
Vee mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat dan pusing di kepalanya. Dia menatap sekeliling dan mengernyit bingung. Dia bingung menatap asing tempatnya berada saat ini, dia tersentak saat mendengar suara dengkuran seseorang di sebelahnya. Vee menoleh kesamping, dia mendapati seseorang yang dia kenali. Vee menangis dan menatap nasibnya saat ini, tangisan Vee membuat tidur orang itu terganggu dan mulai mengerjapkan kelopak matanya.
“Vee?!” orang itu tersentak mendapati Vee seranjang dengannya dan menangis histeris.
“Astaga! Kenapa ki—kita?” orang tersebut mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia berusaha menggapai tubuh Vee yang bergetar hebat, namun Vee menjauhinya.
“Vee, maafin aku. A—aku tidak sadar, Vee aku akan bicara dengan calon suamimu dan akan menerima semua konsekuensinya. Aku akan bertanggung jawab, aku janji,” orang itu menatap Vee sendu, dia tidak bisa mengelak. Dia memang brengsek, dia tega menodai wanita yang sangat ia cintai. Dia memang mabuk, tapi tidak pernah sampai begini. Biasanya dia hanya minum dan kembali ke apartemennya, namun tadi malam ia melihat sesosok bayangan Vee dan dia berpikir itu adalah mimpinya. Tapi—ia tidak dapat berpikir lagi.
“Tidak perlu! Aku tidak butuh pertanggung jawaban darimu. Kamu tidak perlu menemui calon suamiku, dia sudah pergi jauh,” suara membuatnya kembali sadar.
“Ma—maksudmu?!”
“Kamu pasti menertawaiku, calon suamiku sudah—tenang di alam sana. Ah—sudahlah, anggap saja ini tidak pernah terjadi. Aku mohon, kamu bersikap seperti tidak mengenaliku, Erbio,” ucap Vee sebelum keluar darikamar hotel meninggalkan Erbio yang tersenyum kecut.
“Maafin aku.”
***
Dua bulan kemudian....
Kehidupan Vee bisa di bilang kembali normal dengan Erbio yang menuruti kemaunya. Vee juga sudah mengikhlaskan kepergian Alan, tentang kejadian malam itu Vee tidak mau mengingatnya dan menyimpan semuanya. Dia tidak bercerita kepada siapa pun termasuk sahabatnya—Enda.
“Huft, akhirnya selesai juga!” seru Vee yang baru mengirim e-mail yang di minta manajernya.
“Yah, lo sudah selesai? Padahal gue duluan yang ngerjain, kenapa jadi lo yang selesai duluan?” protes Enda yang membuat Vee jengah.
“Cepet selesain! Jangan ngebacot terus!” titah Vee membuat Enda mendengus kesal dan mencibirnya.
“Gue pulang duluan, selamat melembur,” kekeh Vee mengambil tasnya dan meninggalkan Enda yang menatapnya sedih.
“Gak ada cita-cita nemenin gue gitu?” pekik Enda kencang tidak takut di tegur, karena kantor mereka memang sudah sepi. Jam pulang sudah berbunyi dua jam yang lalu.
“GAK.”
Vee memainkan ponselnya sambil menunggu pintu lift terbuka. Namun, dia merasa aneh. Tiba-tiba saja ia ingin bertemu dengan Erbio, Vee menggigit bibir bawahnya. Vee memejamkan matanya, akhir-akhir ini dia selalu ingin menatap wajah Erbio bahkan ingin menciumnya. Dia sangat merindukan Erbio. Astaga—kenapa dengan dirinya, bahkan nafsu makannya bertambah. Pipinya sudah sedikit cubby.
“Tahan,” gumam Vee sambil terus menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, bahkan wajahnya sudah memerah, dia sudah tidak tahan lagi. Vee melangkahkan kakinya kedalam lift dan menekan tombol lobby. Sesampainya di lobby, Vee melihat Erbio yang keluar dari lift khusus. Mereka sama-sama terkejut saat tak sengaja saling menatap. Segera Vee melangkah cepat melewati Erbio yang masih terdiam, namun langkahnya terhenti. Kepala Vee mendadak pening, penglihatannya mulai gelap dan berikutnya ia merasa tubuhnya di bopong oleh sesorang yang ia tidak ketahui.
Vee membuka kelopak matanya yang terasa berat, dia menatap ruangan serba putih. Ini di rumah sakit, pikir Vee. Pintu dibuka dan nampaklah suster yang tersenyum ramah kepada Vee, suster itu memeriksa keadaan Vee.
“Sebaiknya ibu istirahat lagi, karena kondisi ibu masih lemah. Sebentar lagi dokter akan datang,” penjelasan suster itu.
“Ibu tadi pingsan, suami ibu sedang mengurus administrasi. Oh—itu dokter dan suami ibu sudah datang,” ucapan suster itu membuat Vee mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia melihat seorang dokter wanita tersenyum ramah padanya dan Erbio di belakang dokter itu.
“Sudah merasa baikan?” tanya sang dokter, sedangkan Erbio menatap Vee sendu.
“Masih sedikit pusing,” sahut Vee dengan wajah pucatnya.
“Saya kenapa dok?” tanya Vee setelah dokter selesai memeriksanya.
“Masalah biasa yang sering terjadi dimasa awal kehamilan, anda banyak pikiran membuat mengalami sedikit stres,” jelas dokter membuat Vee dan Erbio terdiam dan saling menatap.
“Sa—saya hamil?” tanya Vee dengan suara yang kecil.
“Iya—usia nya masih sangat rentan, saya sarankan anda jangan terlalu banyak pikiran. Bu Viola dan Pak Erbio saya ucapkan selamat, Bu Viola sudah boleh pulang dan masih harus istirahat, ini resep obat dan vitaminnya. Kalau begitu saya permisi,” pamit sang dokter setelah menjelaskan semuanya.
“Ve—Vee kamu?!” Erbio mendekap Vee dan menangis bahagia, ‘Terimakasih’ bisik Erbio di telinga Vee. “Aku akan membicarakan ini kepada orang tuaku untuk segera—” Vee menghentikan ucapan Erbio.
“Erbio! Aku bisa membesarkan anak ini seorang diri. Kamu tidak perlu merasa bersalah, itu hanya kecelakan,” potong Vee dingin membuat Erbio menatapnya tajam.
“Aku tidak akan membiarkan anakku tidak mengetahui ayahnya dan menjadi bahan ejekan oleh temannya kelak. Kamu jangan egois, dia tidak berdosa untuk menanggung semuanya. Aku akan tetap menikahimu,” desis Erbio menatap manik mata Vee yang menatapnya dingin.
“Vee—kamu jangan egois, nak!” suara seseorang membuat keduanya tersikap saat melihat orang itu.
“Bu—bunda!” Vee terkejut melihat bundanya berdiri didepan ruangannya bersama ayah dan kedua orang tua Erbio.
“Erbio benar sayang, ini semua demi anak kalian,” sahut Mama Erbio.
“Bagaimana?” tanya Vee dan Erbio bersamaan menatap kedua orang tua mereka.
“Dokter Putri yang memberitahu kami, dia teman SMA bunda dan mama-nya Erbio. Tadi, dia bilang bahwa kamu masuk rumah sakit dan Erbio yang membawamu. Dia menjelaskan bahwa kami akan memiliki cucu sebentar lagi,” jelas Bunda Vee yang sudah berada di samping Vee.
“Erbio!” suara tajam dari Papa Erbio dan Ayah Vee.
“Pa—papa, Om, aku minta maaf. Aku rela dipukul sama kalian, asalkan aku bisa dapat maaf dari kalian,” ucap Erbio dihadapan dua lelaki yang menatapnnya tajam.
Bugh! Bugh! Erbio mendapat pukulan di rahang dari Papanya dan hidung dari Ayah Vee yang sangat kuat membuatnya tersungkur ke lantai dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya. “Papa tidak mengajarkanmu menjadi lelaki brengsek!” kembali Erbio mendapat pukulan keras di pipi kirinya dari sang Papa. Erbio sudah mulai kehilangan kesadaran saat serangan bertubi-tubi dari papa dan ayah Vee.
“Sudah!” pekik Vee dan menarik tangan Papa Erbio yang mencengkram kerah kemeja Erbio. “Ini—bukan salah Erbio, ini juga salahku,” jelas Vee yang mulai menangis sambil mendekap tubuh Erbio. Kedua ibu mereka tidak tega melihat anaknya begitu segera menenangkan Vee.
“Kalau begitu, minggu depan kalian harus menikah!” perintah Ayah Vee.