
Beberapa bulan berlalu, Vino mendapatkan ganjarannya dengan pasal berlapis. Pemerkosaan, pembunuhan, penculikan dan narkoba. Sehingga lelaki itu tidak akan pernah menghirup udara luar lagi, Erbio sudah menjami. Tidak akan ada yang bisa membebaskan Vino, walaupun dengan uang. Karena, Vino bukan berada di negaranya ini lagi. Dia di asingkan dan di tambahkan hukumannya oleh korban-korban yang melaporkannya.
“Perutmu membesar ya?” Erbio mengusap lembut perut sang istri yang sudah sangat besar itu. Dalam hitungan hari, Vee akan melahirkan buah hati mereka.
“Kalau gak besar itu bahaya, Mas!” kesal Vee saat Erbio malah mengusap yang lainnya. Sedangkan Erbio hanya nyengir tanpa dosa menatap wajah marah sang istri.
“Kata dokter kapar dedeknya lahir?” kini Erbio beralih memeluk tubuh sang istri dari samping dengan sesekali memberikan kecupan di pipi berisi sang istri.
“Satu minggu lagi,” jawab Vee dengan memainkan jamari Erbio yang berada di perutnya. Mereka berada di rumah
Erbio, kedua orang tua mereka juga menginap di sini semenjak kehamilan Vee menginjak usia delapan bulan.
“Kalau begitu, mulai besok aku akan ambil cuti untuk menemanimu di rumah. Aku ingin, di saat kamu melahirkan ada aku yang selalu setia di sisimu dan menguatkanmu,”tutur Erbio membuat kedua mata Vee berkaca-kaca mendengar kalimat yang sangat indah itu.
“Akh!” Vee meringis dan memegangi perutnya yang tiba-tiba saja kesakitan. Kedua orang tua mereka langsung
tergopoh-gopoh mendengar teriakan Erbio yang memanggil mereka. Vee terus merancau kesakitan dan Erbio terlihat sangat panik di sebelah Vee.
“Kenapa kamu panik Erbio? Cepat bawa istrimu ke rumah sakit! Dia akan melahirkan!” Erbio langsung tersentak dan menggendong Vee keluardari ruang tamu. Mereka semua melaju ke rumah sakit yang sudah menjadi tempat Vee mengecek kesehatan sang buah hati. Erbio tidak menyetir, karena lelaki itu terlihat sangat panik. Sehingga papanya yang mengambil alih kemudi.
***
Sudah satu jam lamanya Erbio menemani Vee yang terus meringis kesakitan. Lelaki itu tidak merasa sakit saat
tangannya di cengkaram, bahkan terluka oleh kuku-kuku indah milik sang istri. Erbio sangat tidak tega melihat wajah kesakitan istrinya yang juga berderai air mata. Sehingga, dia juga mengeluarkan air matanya.
tangga mereka. Bayi laki-laki kecil yang langsung menyapa kedua orang tuanya dengan tangisan yang sangat merdu itu sudah lahir ke dunia. Erbio meneteskan air mata bahagia dan mengecup lama kecing sang istri yang terlihat lemas.
“Terimakasih, sayang. Kamu sudah memberiku kebahagiaan yang tidak dapat di nilai oleh apa pun. Terimakasih sudah melahirkan putra yang sangat tampan yang akan memanggilku Ayah,” ujar Erbio dengan mendekap sang putra yang terlihat tenang di pelukannya. Vee tersenyum lemah melihat pemandangan itu.
“Aku cinta kalian, putraku Erlan Leonard Ersent,” kata Vee dengan suara lirihnya.
“Nama yang indah,” balas Erbio dengan tersenyum senang.
“Aku lelah,” setelah mengucapkan kata itu. Vee menutup matanya, Erbio langsung menyuruh dokter untuk memeriksa keadaan sang istri. Sedangkan sang buah hati kini sudah beralih di gendongan bunda mertuanya.
“Ibu Vee hanya kelelah. Sebentar lagi beliau akan sadar,” jelas sang dokter membuta Erbio menghembuskan nafas leganya.
“Kamu membuatku takut sayang,” gumam Erbio dengan mengusap lembut pipi sang istri yang mulai menggeliat. Vee membuka mata indahnya dan pemandangan pertama yang di lihatnya adalah tatapan sendu dari suaminya.
“Tentang perjanjian kita?” tanya Vee dengan hati-hati. Dia tidak ingin berpikiran bodoh lagi, dia sangat menyesal tidak mengikuti kata hatinya sendiri.
“Sudah aku bakar!” enteng Erbio yang di balass senyuman oleh Vee.
“Jadi?” Vee menaikkan sebelah alisnya menatap geli ke arah suaminya.
“Cerita kita happy ending.”