
Erbio sedang bersantai di ruang tengah dengan setoples keripik kentang di pelukannya, dia bisa begini, karena hari ini memeng weekend. Tidak ada alasan lagi untuknya memanjakan diri dengan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bekerja selama enam hari. Dia tidak bergerak dari posisinya kecuali saat mengambil keripik kentang di dalam toples, sudah dua jam lamanya Erbio dalam posisi tiduran miring dengan ssatu tangan menopang kepalanya. Tatapannya tetap fokus ke arah layar 40 inchi di hadapannya, dia sedang menonton kartun yang si sukai oleh berbagai usia.
“Sayang!” seru Erbio beranjak dari tempatnya menghampiri Vee yang baru memasuki apartemen dengan membawa kantong plastik berukuran sedang yang berisi susu untuk ibu hamil, Vee memang jogging sebentar di taman sebelah apartemen dan mampir ke minimarket yang tidak jauh dari taman tersebut untuk membeli susu yang sudah tinggal sedikit di apartemen, dia juga sekalian membeli sebotol minuman juga di sana.
“Kamu kemana saja?” tanya Erbio dengan nada manja dan memeluk tubuh Vee dari samping.
“Habis jogging sekalian ke mampir ke minimarket beli susu, awas aku berkeringat!” Vee mencoba melepaskan pelukan Erbio, tapi bukannya terlepas Erbio malah mengeratkannya dan menaruh kepalanya di bahunya. Vee merasa jantungnya berdebar lebih cepat daripada saat dia jogging tadi, efek Erbio sangat besar terhadap dirinya, dia tidak bisa mengelaknya.
“Biarin, aku pengin gini lebih lama lagi sama kamu,” balas Erbio yang masih memeluk Vee.
“Tapi aku mau mandi dulu,” ucap Vee mencoba menenangkan jantungnya, agar Erbio tidak menyadarinya. Dia tidak ingin Erbio mengetahui kalau jantungnya berdetak sangat cepat.
“Ya sudah, tapi jangan lama-lama, ya!” seru Erbio melepaskan pelukannya dan mencium pipi Vee, lalu dia melangkah kembali ke tempatnya yang tadi dengan posisi yang sama dia kembali berbaring. Vee menahan senyumnya dan melangkah cepat ke arah kamar mereka.
Vee melangkah ke arah kamar mandi, dia ingin berendam untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau. Vee mengusap pelan perutnya, kehamilannya sudah menginjak bulan ke tiga dan sebentar lagi akan memasuki bulan ke empat. Perutnya sudah mulai terlihat menonjol, dia menatap ke arah kaca besar yang terletak di dinding kamar mandi, dia menatap bayangannya dan mengusap pelan wajahnya yang terlihat begitu kelelahan. Kantung matanya saja sudah sangat terlihat jelas di bawah matanya, dia memang susah untuk tidur di sebelah Erbio.
“Aku tidak tahu ada apa dengan hatiku, tapi kenapa hati ini tidak bisa melupakannya atau membencinya. Apa benar? Aku masih mencintainya? Tidak! Hatiku tidak untuk siapa pun,” gumam Vee sambil menatap pantulan dirinya di cermin tersebut. Vee menghela nafas dan melangkah ke arah bathup dia berendam di air hangat yang sudah dia beri sabun beraroma lily. Dia memejamkan matanya dan mulai mencoba menenangkan pikirannya yang sangat penuh dengan Erbio dan dirinya.
“Sayang! Jangan lama-lama! Tidak baik untuk kandunganmu!” seru Erbio yang baru memasuki kamar mandi, Vee tersikap dan menatap ke arah Erbio yang melihatnya tanpa kedip. Jantung ke duanya sama-sama berdetak sangat cepat. Vee menelan ludah saat Erbio melangkah mendekatinya, Erbio ikut masuk ke dalam bathup dengan pakaian lengkap.
“Ka—,” ucap Vee terpotong saat Erbio menciumnya secara tiba-tiba, Vee memejamkan matanya, dia tidak bisa melihatnya. Dia tidak membalas ciuman Erbio membuat Erbio menggeram di depan bibir Vee. Erbio menggigit bibir bawah Vee membuat Vee terkejut dan membuka mulutnya. Erbio mengambil kesempatan untuk memperdalam ciumannya dan Vee mulai terbuai dengan kelihaian Erbio dalam menciumnya.
“Aku menginginkamu,” lirih Erbio di depan bibir Vee, dia sudah melepaskan bajunya dan Vee sudah berada di pangkuan Erbio. Entah, kapan lelaki itu melepaskan bajunya, Vee tidak mengetahuinya. Vee tidak bisa mengelaknya, dia juga sangat menginginkan Erbio yang sangat berbeda dari tadi, Erbio begitu tampan.
“Vee, jawab aku! Apakah kamu juga menginginkanku?” tanya Erbio dengan suara seraknya di telinga Vee membuatnya meremang dan *** rambut Erbio. Erbio tersenyum dengan perubahan tubuh Vee dengan merespon dirinya, dia kembali mencium Vee lebih intens daripada tadi. Erbio tidak bisa menahannya lagi, sudah daritadi dia menginginkannya saat melihat tubuh berkeringat istrinya itu.