
Vee sedang membuat teh hangat di dapar kantor, dia bersama Enda yang kebetulan sedang membuat kopi hitam. Vee juga bercerita sedikit tentang hubungannya dengan Erbio yang membuat Enda tersenyum senang mendengarnya.
“Wah, gue ikut senang dengan kabar ini. Lo harus bisa berpikir dewasa, karena sebentar lagi lo akan jadi Ibu. Lo harus lebih jujur dan jangan mengedepankan emosi lo! Masih ingat sama anak lo, dia juga butuh ayahnya,” ujar Enda dengan menyesap kopi di cangkirnya. Vee tersenyum mendengarnya.
“Iya, lo benar. Gue terlalu egois selama ini dan gue selalu mencoba berlari dari masa lalu. Gue seakan lupa dengan pelajaran apa yang gue dapat dari masa lalu. Gue akan berusaha hilangin sifat buruk gue ini,” jelas Vee dengan menyesap teh hangat yang di buatnya.
“Kalian berdua mau tahu cerita gue gak?” tanya Siska, salah satu teman Enda dan Vee di dalam pekerjaan. Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tetap saja mereka menghargainya.
“Memangnya apaan?” tanya Intan teman dekat Siska yang baru masuk ke dalam dapur. Vee sama Enda hanya terdiam menunggu Siska berbicara, karena wanita itu terlihat sedang senyam-senyum sendiri, sesekali menutup wajahnya seperti sedang menahan malu.
“Lo kenapa sih? Kesambet?” tanya Vee dengan nada kesal, entah kenapa dirinya begitu sensitif hari ini. Bahkan,
Erbio tadi sebelum berangkat ke kantor dia marahi habis-habisan, karena sembarangan menaruh handuk basah di atas ranjang.
“Sabar dong, Vee! Gue tahu lo lagi sensitif, tapi ingat kandungan lo!” ingat Enda mmebuat Vee menghembuskan nafas panjangnya.
“Iya-iya, maaf,” cuek Vee membuat ketiga wanita tersebut menggelengkan kepalanya.
“Mau cerita gak?” tanya Vee yang mengingatkan Siska tentang ceritanya. Siska menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
“J—jadi, tadi gue gak sengaja nambrak pak Erbio saat keluar dari lift. Gue kan hampir jatuh ke lantai, tapi dengan cepat pak Erbio nangkap gue. Sumpah ya! Adegannya tadi sangat romantis, mana banyak lagi yang lihat. Gue juga bisa cium aroma parfume pak Erbio yang sangat harum itu,” jelasnya dengan tersenyum malu-malu.
“Lo beruntung banget pagi-pagi! Ah gak asik lo! Kenapa bukan gue aja yang ngalamin kayak gitu?” Intan terlihat cemberut mendengar cerita dari Siska.
Vee hanya terdiam dengan wajah datarnya, Enda yang melihat perubahan wajah sang sahabat hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Dia tahu, pasti sekarang Vee sedang marah dengan Erbio. Meskipun dia tahu, kalau niat Erbio baik, tapi tetap saja. Vee sekarang sedang labil emosinya dan akan menjadi masalah besar nantinya.
“Wah… lo sangat beruntung hari ini,” ucap Vee dengan suara datarnya, wanita itu berlalu dari dapur dan meninggalkan the hangatnya yang masih sisa separuh.
“Kenapa sama Vee?” tanya Siska bingung, karena untuk pertama kalinya dia mendengar suara Vee yang seperti itu. Enda menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
“Kan lo tahu! Kalau Vee sedang hamil. Jadi, itu bawaan dari bayinya!” seru Enda sebelum ikut berlalu dari dapur. Siska dan Intan hanya mengangguk paham dengan emosi Vee, keduanya tidak terlalu memikirkan hal itu.
Vee sedang menyelesaikan pekerjaannya dengan wajah datarnya, Enda yang melihat hal itu hanya bisa meringis. Dia sudah mencoba untuk menenangkan Vee, tetapi sahabatnya itu bungkam dan menatap dirinya sangat tajam.
“Vee,” ucap pelan Enda yang masih tak di gubris oleh Vee. Enda hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, wanita itu seperti orang gila yang selalu menjadi penengah di antara hubungan sang sahabat dan suaminya. Tetapi, Enda tidak keberatan sama sekali, dirinya sangat senang bisa membantu kedua sahabatnya, iya, Erbio adalah sahabatnya juga.
“Vee!” serunya lagi dengan suara yang sedikit keras membuat Vee menoleh ke arahnya dan menatapnya sangat tajam. Enda hanya bisa menampilkan senyumannya.
meringis kesakitan.
“Kok lo gak bilang sih?” ketus Vee membuat Enda menghela nafas.
“Gue sudah panggil lo dari tadi! Tapi, lo ngelamun terus!” terang Enda yang di balas helaan nafas panjang oleh Vee. Segera Vee menutup layar di hadapannya dan mencari laporan yang akan di kerjakan olehnya.
“Untung saja manajer gak lagi ngecek,” desah lega Vee, saat sang manajer baru keluar dari ruangnnya dan melihat kinerja bawahannya. Vee tidak bisa memabayangkan kalau dirinya akan di omeli habis-habis oleh sang manajer.
Setelah sempat teledor dengan pekerjaannya, kini Vee kembali sial, karena saat dirinya sampai di kantin kantor. Pemandangan yang pertama masuk ke dalam matanya adalah adegan di mana Erbio sedang makan berdua dengan Nessa.
Vee mencoba mengabaikan hal itu, dia kembali melanjutkan langkahnya dengan membawa mampan berisi makan siangnya. Enda masih memesan makanannya, sehingga Vee yang akan mencari tempat duduk untuk mereka makan.
“Kenapa tempatnya duduk yang kosong di sebelah mereka?” kesal Vee saat melihat tempat duduk yang tersisa tinggal di sebelah Erbio dan Nessa yang tampak asik dengan obrolannya, Vee mencoba menahan sesak di dadanya. Entah kenapa dia mulai merasakan sakit di dalam jantungnya yang berdebar itu.
“Mau gimana lagi,” gumamnya dengan melangkah pelan menuju ke arah kursi kosong. Saat hampir sampai, kaki Vee tak sengaja tersandung atau bisa di bilang ada sebuah kaki yang menghalagi langkahnya. Sehingga keseimbangannya tidak stabil.
Prank!
Mampan di tangan Vee melayang dan jatuh tepat di tubuh Nessa yang sedang duduk. Waktu seakan terhenti saat semua mata menatap ke arahnya, Vee yang terduduk di lantai dan Nessa yang kini kotor oleh makanan Vee.
“Viola Leony! Apa yang kamu lakukan kepada tamuku?” tanya Erbio dengan suara beratnya membuat Vee terkejut. Wanita itu berdiri di bantu oleh Enda yang baru datang.
“Maaf pak, saya tidak sengaja. Kaki saya tersandung tadi,” jelas Vee dengan mata yang mulai memerah, Vee tidak pernah melihat Erbio dengan tatapan menyeramkan seperti itu. Dia juga menahan rasa sakit di perutnya yang seperti di cengkram sangat kuat.
“Kamu sudah melakukan kesalahan besar!” suara Erbio kian meninggi. Vee hanya bisa meringis mendengarnya, dirinya juga sangat malu dengan keadaan sekarang yang sudah menjadi pusat perhatian.
“Erbio, sudahlah. Gue gak apa-apa kok. Lagian Vee juga gak sengaja, ya kan Vee?” tanya Nessa dengan menatap manik mata Vee. Tatapan yang di mengerti oleh Vee mau pun Enda yang sama-sama melihat itu.
“Sialan kau wanita ular!” geram Enda yang hendak mencakar wajah Nessa.
“Enda cukup, perut gue sakit. Akh!” pekik Vee dengan mencengkram lengan Enda.
“Kaki lo ada darahnya!” ujar Enda membuat jantung Vee seakan berhenti berdetak. Tak lama kemudian tubuh Vee
hilang keseimbangan dan Vee tidak mengingat apapun.