
“Mama, Papa,” Vee langsung memeluk mertuanya yang di balas pelukan hangat oleh mereka berdua.
“Kamu semakin cantik aja sayang. Pantas saja Erbio gak mau kamu main-main ke rumah,” mama Erbio menatap putranya dengan sinis.
“Apa sih, Ma?” dengus Erbio.
“Kami akan memperkenalkanmu sayang, apakah kamu tidak keberatan?” tanya lembut papa Erbio yang di balas senyuman lebar dari Vee.
“Tentu saja, Vee tidak keberatan , Pa,” jawab Vee yang di balas helaan nafas lega dari papa mertuanya. Sedangkan Erbio diam-diam tersenyum senang mendengarnya.
“Kalau begitu, mari kita mulai acaranya,” Erbio langsung menggandengan mesra Vee, sebelumnya lelaki itu
menyampirkan jas hitamnya pada tubuh Vee dan rambut wanita itu, kini di gerai. Dirinya tidak rela lekuk tubuh istrinya di nikmati oleh lelaki lain.
Ardi dan Amora berjalan di depan memimpin anak dan menantunya. Sedangkan Erbio memeluk erat pinggang Vee yang sekarang menyembunyikan wajahnya di pelukan Erbio. Vee sudah menetapkan keputusannya kali ini.
Tak terasa mereka kini sudah sampai di atas panggung yang cukup besar. Semua perhatian para tamu kini beralih kepada mereka berempat, tak banyak dari mereka menatap dan berbisik-bisik tentang wanita yang berada di pelukan Erbio.
“Selamat malam semuanya,” sapa hanya dari Ardi, papa Erbio. Aura yang berwibawa dan suara tegasnya mampu menghentikan suara kebisingan yang membuat acara sedikit berantahkan. Vee masih menyembunyikan wajahnya dengan sangat hati-hati.
Papa Erbio menyampaikan beberapa sambutan dan juga ucapan terimakasih, beliau juga sudah memperkenalkan putra satu-satunya yang kini mengambil alih perusahaannya. Banyak tepuk tangan dan ucapan selamat untuk mereka semua.
“Saya ada pengumuman penting yang harus kalian ketahui,” papa Erbio kini tersenyum ke arah Vee yang berada di
belakangnya. Setelah itu, beliau kembali menatap ke arah depan untuk melihat wajah penasaran para tamunya.
“Kalian pasti bertanya-tanya tentang wanita yang di peluk oleh anak saya kan?” papa Erbio terkekeh kecil dengan sesekali mengintip ke arah putra dan menantunya.
“Wanita ini adalah istri dari putra saya dan sebentar lagi, saya juga memiliki cucu. Karena, menantu saya sudah hamil. Sayang, maju dan perkenalkan dirimu,” ujar papa Erbio dengan lembut dan menyentuh bahu Vee yang di lapisi jas hitam milik Erbio.
Vee menghembuskan nafas panjang dan melangkah ke depan, dengan wajah yang masih menunduk. Kini, dia sudah berada di depan mic, kepalanya perlahan naik. Setelah itu, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dengan cepat Erbio menangkapnya.
“Bawa ke kamar!” perintah Amora, mama Erbio membuat putranya langsung bergegas membopong tubuh Vee menuju kamar yang sudah di pesannya di hotel tempat mereka mengadakan acara malam ini.
“Maaf atas kekacauan tadi! Sepertinya, menantu kami sedang kelelah. Kita lanjutkan acara ini, dengan tidak adanya putra dan menantu saya!” papa Erbio kembali melanjutkan acara dengan Erbio dan Vee yang tidak akan ikut.
Acaranya kembali berjalan dengan kondusif, meskipun sebagian tamu masih menanyakan tentang istri Erbio, karena mereka belum sempat mengetahui namanya dan suaranya. Tetapi, mereka tetap bersikap tenang, karena aura papa Erbio sangat mendominan keadaan di dalam.
Sedangkan Erbio kini terlihat gusar saat dia meletakkan Vee dengan hati-hati di atas ranjang mereka. Erbio menyingkirkan rambut Vee yang menutup wajahnya, lelaki itu mengusap pelan pipi Vee dan saat melihat mata tertutup Vee. Erbio langsung tersadar.
“Kamu pura-pura pingsan?” suara berat Erbio membuat Vee membuka kedua matanya yang tertutup. Wanita itu bangkit dan duduk di atas ranjang. Helaan nafas lega terdengar dari bibir mungilnya.
“Kalau bukan karena itu, mungkin mereka akan tahu tentangku,” jelas Vee membuat Erbio menggelengkan kepalanya. Erbio menarik tubuh wanitanya dan memeluknya.
kalau benar terjadi. Aku pasti sudah mati duluan,” ujar Erbio dengan nada khawatirnya. Diam-diam Vee tersenyum mendengarnya.
“Kalau kamu mati, aku bisa cari cogan baru,” kekeh Vee. Erbio menguraikan pelukannya dan menarik gemas hidung milik Vee.
“Kamu ini nakal sekali ya! Akutidak akan pernah rela, orang lain mendapatkan cintamu. Hanya aku, anak kita dan keluarga kita yang berhak mendapatkan cinta darimu,” kata Erbio membuat Vee memutar bola matanya dengan jengah.
“Aku gak bisa nafas!” Vee menjauhkan tangan Erbio yang terus mengapit hidungnya.
“Tunggu dulu!” seru Erbio yang membuat Vee menatapnya dengan bingung.
“Kenapa?” bingungnya.
“Sejak kapan kita pakai aku-kamu lagi?” goda Erbio membuat Vee memalingkan wajahnya yang kini mulai merona. Jangan sampai Erbio mengingatnya, batin Vee.
“Oh… aku sudah mengingatnya! Saat di dalam ruangku yang panas itu kan?” sudah di pastikan wajah Vee semakin merona. Sial, Erbio mengingatnya, pikir Vee.
“Wah, ternyata dengan hal seperti itu membuat hubungan kita kembali erat lagi ya? Kalau begitu, aku akan
melakukan hal seperti itu, kalau kamu sedang marah,” titahnya dengan nada menggoda. Vee yang sudah tidak tahan menatapnya dengan tajam.
“Itu sih mau mu! Dasar laki-laki mesum!” Vee memukul lengan Erbio, namun lelaki itu tidak merasakan sakit sama
sekali. Malahan, dia tertawa senang, karena sudah bisa membuat Vee meronan dan tak segan untuk menyentuhnya. Meskipun, bisa di bilang bukan sentuhan, melainkan pukulan dan cubitan.
“Sudahlah, aku lelah,” Vee membaringkan tubuhnya di sebelah Erbio. Dengan cepat, lelaki itu melingkarkan tangannya ke perut sang istri.
“Aku ingin kita seperti ini,” gumam Erbio dengan nada sungguh-sungguh.
“Apakah menyenangkan menghabiskan waktu setengah hari dengan Siska?” Vee mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Erbio hanya mamu tersenyu kecut saat mendengar kalimat Vee yang sudah berubah.
“Tidak, lebih menyenangkan waktu kita di dalam ruanganku. Sudah lama, kita tidak tidur bersama,” Erbio menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vee. Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Vee yang selalu menenangkannya.
“Apakah kamu memaafkanku tentang kejadian di kantin? Aku terlalu terkejut dan ingin marah pada diriku sendiri saat melihatmu terjatuh cukup keras di lantai dingin itu,” Erbio memberikan kecupan ringan di kulit leher Vee.
“Kenapa kamu malah membentakku dan tidak menolongku? Padahal, aku memang tersandung oleh sesuatu,” gumam Vee membuat Erbio memejamkan matanya. Rasa bersalahnya kian mendalam, dia tahu sudah sangat salah terhadap Vee.
“Aku tidak bisa melihatmu terluka saat itu. Kamu tahu sendiri kan? Saat kamu terluka, aku selalu marah dan tidak bisa menahan emosiku. Itulah yang aku rasakan saat itu, Vee,” jelas Erbio dengan sorot mata jujur. Vee dapat melihat itu, karena Erbio sengaja menatapnya dengan tatapan dalam yang selalu membuatnya tenggelam.
“Apakah kamu percaya kalau Nessa itu tidak baik? Apakah kamu percaya kalau Nessa ingin melenyapkan anak kita? Apakah kamu percaya kalau… aku tersandung bukan karena tidak sengaja, melainkan di sengaja oleh seseorang?”