
Kejadian kemarin tidak membuat hubungan Erbio dan Vee dekat kembali. Mereka tetap sama, tidak saling bertegur sapa dan saling menatap sinis satu sama lain. Bahkan, kini Vee berangkat ke kantor bersama Enda yang menjemputnya tadi pagi di rumahnya sekalian numpang sarapan. Kebetulan Erbio, berangkat lebih pagi lagi.
“Lo belum tahu apa yang terjadi?” pertanyaan yang sudah sekian kalinya itu hanya di balas dengusan kesal oleh Vee. Enda terus-terusan mendesaknya dengan jawaban yang tak di ketahuinya. Sungguh menyebalkan, batin Vee.
“Hehe, santai cantik. Gue hanya kepo aja,” kekeh Enda saat melihat tatapan tajam Vee. Mereka sudah sampai di kantor dan melangkah bersamaan ke dalam lift yang beruntung terbuka saat mereka baru sampai. Sehingga mereka tidak perlu mengantri lagi.
“Lo tahu ada konser band kesukaan lo bulan depan,” ujar Enda membuat Vee melebarkan matanya. Dia menatap Enda dengan tatapan tak percaya.
“Lo jangan bohongin gue lagi! Lo lupa tahun lalu? Lo buat gue malu gara-gara gak cek di akun mereka. Untung aja
gue gak di sangka orang gila sama petugasnya,” kesal Vee saat mengingat Enda pernah mengerjainya habis-habisan hanya untuk membalas dendam, karena tak terima dia pernah mengerjainya dengan hal yang sama.
“Anjir, lo masih dendam sama gue?” tawa pecah Enda membuat Vee semakin kesal di buatnya. Wanita itu memukul keras lengan sahabatnya untuk berhentu menertawakannya.
“Santai dong bu bos!” kekeh Enda di sela-sela tawanya yang mulai mereda.
“Kali ini gue gak bercanda, elah! Lo sensian amat sama gue. Kalau lo gak percaya sekarang lo buka akun mereka dan cek sendiri,” Vee langsung mengambil ponselnya dan melakukan hal yang di katakan oleh Enda barusan itu.
“Eh, ada konsernya di sini?!” pekik Vee yang tak bisa di tahan lagi.
“Pokoknya gue harus nonton mereka dan duduk di kursi paling depan. Gue sudah lama nunggu mereka konser di sini, lo tahu kan gimana kedua orang tua ngelarang buat nonton konser? Kali ini, gak ada yang bisa larang gue lagi,” ujar Vee dengan sumringah.
“Semoga aja, tapi suami lo gimana?” Vee terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Enda. Wanita itu
mengendikkan bahu acuh yang membuat Enda memutar bola matanya dengan jengah.
“Gimana pun, lo harus dapat izinnya!” titah Enda dengan tegas.
“Iya-iya, gue tanya ke dia,” balas Vee dengan mencebikkan bibirnya dengan kesal. Tak terasa mereka sudah sampai di lantai tempat mereka bekerja, seseorang yang berdiri di belakang mereka tersenyum samar mendengar celotehan mereka yang lupa dengan keberadaannya.
“Konser ya?” gumamnya dengan menyeringai lebar.
Vee manatap malas lebaran laporan yang harus di revisi olehnya, entah kenapa dirinya tiba-tiba malas melakukan
sesuatu. Dirinya juga engga bergerak, untuk mengambil minum saja dia rela meminta milik Enda yang kebetulan masih banyak.
“Lo kenapa gak ada semangat hidup begitu?” Enda menatap Vee dengan satu alis terangkat. Sedangkan Vee hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan polosnya.
“Enggak tahu, gue malas aja mau ngapa-ngapain,” jawabnya dengan jujur membuat Enda menepuk jidatnya sendiri. Tidak habis pikir dengan isi otak sahabatnya yang satu itu.
“Lo lupa laporan itu di minta Erbio hari ini juga? Kalau lo gak selesai cepat-cepat. Lo bisa kena semprot sama
manajer,” jelas Enda membuat Vee mendengus kesal.
“Bukankah deadline laporan ini besok? Kenapa di minta sekarang?” keluh Vee.
“Mana gue tahu? Tanya aja sama laki lo!” sahut Enda membuat Vee semakin menggeram kesal. Tanpa berpikir lagi, Vee beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Enda yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kemana tuh anak? Semoga aja gak bikin ulah!” seru Enda yang kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia juga
mempunyai banyak deadline yang belum di selesaikan.
Vee mengetuk pintu Erbio setelah mendapat izin dari sekretaris lelaki itu. Tak selang beberapa lama, sahutan
dari dalam terdengar. Vee membuka pintu tersebut dan kembali menutupnya rapat-rapat. Terlihat Erbio sedang berkutit dengan laptop di hadapannya.
“Ada perlu apa menemui saya? Kalau tidak ada hal yang penting silahkan keluar saja!” seru Erbio yang tak
mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“Kamu tidak mendengar ucapan saya?” kini Erbio menaikkan pandangannya, karena Vee tak kunjung berbicara padanya. Wajah lelaki itu cukup terkejut dengan kehadiran Vee yang tiba-tiba saja. Dia memang tidak tahu karyawan yang menemuinya. Terlihat jelas wajah tak mengenakan yang di tampilkan oleh Vee membuat Erbio menelan ludahnya susah payah.
“A—ada apa?” sial, dirinya mulai gugup. Entah kenapa dirinya sedikit ngeri dengan penampilan sang istri kali
ini. Bukannya menjawab Vee malah melangkah mendekati meja kerja Erbio. Ralat, bukan meja kerja, tetapi tempat duduknya.
Wanita itu menatap Erbio dengan mata yang terus lurus menusuk manik mata kelamnya dengan sangat tajam. Erbio merasakan hal yang tidak enak saat Vee mencodongkan wajahnya lebih dekat
dengannya.
“A—apa ya—,” belum sempat dirinya berbicara kini bibirnya sudah di bungkam oleh Vee dengan kecupan ringan yang membuat dirinya seakan melayang ke udara. Dalam diam Vee menyeringai puas melihat wajah konyol Erbio saat ini.
“Gue mau hari ini free! Gue lagi malas ngerjain apa pun!” terang Vee membuat kesadaran Erbio kembali lagi.
Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengalihkan atensinya kepada Vee yang kini duduk di pinggiran mejanya.
“Maksudnya?” otak Erbio belum sepenuhnya kembali. Dirinya cukup susah untuk berpikir, apalagi dengan
penampilan Vee yang berbeda dan terlihat sangat… dia tidak bisa mendeskripsikannya. Vee benat-benar menggodanya kali ini.
Kancing kemeja ata yang sengaja di buka saat memasuki ruangan Erbio, kaki jenjang yang di lipat dengan anggun
membuat Erbio menelan ludahnya beberapa kali. Rambut yang di gelung indah dan memamerkan leher putihnya.
“Lo sengaja minta revisi laporan yang seharusnya di kerjakan besok. Dan gara-gara itu gue jadi gak mood
ngapa-ngapain. Jadi, lo bilang sama manajer gue buat deadlinenya pada waktunya semula,” jelas Vee membuat Erbio tersenyum miring.
“Bukankah harus profesional nona Viola Leony?” tanya Erbio dengan seringai menyebalkan di wajah tampannya.
Sialnya lagi, lelaki itu menggodanya dengan suara beratnya yang semakin menggetarkan dirinya. Vee kehilangan kata-katanya.
“Tapi, ini permintaan anak kita, Erbio!” jelas Vee dengan suara tenangnya. Dia mencoba untuk terlihat normal, agar Erbio tidak menertawakannya begitu saja.
“Jangan bawa-bawa anak kita!” balas Erbio santai. Vee menggeram kesal mendengarnya, tidak ada pilihan lain, pikirnya.
“Sayang,” bisik Vee yang kini duduk di pangkuan Erbio membuat tubuh lelaki iu membeku seketika. Kecupan ringan di rahangnya membuat pikiran Erbio tidak bisa di kendalikan lagi. Lelaki itu menggeram dan menghubungi manajer Vee saat itu juga.
“Selamat pagi, Pak!” belum sempat Vee berdiri, kini Erbio sudah menahan pinggangnya dengan erat.
“Mau kemana sayang? Kamu tidak bisa lepas kali ini!”