The Fools

The Fools
BAB 04



Vee berada di kediaman Erbio, karena memang dekat dengan rumah sakit. Vee tidak mau pulang ke rumahnya, karena dia ingin menemani Erbio yang pingsan. Saat ini, Erbio sudah sadar dan Vee dengan telaten mengobati luka-luka Erbio. Dia meringis saat melihat wajah Erbio yang sedikit tidak terbentuk, bahkan hidungnya patah, tak terasa Vee menangis melihat keadaan Erbio.


“Vee! Kenapa? Kamu kesakitan?” panik Erbio menatap Vee khawatir, namun dirinya menegang saat Vee memeluknya begitu erat. Bahkan, dia menahan mati-matian saat Vee mengenai lukanya.


“Maafin aku, kamu jadi kayak gini,” lirih Vee dengan tangisan sambil menatap manik mata Erbio. Tangan Erbio bergerak dengan hati-hati mengusap air mata Vee.


“Tidak apa-apa, aku memang pantas mendapatkannya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran kasihan adik bayinya ikutan sedih nantinya,” ucap Erbio sambil mengelus perut Vee yang masih rata dengan sesekali mengecupnya. Membuat hati Vee sedikit begetar.


“Maafin aku yang egois, kamu benar. Aku tidak mau anak kita menanggung malu, karena keegoisanku,” ucapan Vee membuat Erbio tersenyum bahagia, Vee juga tersenyum. Entah siapa yang memulainya, bibir mereka saling menyatu dengan lembut.


Hari ini adalah hari pernikahan mereka, mereka sepakat hanya mengundang orang-orang terdekat dan tertutup. Vee tidak mau ambil resiko nantinya, apalagi dia sedang hamil muda. Semua keluarga sepakat, namun nantinya saat acara resepsi mereka akan membuat acara yang begitu megah dan mengundang semua rekan-rekan bisnis.


Kedua mempelai menampilkan senyum bahagia diwajahnya, setelah acara pengucapan janji selesai. Semuanya berkumpul untuk makan bersama, termasuk Enda yang sedari tadi menatap tajam Vee. Dia diundang dan sangat marah, karena Vee menyembunyikan semua darinya. Tapi, saat melihat raut bahagia di wajah sahabatnya itu. enda menampilkan senyum bahagia juga.


“Erbio! Aku mau membicarakan sesuatu denganmu,” ucap Vee saat mereka baru selesai membersihkan diri duduk bersantai di ruang tengah apartemen Erbio. Mereka memilih tinggal di apartemen untuk belajar mandiri.


“Membicarakan apa?” tanya Erbio dengan memainkan ujung rambut Vee.


“Perjanjian dalam pernikahan kita ini,” ujar Vee membuat tangan Erbio yang sibuk memainkan rambutnya terhenti.


“Maksudmu?!”


“Kita membuat poin-poin perjanjian yang harus didiskusikan, dan itu berlaku saat kita masih menjadi suami istri. Aku rasa pernikahan kita tidak akan berjalan seterusnya, setelah anak ini lahir biar dia diasuh olehku dan kamu bisa menemuinya dengan istri baru mu,” balas Vee dengan menatap Erbio yang mulai mengeraskan rahang.


“Kenapa kamu berpikiran seperti itu? pernikahan bukan untuk main-main. Kita sudah bersumpah dihadapan tuhan!” Erbio tidak terima dengan pemikiran Vee.


“Tapi, siapa tahu nanti kita menemukan jodoh masing-masing? Takdir tuhan tidak ada yang tahu. aku sudah menyiapkan segalanya, coba kamu baca! Kamu bisa mengubah asalkan aku setuju dan menambahkan beberapa poin tidak masalah,” titah Vee memberika Ipad-nya pada Erbio.


Dengan menarik nafas panjang, Erbio mulai membaca sederet tulisan-tulisan dilayar benda tersebut.


1. Tidak boleh ada yang tahu kalau sudah menikah\, kecuali orang-orang yang datang ke pernikahan.


2. Bermesraan hanya di depan keluarga\, tidak boleh ada kontak fisik didepan umum.


3. Tidak boleh ada perasaan satu sama lain.


4. Tidur di kamar terpisah\, kecuali di rumah orang tua.


5. Tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain.


6. Menyiapkan segala keperluan suami semestinya seorang istri\, kecuali berhubungan intim.


7. Bercerai di saat sudah melahirkan.


‘Akan ku buat kau mencintaiku dan tidak lepas dariku.’


“Aku tidak setuju dengan nomor 4, kenapa harus berpisah tidur? Aku tidak mau! Kalau nanti terjadi apa-apa sama anak kita bagimana? Aku tidak mau ambil resiko, kalau nomor 1, 2, aku masih bisa menerimanya,” protes Erbio.


“Oke, kalau begitu kita sekamar. Tapi, tidak ada hubungan intim ,” final Vee.


 


 


“Tidak bisa begitu, Vee. Aku juga manusia normal, itu juga kebutuhan. Apalagi itu dirimu mana bisa aku tahan,” ucapan Erbio membuat Vee melotot.


“Ta—tapi,” ucapan Vee terpotong. “Kamu adalah seorang istri, kamu harus melaksanakan semua kewajiban. Kamu lupa pesan Bunda, apa aku bilang ini ke Bunda,” Erbio menggerakkan ponselnya seperti orang yang berpikir.


“Baiklah, terserah,” pasrah Vee membuat Erbio tersenyum miring.


“Oke, berarti yang nomor 6 dihapus yang bagian belakang. Terus yang nomor 5 akan merubahnya. Kalau aku tidak bisa mencampuri urusanmu, bagaimana nanti kondisi anakku saat ibunya tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, bisa mempengaruhi perkembangannya. Lagi pula bagaimana nanti kalau kamu sedang mengidam dan menginginkanku untuk mencarikan atau membelikan sesuatu, kalau aku tidak menuruti kemauan anakku, nanti dia ileran,” jelas Erbio panjang lebar membuat Vee menghembuskan nafas kasar.


“Oke, terserah.”


“Nomor 7? Aku tidak mau! Gimana nasib anakku nantinya? Kamu jangan egois! Pikirkan perasaan anak kita.”


“Siapa tahu nanti kita memiliki kekasih masing-masing dan mencintainya? Lagi pula hubungan ini tidak didasarkan perasaan, aku sudah lelah. Cepat selesaikan ini, aku butuh istirahat” Ujar Vee.


1. Tidak boleh ada yang tahu kalau sudah menikah, kecuali orang-orang yang datang ke pernikahan.


2. Bermesraan hanya didepan keluarga, tidak boleh ada kontak fisik didepan umum.


3. Tidak boleh ada perasaan satu sama lain.


4. Menyiapkan segala keperluan suami semestinya seorang istri.


5.Bercerai disaat sudah melahirkan.


“Baiklah!” pasrah Erbio.


“Kamu tidak mau menambahkan?” tanya Vee yang dibalas gelengan oleh Erbio sebelum ia berjalan menuju kamarnya. Vee hanya mengedikkan acuh dan mengirimkan perjanjian itu kepada pengacara pribadinya.


“Tidak akan kubiarkan! Lihat saja, kamu akan menjadi milikku selamanya,” desis seseorang tersenyum miring dan menatap potret dirinya dengan orang yang ia cintai.