
“Gue bisa di penggal sama Erbio kalau lo nekat kabur gini!” kesal Enda saat Vee menyeretnya keluar dari ruangan Erbio tanpa sepengetahuan lelaki itu yang mendapat kabar rapat mendadak.
“Udah deh! Gue bosan di dalam sana!” kata Vee yang terus menyeret Enda yang terlihat enggan keluar dari ruangan nyaman itu. Bahkan, dirinya baru saja memejamkan matanya, tapi sahabatnya itu langsung membangunkannya dan menyeretnya begitu saja.
“Selamat siang Bu Viola,” sapa beberapa karyawan di kantor tersebut. Vee menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Enda yang masih di tarik oleh wanita itu.
“Kenapa kalian memanggilku seperti itu?” heran Vee saat mereka menunduk takut padanya. Enda yang di sebelah wanita itu juga ikut bingung dengan tingkah aneh teman-temannya yang terlihat sungkan dengan Vee.
“Pak Erbio sudah mengumumkan semuanya, kalau Bu Viola adalah istri beliau,” jelas salah satu dari mereka. Vee hanya menganggukkan kepalanya, lagi pula dia sudah lelah bersembunyi. Dia juga malas dengan pekerjaannya. Mungkin, karena kehamilannya, dia menjadi begitu pemalas tidak seperti dirinya.
Vee kembali melanjutkan jalannya yang sempat terhambat, dia tidak bisa terlalu lama di dalam sana. Bisa jadi,
Erbio selesai rapat dan menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangan lelaki itu lagi. Vee sudah sangat bosan di dalam sana, dia ingin keluar dan menghirup udara segar bukan ruangan ber-AC.
“Kita kemana, Vee?” kesal Enda saat dirinya terus di seret keluar sampai berada di halaman depan kantor. Vee masih enggan menjawabnya, wanita itu terus melangkah sampai ke jalan raya. Vee menyetop taksi yang melintas di hadapan mereka.
“Lo gila!” Enda menarik tangannya yang di cekal oleh Vee.
“Kita ke taman kota bentaran aja!” Vee sudah masuk ke dalam taksi dan Enda menyusulnya. Meskipun, wanita itu
terlihat enggan dan merasa mulai ada yang tidak beres dengan perasaannya kali ini. Entahlah, Enda pun tidak mengerti apa yang akan terjadi.
Taksi yang membawa kedua wanita itu berhenti di taman kota yang terlihat cukup sepi, bukannya tidak ada alasan Vee memilih pergi ke tempat tersebut. Dia ingin membeli sesuatu yang hanya ada di taman kota, itu lah yang ada di pikirannya saat ini.
“Kita ngapain panas-panas di sini?” Enda menatap heran sahabatnya yang kini tersenyum sumringah menatap para
pedagang yang berjejer di pinggir taman kota.
“Gue pengin makan batagor,” kata Vee dengan langkah lebarnya. Wanita itu melangkah mengunjungi salah satu
penjual batagor yang menjadi kesukaannya. Maka dari itu, Vee tidak mau beli di tempat yang lain selain di taman kota yang sudah menjadi langganannya. Enda hanya mengekorinya dari belakang.
“Nih!” Vee menyerahkan satu piring batagor pada Enda membuat wanita itu langsung berbinar. Vee hanya berdecih dan menunggu pesanan yang akan di makan olehnya, kalau Enda tidak di dahulukan. Maka, dirinya yang akan kerepotan nantinya. Jadi, dia mengalah dan dirinya masih menunggu pedagang yang meracik batagor.
“Kok punya lo lebih banyak?” protes Enda ketika Vee duduk di sebelahnya dengan satu piring penuh batagor. Bisa di bilang lebih banyak dari yang di berikan padanya tadi.
“Kalau mau makan lagi, sono pesan gih!” Enda bersorak senang dengan penawaran yang tidak akan datang dua kali itu. Dengan gesit, Enda menuju ke arah pedagang dan memesan lagi satu porsi batagor dan bonus telurnya dua.
“Makan enak!” seru Enda dengan membawa satu piring batagor di tangannya. Vee hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya tersebut. Dia masih asik menikmati makanannya sambil mendengarkan Erbio yang terus mengoceh dengan menelponnya. Vee hanya membalasnya dengan ucapan iya, maaf dan hm.
merasakan ada yang tidak beres dan sedang memperhatikan gerak-geriknya bersama Enda. Vee mengalihkan pandangannya menyusuri setiap tempat di taman kota. Dia memicingkan matanya untuk melihat keadaan sekitarnya.
“Iya, gue mulai ngerasa ada yang merhatiin. Tapi, di sini tidak ada yang terlihat mencurigakan,” balas Vee dengan terus menatap ke arah sekitar mereka. Enda juga melakukan hal yang sama, namun dia tidak melihat ada sesuatu yang aneh atau pun mencurigakan. Tapi, dia merasa akan terjadi sesuatu setelah ini.
“Vee!” panggil Enda dengan menggoyangkan lengan Vee.
“Kenapa? Lo mau nambah lagi?” tanyanya membuat Enda mendengus mendengar kata itu. Padahal dirinya sudah sangat kenyang saat ini dan mulai mengantuk, karena kekenyangan.
“Bukan!” sahut Enda.
“Terus lo mau apa?” gemas Vee, karena Enda tak kunjung mengatakan keingingannya. Dia bukanlah cenayang yang tahu apa yang di pikirkan oleh sahabatnya itu.
“Sebaiknya kita balik aja deh!” Vee menatap bingung ke arah Enda yang terlihat sedikit tak nyaman. Tanpa
berkomentar, Vee membayar makanan mereka dan menarik Enda keluar dari tempat tersebut. Mereka berada di dekat jalan untuk mencari taksi yang akan mereka tumpangi. Cukup sulit menemukannya, karena di taman kota jarang ada taksi yang berjejer seperti angkutan umum.
“Pesan taksi online aja deh!” titah Enda yang langsung di lakukan oleh Vee. Wanita itu membuka ponselnya dan
memesan taksi online. Mereka duduk di trotoar sambil menunggu taksi pesanan mereka datang, Vee memainkan ponselnya yang menampilkan game kesukaannya. Sedangkan Enda terus menatap sekeliling mereka.
“Itu taksinya!” seru Enda saat taksi dengan plat nomer yang di lihat mereka tadi di ponsel Vee. Enda membuka
pintu taksi dan masuk terlebih dahulu, Vee juga membuka pintu taksi. Namun, ponsel di genggamannya terjatuh. Dia menunduk dan mengambil ponselnya tersebut. Namun, Vee melihat sebuah pistol di bawah kursi pengemudi.
Vee menaikkan pandangannya dan melihat supir taksinya memakai hoodie, nafas Vee seketika berhenti. Sudah
terlambat, Enda sudah tak sadarkan dirinya saat dirinya mengambil ponsel tadi. Orang itu membuka pintu dan keluar dari taksi.
“Enda, bangun!” Vee menarik tangan Enda yang terasa lemah itu.
“Mau kemana manis?” orang itu menutup mulut Vee dengan sapu tangannya. Vee menahan nafasnya dan terus meronta sampai orang itu jatuh tersungkur ke aspal. Tubuh Vee di tarik ke belakang dan Vee tahu tangan siapa yang menariknya itu. Suaminya datang tepat waktu dan menyelematkannya.
“Kemarilah!” perintah Erbio kepada anak buahnya yang berlari menuju ke arahnya. Orang tersebut menendang perut Erbio, membuat lelaki itu terjatuh ke belakang. Untung saja, tangan Erbio lebih cepat melepas cekalannya pada Vee, sehingga istrinya tidak ikut terjatuh.
“Kejar dia!” perintah Erbio kepada anak buahnya. Saat orang itu sudah mengemudikan taksi yang di curinya dengan Enda yang tak sadarkan diri dan berada di dalam taksi itu.