The Fools

The Fools
BAB 10



“Mama semakin cerewet dan terus menerorku agar aku membawamu ke rumah,” ujar Erbio saat mereka di dalam mobil menuju ke rumah orang tua lelaki itu. Vee hanya bisa tersenyum geli melihat wajah masam Erbio, karena menceritakan bagaimana mamanya yang terus meneror dan memakinya, karena Vee tak kunjung di bawa ke rumahnya.


“Kamu tidak bilang kalau Mama kangen, kan aku bisa mengunjungi setelah pulang dari kantor,” sahut Vee membuat


Erbio meringis. Memang lelaki itu tidak pernah mengatakan kalau mamanya sedang merindukan istrinya, dirinya juga mempunyai alasan yang kuat.


“Aku tidak mau kelelahan, sayang. Lagi pula, kamu juga kurang sehat sebelumnya, aku juga sakit waktu itu,” jelas


Erbio yang memang benar adanya.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, Vee lebih memilih menatap ke arah jalan raya yang


terlihat padat. Sedangkan Erbio fokus dengan kemudinya, sesekali lelaki itu melirik ke arah wanitanya yang terlihat semakin cantik saja. Erbio juga senang, hubungan mereka mulai dekat kembali dan terasa lebih hangat.


“Kamu jangan mau kalau di ajak Mama masak! Aku tidak mau kamu kelelahan!” ingat Erbio untuk kesekian kalianya, mereka sudah berada di dalam rumah besar milik orang tua Erbio. Terlihat ramai dengan para penjaga dan juga pembantu.


“Ini kenapa Erbio? Suaramu sampai ke dengaran di dapur!” seru mama Erbio yang datang dari dapur dengan membawa cupcake yang baru matang.


“Ini, Ma. Erbio larang aku bantu-bantu Mama di dapur,” adu Vee dengan memeluk mama mertuanya. Erbio hanya menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajahnya.


“Aku tidak mau kamu kelelahan, sayang,” tutur lembut Erbio membuat mamanya tersenyum penuh arti menatap kedua pasangan muda tersebut.


“Sudahlah, kalian bersihkan diri dulu di atas, setelah itu kembali turun untuk makan malam bersama. Papa sudah


berada di perjalan, sebentar lagi datang,” ujar mama Erbio membuat keduanya mengangguk paham.


“Kamu mandi dulu, biar aku nanti. Kamu tidak baik mandi terlalu malam,” ucap Erbio ketika mereka sampai di dalam


kamar lelaki tersebut. Vee segera masuk ke dalam kamar mandi milik Erbio, setelah mengambil handuk dan baju gantinya yang sudah etrsedia di dalam lemari milik lelaki itu.


Erbio merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, sudah lama dirinya tidak tidur di ranjang tersebut. Matanya menatap sebuah ponsel milik istrinya yang tergeletak di atas ranjang, tepat di sebelah kakinya. Erbio meraih ponsel tersebut dan membukanya, beruntung ponsel Vee tidak di kunci, sehingga dia tidak pusing untuk memikirkan kata sandinya.


Erbio terdiam saat layar ponsel tersebut menampilkan percakapan antara Vee dan sahabatnya Enda, senyumnya mulai mengembang dengan lebar. Dia sangat senang dengan keputusan Vee untuk hubungan mereka, Erbio juga berterimakasih kepada Enda yang selalu membari nasihat agar Vee tidak membohongi perasaannya sendiri.


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Erbio menyembunyikan ponsel Vee ke dalam saku celananya. Terlihat Vee sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. Erbio menelan ludahnya dengan susah payah, lelaki itu menggelengkan kepalanya agar bisa berpikir dengan jernih.


“Kamu kenapa geleng-geleng begitu?” tanya Vee dengan suara lembutnya membuat Erbio tersadar dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


***


Di ruang makan hanya terdengar suara dentingan benda-benda saja, tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Karena, tidak ingin mengganggu acara makan malam yang terasa nikmat tersebut. Setelah selesai, Vee membantu mertuanya untuk membersihkan meja makan. Sedangkan Erbio sudah di ajak ke ruang tengah untuk menonton bola bersama papanya.


Lelaki itu juga sempat memperingati Vee untuk tidak terlalu kelelahan dan tidak boleh mencuci piring, karena sudah


ada pembantu yang akan membersihkannya. Vee hanya mengangguk pelan dan tersenyum lembut kepada suaminya yang protektif itu.


“Kamu sudah memaafkan putraku, sayang?” tanya mama Erbio tiba-tiba membuat Vee yang sedang memotong


buah-buahan tertegun. Vee mengembuskan nafas secara perlahan, dia membalikkan tubuhnya untuk menatap mertuanya.


“Ma, Vee sudah memaafkan Erbio sejak lama. Lagi pula, Vee ingin berdamai dengan masa lalu dan mencoba untuk


menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Vee tahu, di sini Vee juga salah, karena tidak mau jujur dengan Erbio sejak awal,” Vee tersenym kecil.


“Syukurlah, Mama turut senang mendengarnya. Mama harap, kamu benar-benar memaafkan Erbio dan bisa jujur


dengan perasaanmu sendiri. Bagaimana pun, kalian sudah dewasa dan sebentar lagi, kalian akan menjadi orang tua. Kalau ada masalah, cepat di selesaikan dengan pemikiran dewasa kalian. Jangan sampai masalah kecil menjadi besar dan akan berakibat fatal, kuncinya adalah kejujuran dan saling memahami,” mama Erbio mengusap pelan bahu menantunya dengan penuh kasih sayang.


“Kalau ada hal yang tidak kamu sukai dari Erbio, kamu harus mengatakannya. Karena, lelaki itu memang kurang peka terhadap sekitarnya. Tetapi, tatapan memuja dan penuh cinta darinya membuat Mama yakin, Erbio tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu sudah menjadi separuh hidupnya, saat kamu pergi darinya. Erbio seperti orang yang tak mempunyai jiwa, selalu melamun dan menatap foto-foto kalian,” mama Erbio mengusap sudut matanya yang mulai mengeluarkan air.


“Dia terlihat kuat, namun diam-diam dia akan menangis dalam kesunyian. Dia sangat mencintaimu dan selalu menyalahkan dirinya sendiri, karena sudah membuatmu pergi darinya. Dia selalu memanggil namamu saat tidur, Mama sering mendengar suara puraunya yang selalu mengatakan agar kamu tidak pergi darinya,” Vee tertegun mendengar fakta tersebut.


Dia tidak menyangka kalau Erbio sampai seperti itu, dia berpikir hanya dirinya yang sangat terluka dan sulit untuk keluar dari kenangan tersebut. Namun, dirinya salah besar, ternyata Erbio sama terlukanya seperti dirinya.


Vee merutuki dirinya yang tidak bisa berkata jujur, dirinya menyesal, tapi dirinya juga tidak bisa melakukan apa-apa selain memperbaikinya. Vee akan memperbaiki semuanya, dirinya tidak akan membiarkan Erbio berjuang sendirian.


“Kenapa kamu menunduk sayang?” tanya Erbio yang entah sejak kapan sudah berada di dapur. Mama Erbio mengusap pelan pundak menantunya sebelum berlalu dari sana.


“Hei, kamu kenapa?” tanyanya lagi dengan menarik dagu Vee untuk menaikkan pandangannya. Erbio terdiam saat Vee memeluknya dengan sangat erat. Erbio membalas pelukan itu dan mengusap pelan punggung istrinya yang mulai bergetar, isakan kecil mulai keluar dari bibir mungil Vee membuat hati Erbio terasa di remas.


“Sstt, jangan menangis sayang. Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu, tapi aku mohon kamu jangan menangis. Aku tidak tega melihatmu menangis seperti ini,” gumam pelan Erbio tepat di telinga Vee.


“Aku mencintaimu,” Erbio merasakan dunianya begitu berbeda saat kalimat itu masuk ke dalam indera pendengarannya.