Erbio memukul stirnya dengan kencang dan menatap Vee dengan mata memerahnya, menahan amarah.
“Apa yang kamu katakan? Coba ulangi?” geramnya dengan memegang bahu Vee. Tidak mencengkram atau menekannya, karena lelaki itu tidak akan menyakiti Vee.
“Apakah kurang jelas? Aku ingin kita ce—,” belum sempat menyelesaikan ucapannya kini bibirnya sudah di bungkam oleh ciuman kasar. Ciuman yang menyalurkan amarah, kesedihan, ketakutan dan tidak suka. Vee hanya diam, tidak membalas atau pun membuka mulutnya, dia tahu ciuman itu membuat bibirnya terasa panas.
“Aku tidak mau mendengar kata itu lagi! Aku tidak suka dan tidak akan pernah menceraikanmu!” kata Erbio dengan menempelkan kening mereka.
“Bukankah perjanjian kita sudah jelas?” Vee mengingatkannya kembali pada perjanjian konyol yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Erbio.
“Aku tidak akan pernah peduli tentang perjanjian konyol itu! Selamanya aku tidak ingin kita berpisah,” tegasnya yang tak membuat Vee gentar sama sekali.
“Kamu bisa bersama Nessa, dia selalu mencintaimu dan bisa membuatmu tersenyum. Apakah aku salah?” Erbio memejamkan matanya sejenak, sebelum kembali membukanya dan menatap Vee dengan sangat tajam. Tatapan yang penuh amarah itu membuat jiwa Vee sedikit ketakutan, tetapi dia selalu menutupinya.
“Aku tidak akan pernah bersamanya, karena aku tidak mencintainya. Vee! Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang aku cintai hanya kamu dan buah hati kita. Jadi, jangan pernah berpikiran seperti itu. Aku tahu, kamu masih marah dengan Nessa. Tetapi, kamu sendiri yang memintaku untuk memaafkannya waktu itu kan?” seakan tertampar Vee tersadar akan kesalahan yang sudah di perbuatnya.
“Iya, aku terlalu termakan oleh omong kosongnya. Aku tidak tahu kalau dia memiliki banyak wajah yang bisa mengelabui orang. Aku menyesal sudah berkata seperti itu, kalau saja aku mempunyai kekuatan yang bisa membaca pikiran orang lain. Mungkin, aku mengucapkan kata lain,” jelas Vee dengan tertawa hambar.
“Kenapa kamu mengatakan kalimat itu? Apa yang membuatmu merubah persepsi tentang Nessa?” tanya Erbio yang kini sudah menjauhkan wajahnya kembali.
“Aku kan sudah mengatakannya padamu? Tapi, kamu seakan tuli dan tidak percaya padaku yang merupakan istrimu sendiri. Aku memang bodoh,” jelas Vee yang kini menundukkan kepalanya, dadanya kembali merasakan sesak.
“Aku masih tidak tahu, Vee. Tolong beri aku waktu untuk tahu segalanya,” lirih Erbio.
“Kalau kamu masih memerlukan waktu. Maka, aku juga memerlukan waktu. Tolong jangan ganggu aku dan aku akan kembali ke apartemenku. Aku akan tinggal di sana untuk beberapa waktu ke depan, permisi,” Vee langsung keluar dari mobil Erbio.
Erbio membeku di tempatnya, dia hanya menatap nanar punggung sang istri yang sudah menjauh itu. Dia memukul kepalanya sendiri ke kaca mobilnya.
“Maafkan aku yang masih belum bisa jujur padamu. Aku mohon, bersabarlah sebentar lagi. Jangan semakin menjauh dariku. Kita akan kembali bahagia, aku berjanji padamu, Viola Leony, wanita yang aku cintai yang menjadi istriku.”