
“Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?” tanya Erbio kepada dokter yang baru menangani Vee. Enda menatap sinis Erbio dan Nessa.
“Syukurlah, tidak ada hal yang fatal. Karena, Vee cepat di bawa ke sini. Tetapi, perlu di perhatikan lagi! Jangan sampai hal ini terjadi lagi, karena akan membahayakan ibu dan janinnya. Pasien sudah siuman dan meminta Enda untuk masuk ke dalam, saya permisi dulu,” Enda menarik lengan Erbio yang hendak menerobos masuk ke dalam.
“Lo tuli? Vee butuh gue bukan lo!” geram Enda membuat Erbio menggertakkan giginya dengan kuat. Lelaki itu menatap nyalang Enda yang merupakan sahabat istrinya.
“Gue tahu lo itu sahabatnya! Tapi, lo ingat kalau gue ini adalah suaminya!” tekan Erbio yang di balas kekehan sinis oleh Enda.
“Kita lihat saja siapa yang di pilih Vee! Lagi pula, kenapa lo bawa ular ini ke sini?” tunjuk Enda kepada Nessa yag berdiri di sebelah Erbio.
“Nessa adalah temanku!” jelas Erbio yang di acuhkan oleh Enda yang sudah masuk ke dalam terlebih dahulu. Erbio ikut masuk ke dalam bersama Nessa di sampingnya.
Terlihat Vee sedang mengusap perutnya dengan derai air mata yang mulai membasahi wajahnya membuat Erbio tertegun, Vee menaikkan wajahnya dan menatap Enda sepenuhnya.
“Enda!” serunya membuat Enda segera berlari dan memeluknya dengan erat. Erbio mendekati mereka, ketika tangisan Vee semakin kencang. Tetapi, langkahnya terhenti saat Vee menatap dirinya begitu tajam.
“Gue hanya mau Enda di sini. Erbio!Lo bawa teman lo itu keluar dari sini!” Erbio membeku di tempatnya saat mendengar panggilan Vee yang sudah berubah kepadanya.
“Vee, sayang,” Erbio meraih tangan Vee, namun wanita itu menghindarinya.
“Pergi! Gue gak mau anak gue kenapa-napa kalau ada penjahat itu!” tunjuk Vee kepada Nessa yang masih berdiri
di dekat pintu.
“Vee, apa yang kamu katakan! Nessa bukanlah penjahat!” marah Erbio yang sudah tidak bisa di tahannya lagi, karena Vee sudah keterlaluan menyikapi Nessa.
“Oh, kalau begitu dengan sangat terhomat. Saya mohon untuk Pak Erbio bisa meninggalkan saya dengan Enda di sini!” ujar Vee dengan tatapan dinginya. Erbio hendak mendekat ke arah Vee, namun dengan cepat Nessa menahan lengannya.
Erbio benar-benar keluar dari kamar Vee bersama Nessa yang sekilas menatap Vee dan Enda yang hanya tersenyum miring. Mereka berdua bukanlah wanita bodoh yang tak mengerti dengan tatapan Nessa, bahkan mereka tidak perlu berpikir dua kali.
“Gue takut, kehilangan anak gue tadi Enda. Gue gak nyangka dia akan berbuat senekat itu sama gue,” tangis Vee kembali pecah. Enda memeluknya dengan erat.
“Tenanglah, lo masih ada gue. Awalnya gue juga merasa aneh saat tiba-tiba lo bercerita kalau Nessa sudah berubah. Gue coba untuk berspekulasi dia memang sudah berubah. Tapi, saat gue lihat bagaimana senyuman mengejek dan meremahkan saat di kantin tadi, gue makin yakin. Ular tetaplah ular,” jelas Enda dengan sorot mata yang sangat tajam.
“Gue yakin Erbio tidak akan mudah mempercayai perkataan gue, kalau Nessa semakin nekat. Lo lihat aja tadi, bagaimana dia ngebela Nessa segitunya. Gue benci keadaan ini, sumpah gue gak mau ada drama baru lagi dari sumber yang sama Nda,” jelas Vee membuat Enda menyentil dahinya.
“Lo kebanyakan nonton film azab, makanya otak lo jadi gini!” dengus Enda yang kini tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Vee yang mulai kembali lagi. Sedangkan Vee hanya meringis sakit, karena jidatnya terasa perih oleh tangan lentik Enda.
“Lo mah, bukannya kasih gue solusi malah jitak jidat cantik gue,” dengus Vee membuat Enda memukul pelan kepalanya.
“Lo malah tiduran. Gue yang sakit, lo yang istirahat. Dasar teman kampret!” maki Vee yang di abaikan oleh Enda, bahkan wanita itu mendenkur keras dengan suara yang di buat-buat. Tak tahan dengan tingkah sahabatnya itu, Vee menutup wajah Enda menggunakan bantal dan membuat wanita itu memberontak seperti cacing.
“Solusinya lampir!” pekik Vee saat Enda kembali bangun dan menatapnya dengan tajam. Enda mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia menyeringai kejam dan menarik Vee untuk mendekat. Wanita itu membisikkan sesuatu kepada Vee.
“Emang bisa?” tanyanya membuat Enda gondok sendiri.
“Di coba dulu bego!” kesal Enda yang di balas kekehan kecil oleh Vee.
***
Di sisi lain, Erbio hanya bisa menatap kosong Nessa yang terus mengoceh padanya. Mereka berada di kantin rumah sakit, Nessa merengek lapar padanya. Erbio juga tidak bisa menolak, karena lelaki itu tahu Vee masih membutuhkan waktu untuk meredakan emosinya.
“Erbio, lo dengar gue gak sih?” kesal Nessa dengan menepuk lengan Erbio cukup keras, membuat lelaki itu tersentak kaget.
“Kenapa?” tanya Erbio membuat Nessa mendengus kesal.
“Lo masih mikirin Vee? Lo gak ingat dia bilang gue penjahat dan ngusir kita tadi?” Erbio hanya diam tak membalas ucapan dari Nessa. Lelaki itu bangkit dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menaruh di atas meja.
“Lo pulang sendiri dan ini ongkosnya, lain kali jangan lupa bawa dompet,” ujar Erbio datar. Setelah itu, Erbio berlalu dari kantin menghiraukan teriakan Nessa yang terus memanggil namanya.
“Aku harus bicara denganmu, Vee,” gumam Erbio yang mempercepat langkahnya menuju tempat Vee di rawat. Jangan harap dirinya akan baik-baik saja untuk saat ini, Erbio merasakan nafasnya berhenti saat melihat darah keluar dari tubuh Vee. Apalagi, bayangan saat dirinya membentak Vee, dirinya sangat kesal dan lupa akan Vee yang terjatuh cukup keras. Erbio merutuki kebodohannya sendiri.
“Vee,” panggil Erbio saat memasuki kamar Vee. Terlihat wanita itu enggan melihatnya dan meneruskan percakapannya dengan Enda. Sedangkan Enda hanya menatap sinis Erbio yang mengerutkan dahinya.
“Jadi, keponakan gue sehat-sehat kan?” tanya Enda, dengan mengusap pelan perut Vee yang sedikit menonjol itu.
“Kata dokter, hampir aja gue keguguran kalau gak datang ke rumah sakit dengan cepat. Gue takut banget Enda, gue takut penjahat itu bunuh anak gue yang gak bersalah ini,” isak tangis Vee berhasil membuat hati Erbio terluka.
“Vee maafin aku, aku tahu salah sudah membentakmu,” ujar lirih Erbio yang berdiri di samping Vee yang masih enggan menoleh padanya.
“Gue balik dulu ya Vee, gue sudah di suruh pulang. Besok sebelum ke kantor, gue akan mampir jenguk lo sama keponakan lo. Tenang aja, masih ada gue yang akan jaga keponakan gue, lo hati-hati! Kalau ada apa-apa cepat hubungin gue, bye!” Erbio terasa tertampar dengan penuturan Enda tadi.
“Vee, sayang,” Vee merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Erbio hanya bisa tersenyum getir saat melihat penolakan tersebut.
“Maaf.”