
“Kamu jangan jauh dariku,” bisik Erbio yang di balas anggukan kecil oleh Vee. Mereka sudah berada di dalam tempat yang menjadi konser band favorit Vee malam ini.
Awalnya Vee diam saja, namun lama-lama dia mulai menikmati alunan musik yang selalu membuatnya tenang. Erbio tidak menatap ke arah panggung, melainkan menatap ke arah wanita cantik yang berada di dalam rengkuhannya malam ini.
“Cantik!” seru Erbio tanpa mengeluarkan suaranya. Dia sangat terpesona dengan aura yang di pancarkan oleh sang istri. Vee memang bertambah cantik, semenjak hamil aura kecantikan yang di tampilkan Vee sangat menawan. Tak heran banyak yang mencuri-curi pandang padanya, membuat Erbio menggeram marah melihat itu.
“Kenapa?” tanya Erbio ketika Vee menyandarkan kepalanya di bahu Erbio.
“Jangan cemburu, aku tidak melirik mereka! Aku hanya melirikmu, Mas!” titah Vee membuat Erbio tersenyum senang. Ternyata Vee sangat peka dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.
“Kamu memang sangat peka sayang,” bisik Erbio kepada Vee yang masih menatap ke arah panggung. Menikmati penampilan sang idola yang sedang membuat suasana malam ini menjadi panas dengan lagu yang memang berenergik.
“Aku senang malam ini, semuanya sangat indah. Sudah lama aku menantikan nonton konsernya, Makasih, Mas,” ujar Vee ketika mereka keluar dari sana. Erbio sudah mengajak Vee untuk berfoto dengan band favoritnya itu, namun Vee menolaknya. Dia sangat malas untuk berdesak-desakan dan mengantri.
“Sama-sama sayang. Kamu ingin ke mana lagi?” tanya Erbio dengan menggenggam tangan Vee. Mereka sedang menuju ke arah mobil mereka yang sedang di parkirkan. Cukup banyak orang di sana, memang tempatnya sangat luas. Tak heran beribu-ribu manusia kini mulai berdesakan untuk keluar.
“Aku pengin makan soto ayam kampung langgananmu, perutku mulai lapar,” kata Vee dengan mengusap lembut perutnya sendiri.
“Kalau begitu, kita akan ke sana sekarang!” Erbio membukakan pintu untuk Vee. Setelah itu dirinya memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Mobil mereka mulai meninggalkan tempat tersebut, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Erbio tahu kalau tempat makan langganannya itu akan buka sampai jam dua belas malam.
Dua puluh menit lamanya perjalanan yang mereka tempuh, kini mereka sudah berada di sebuah kedai yang cukup besar yang masih ramai akan pengunjung itu. Vee dan Erbio berjalan berdampingan menuju ke dalam.
“Mas Erbio, pesan berapa Mas?” tanya sang penjual yang umurnya sudah tidak muda lagi. Beliau sudah hafal
dengan salah satu pelanggan setianya itu. Namun, anehnya kini Erbio membawa seorang wanita yang sangat cantik di sampingnya.
“Kamu mau berapa?” tanya Erbio dengan suara lembutnya.
“Satu aja,” jawab Vee dengan tersenyum.
“Dua ya Mang, untuk istri saya tidak pakai cabai!” kata Erbio yang di balas anggukan oleh beliau.
“Jadi, ini istri Mas Erbio? Cantik ya, cocok sama Mas Erbio yang tampan,” kata beliau yang di balas kekehan oleh
Erbio. Sedangkan Vee hanya tersenyum kecil. Erbio menarik lembut lengan Vee menuju ke arah meja yang kosong. Mereka duduk bersebelahan, itu akan memudahkan Erbio untuk memeluknya.
“Aku ngantuk,” gumam Vee dengan menyandarkan kepalanya di bahu Erbio. Lelaki itu sedang bermain game di ponselnya, Vee hanya menatap malas ke arah ponsel sang suami.
“Jangan tidur dulu, kamu masih belum makan malam. Nanti kalau sudah makan, kamu boleh tidur di dalam mobil.
Nanti aku gendong,” ujar Erbio yang masih fokus dengan ponselnya. Vee mengerucutkan bibirnya, dirinya sudah sangat mengantuk sekarang.
“Makan dulu,” Erbio mengusap lembut pipi Vee yang hampir terlelap. Ketika membuka kedua matanya, Vee melihat dua mangkuk soto dua hadapannya. Seketika wajah ngantuknya hilang, di ambil alih dengan binar bahagia. Erbio hanya tersenyum melihatnya.
“Mau nambah?” tawar Erbio yang di balas gelengan oleh Vee.
“Ini porsinya besar dan aku sudah kekenyangan, sekarang aku ingin tidur,” Vee menguap lebar. Erbio tidak tega
melihatnya seperti itu, segera dia membayar makanan mereka. Setelah itu mereka kembali ke mobil.
“Sudah tidur,” kata Erbio saat dirinya baru masuk ke dalam mobil. Vee langsung memejamkan matanya dan terlelap ketika baru duduk di kursi mobil Erbio.
Vee melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, namun dia masih sangat tenang dengan mengusap
kepala Vee yang sengaja di tariknya untuk bersandar di bahunya. Jalanan malam ini memang sudah sepi, hanya ada satu dua kendaraan yang berlalu lalang.
Tak sampai empat puluh menit, kini mereka sudah sampai di rumah mama Erbio, lampu rumah sudah gelap. Satpam yang menjaga di posnya segera membukakan gerbang untuk Erbio. Erbio memarkirkan mobilnya di garasi yang masih cukup ruang.
“Sangat cantik,” gumam Erbio sebelum keluar dari mobilnya. Lelaki itu menggendong Vee memasuki rumah mamanya, Vee sama sekali tidak terganggu dengan Erbio. Tidurnya begitu pulas dan tenang.
Erbio meletakkan Vee dengan hati–hati di atas ranjangnya, dia melepaskan sepatu di kaki sang istri. Setelah itu
Erbio membuka jaket yang membungkus tubuh sang istri, karena Vee memakai kaos. Jadi, Erbio tidak perlu menggantinya. Dia juga membuka ssepatu dan jaketnya, setelah itu dia menyusul Vee yang masih terlelap.
“Selamat malam, sayang,” Erbio mengecup kening Vee cukup lama sebelum dirinya terlelap. Suara benda jatuh
membuat Erbio kembali membuka kedua matanya. Lelaki itu menajamkan pendengarannya, suara itu kembali terdengar.
Erbio menatap Vee yang masih tertidur pulas, dia menarik selimut tebal hingga leher Vee. Setelah itu, dia
turun dari atas ranjang. Erbio melangkah pelan menuju ke sumber suara yang berada di lantai bawah, lampu memang sudah mati semua. Namun, Erbio sudah sangat hafal semua sudut rumah tersebut. Jadi, dia tidak perlu menyalakan penerangan.
“Dari taman belakang?” gumam Erbio saat kembali mendengar suara itu lagi. Erbio melangkah dengan hati-hati menuju ke halaman belakang, sebelumnya dia sudah membawa tongkat baseball di tangannya yang memang di taruh di bawah tangga.
“Siapa itu?” gumam Erbio saat mengintip dari cela gorden yang langsung menuju ke arah taman belakang. Erbio dapat melihat siulet seseorang yang memakai hoodie sedang duduk di gazebo, Erbio memicingkan matanya. Lampu di halaman belakang masih menyala, jadi dia bisa melihat sosok itu.
“Sial, wajahnya di tutupi!” umpat Erbio saat tak dapat melihat wajah orang itu. Hanya matanya yang dapat dia lihat dengan jelas.
“Mata yang tidak asing,” Erbio membuka pintu yang menuju halaman belakang.
“Wah, ternyata kau yang datang sendiri!” seru sosok itu dengan menatap sinis Erbio.
“Lo siapa?” geram Erbio yang di balas kekehan oleh orang tersebut.
“Aku adalah malaikat pencabut nyawamu!” orang itu mengeluarkan sebuah pistol dan menembakkannya pada Erbio. Beruntung Erbio datang menghindarinya, sampai anak buah Erbio beradatangan saat mendengar suara tembakan yang sangat keras.