The Fools

The Fools
BAB 25



“Aku gak mau ke rumah sakit,” Vee menghentikan langkah yang membuat Erbio juga menghentikan langkahnya. Kini mereka sampai di dekat lift.


“Tapi, kamu kesakitan sayang,” kata lembut yang di ucapkan Erbio membuat Vee tersenyum senang mendengarnya.


“Pusingku sudah hilang,” jujur Vee membuat Erbio mengerutkan alisnya.


“Benarkah? Tapi, kok bisa?” bingungnya dengan kembali menarik lembut Vee untuk masuk ke dalam lift yang


baru terbuka. Lift yang mereka pakai, merupakan lift khusus pemilik perusahaan yang lebih bagus dari lift karyawan.


“Pusingku langsung hilang saat aku mencium harum tubuhmu,” sahut Vee membuat Erbio terbengong. Bahkan, wajah lelaki itu sudah memerah, karena mendengar kalimat dari sang istri yang menurutnya sangat manis sekali.


“Cantik,” panggilan lembut itu membuat Vee langsung menatap ke arah Erbio.


“Kenapa tampan?” tanya Vee dengan senyum manisnya.


“Kenapa kamu tambah manis aja tiap detiknya, bahkan aku sampai melelah dengar kata-kata manismu itu, cantik,” jelasnya dengan senyuman manis yang tak pernah pudar dari wajah tampannya. Diam-diam Vee ingin berteriak di depan wajah Siska saat ini juga.


“Tapi, kamu tetap padat ini? Aku tidak melihat kamu mencair,” kata Vee membuat Erbio mendengus mendengar gurauan tersebut.


“Kamu ini selalu saja bisa menghancurkan suasana romantis yang aku buat,” ucap Erbio dengan nada merajuk itu membuat Vee tertawa kecil.


“Kamu sangat lucu kalau sedang marajuk,” kekeh Vee yang membuat wajah Erbio kembali bersinar. Dia sangat


senang saat melihat wanita yang di cintainya tertawa lepas olehnya. Dia ingin membuat Vee selalu tersenyum dan tertawa, tidak ada tangisan sama sekali, kecuali tangisan bahagia ketika buah hati mereka lahir ke dunia ini.


“Aku mencintaimu, sangat,” kata Erbio dengan suara pelannya.


“Iya, aku tahu,” balas Vee yang tersenyum saat Erbio memeluknya dengan erat, bahkan wanita itu merasakan kecupan sayang di berikan oleh sang suami di puncak kepalanya. Sungguh, dia sangat bahagia saat ini, dia tidak menyangka kalau dirinya akan kembali lagi pada lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Ketika bunyi lift terdengar, Vee menarik tubuhnya dari Erbio. Ada nada kecewa dari helaan nafas yang di keluarkan sang suami. Namun, hal itu membuat hati Vee menghangat. Vee menatap hangat sang suami yang amsih enggan melepaskan tangannya yang di genggam.


“Aku akan ke ruanganmu satu jam lagi, kamu kan meminta laporan minggu ini. Jadi, tunggu aku, sayang,” Vee menecup kilat pipi Erbio sebelum keluar dari lift yang sudah terbuka. Untung saja tidak ada orang sama sekali yang melihat mereka. Maksudnya, melihat Vee yang keluar dari lift khusus.


Vee menghentikan langkahnya saat lagi-lagi Siska duduk di kursi kerjanya. Wanita itu berkacak pinggang dan menatap tajam Nessa yang memunggunginya, terpaksa Vee berdehem untuk menyadarkan kehadiran pada Siska yang sedang asik berkaca.


“Eh? Lo baru datang? Kok gue gak ketemu lo di lift karyawan ya?” tanyanya dengan nada sinis. Kini Siska berdiri di hadapan Vee dengan bersedekap.


“Lo pasti tahu gue naik pakai lift apaan?” itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang membuat Siska menggeram tak suka saat dirinya tahu maksud dari perkataan Vee tadi. tetapi, dia masih menampilkan senyuman angkuhnya pada Vee.


Vee duduk di kursi kerjanya, dia menghidupkan komputer di hadapannya. Sambil menunggu perangkat keras tersebut, Vee memainkan ponselnya yang sejak tadi terus bergetar. Saat di buka, ternyata banyak sekali pesan yang di kirim Erbio padanya, semua isi pesannya sama. Lelaki itu mengatakan kalau dia tidak sabar bertemu dengannya, bahkan lelaki itu terus mengirimkan kata rindu kepadanya.


“Dasar bucin!” seru Enda yang baru duduk di kursinya, wanita itu sempat melihat isi pesan yang di kirim oleh Erbio


kepada sahabatnya yang merupakan istri dari lelaki bucin itu.


“Kok gue jadi jijik ya sama Erbio yang sekarang?” atensi Vee kini beralih ke arah Enda yang menatap dirinya dengan bertopang dagu.


“Maksud lo?” bingung Vee.


“Lo ingat gak waktu Erbio sama lo pacaran dulu?” Vee semakin tidak paham dengan maksud perkataan sahabatnya tersebut. Enda yang mengerti tatapan yang di berikan sahabatnya itu langsung mendekatkan kursi ke arah Vee.


“Gini ya cantik!” Enda mengambil nafas dalam-dalam sebelum bercerita panjang pada sahabatnya. Enda melirik sekitar dan masih sepi, karena waktu makan siang masih belum selesai. Jadi, mereka cukup aman untuk bercerita tanpa di tegur sang manajer.


“Waktu lo pacaran sama dia, kelihatannya biasa aja. Kayak pasangan yang lainnya, paling mentok kalian ciuman dan pegangan tangan atau pelukan. Nah… saat gue pantau akhir-akhir ini, gue sering pergokin laki lo datang ke lantai ini cuma lihat lo aja. Mana senyam-senyum gak jelas lagi, parahnya lagi laki lo mesum banget. Masa tiap hari gue lihat leher lo merah-merah terus, bibir lo tambah tebal lagi, kaliantuh pasangan gak tahu diri! Di mana-mana bisa aja mojok berdua,” Enda menghela nafas.


“Wajar lah! Kia kan suami istri, udah halal juga,” balas Vee membuat Enda memutar bola matanya jengah. Enda


memegang bahu sabahatnya dan menatapnya dengan tatapan yang Vee tak mengerti sama sekali, aneh itulah yang di lihat oleh Vee.


“Kayak lo udah terkontaminasi sama otak mesum suami lo!” tuduh Enda membuat Vee menarik rambut sahabatnya dengan pelan.


“Makanya cari cowok, tembak dan nikah!” seru Vee membuat Enda mendengus kesal.


“Salah mulu jomblo!” dengusnya membuat Vee terkekeh geli.


Tidak sampai satu jam, kini Vee sudah berada di dalam lift untuk menuju ke ruangan Erbio untuk menyerahkan laporan yang berada di genggamannya. Senyum kecil terpantri di wajahnya yang semakin bersinar itu, siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu kalau Vee sedang bahagia saat ini.


“Semoga kebahagian ini terus berjalan sampai akhir hayat kita,” gumam Vee dengan mengelus pelan perutnya yang sudah membuncit. Tetapi, tidak terlalu ketara, karena dirinya menggunakan kemeja longgar. Pintu lift terbuka dan dengan menghembuskan nafas panjang, Vee melangkah keluar menuju ruangan Erbio.


Vee langsung masuk ke dalam,  karena sekretaris Erbio sedang keluar. Sehingga dia tidak perlu meminta izin untuk menemui atasannya di dalam ruangannya. Vee mengetuk pintu ruangan Erbio dan saat mendengar sahutan dari


dalam, Vee membuka pintunya dengan pelan-pelan. Terlihat Erbio sedang fokus dengan ponsel di genggamannya.


“Kenapa Vee belum membalas pesanku? Padahal aku sudah merindukannya,” gumam Erbio yang masih di dengar oleh Vee. Ternyata lelaki itu sedang menunggu balasan pesan darinya, pantas saja Erbio terus berdecak kesal dan mengabaikan orang yang baru masuk ke ruangannya. Untung saja itu Vee, sehingga tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka.


“Nunggu aku?!”