
“Sial,” umpat Vee yang kini sudah merebahkan tubuhnya pada sofa di apartemennya.
“Vee! Buka pintunya!” teriak Erbio di depan pintu apartemen Vee membuat wanita itu terkejut dengan kehadiaran
Erbio. Dia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Gedoran yang terdengar sangat menuntut itu membuat Vee mau tak mau melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Hal pertama yang di lihatnya adalah keadaan Erbio yang sangat kacau, bau alkohol yang sangat menyengat membuat Vee tersadar. Erbio sedang mabuk berat, tubuh jangkungnya hampir terjatuh, kalau saja Vee tak menahannya.
Vee membopong tubuh Erbio untuk duduk di sofa yang sempat di tidurinya. Lelaki itu terus mengumpat dan merancau tak jelas. Vee melangkah ke arah pintu dan mengucinya, setelah itu dia berjalan ke arah dapur dan mengambil air putih untuk Erbio.
“Minum dulu,” Vee menyerahkan segelas air putih untuk Erbio, namun lelaki itu enggan mengambilnya. Terpaksa Vee yang membantunya untuk meminum air tersebut.
Setelah air di dalam gelas habis, Vee meletakkan gelasnya di atas meja. Wanita itu membuka kemeja Erbio dan dasi yang sudah berantahkan di lehernya. Pakaian lelaki itu masih sama seperti siang tadi, itu artinya Erbio tidak pulang ke apartemennya.
“Jangan tinggalkan aku,” Erbio menahan tangan Vee yang hendak berdiri.
“Aku hanya menaruh bajumu di keranjang,” kata Vee yang di balas gelengan lemah oleh Erbio. Vee menarik nafas
dalam-dalam dan kembali duduk di sebelah lelaki itu. Erbio langsung memeluk erat tubuhnya dan menyimpan wajahnya di bahu Vee.
“Maafkan aku,” lirinya dengan suara yang sangat purau. Hati Vee terasa sakit mendengar suara putus asa milik Erbio itu.
“Bukannya aku tidak percaya padamu, sayang. Aku hanya mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Nessa untuk di berikan pada orang tuanya. Aku tahu kalau kamu terjatuh, akibat Nessa dan aku ingin marah padanya. Tetapi, aku masih belum cukup mengumpulkan semua bukti. Aku sudah membicarakan hal ini pada orang tuanya,” Erbio menjeda kalimatnya.
Vee masih terdiam dengan rasa terkejutnya mendengar penyataan Erbio tersebut. Wajah Erbio kini naik dan menatap sendu wajah wanita yang amat di cintainya. Dirinya taku kehilangan wanita itu lagi, dia tidak ingin kembali bodoh seperti dulu. Cukup dulu, sekarang dia tidak akan mengulanginya lagi. Bahkan, kalau bisa, Erbio akan egois untuk memiliki Vee.
“Aku sengaja tidak memberitahumu, karena aku takut kamu akan marah. Tapi, saat kamu mengatakan kata yang sangat aku benci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sudah jujur padamu, aku tidak mau kehilanganmu lagi. Cukup sudah aku menjadi manusia bodoh dengan tidak jujur padamu. Kali ini aku tidak ingin mengulangi kesalahanku lagi, apalagi oleh orang yang sama, haha lucu sekali,” tawa hambar keluar dari Erbio.
“Aku sudah mengirimkan semua bukti pada pengacaraku dan keluarga Nessa sudah bertindak. Malam ini juga Nessa sudah tidak tinggal lagi di sini, hubungan kita tidak akan ada yang mengganggunya lagi. Cukup sudah drama yang ada, aku ingin kita hidup tenang. Apalagi dengan kehadiran malaikat kecil kita ini,” Erbio mengusap perut Vee dengan lembut.
“Aku mohon jangan pernah mengatakan kata sialan itu! Aku tidak ingin kita berpisah, cukup dulu saja. Karena, kita memang masih belum dewasa. Tetapi, untuk saat ini kita sudah sama-sama dewasa. Kita tidak bisa mementingkan ego masing-masing, kita harus berpikiran luas. Jangan memendam semuanya sendiri, masih ada aku, suamimu,” air mata Vee sudah tidak dapat di bendung lagi. Wanita itu menangis, menangisi dirinya sendiri.
“Jangan menangis sayang, aku sakit melihatnya,” lirih Erbio membuat tangisan Vee semakin menjadi. Vee menyadari dirinya terlalu egois dan memetingkan dirinya sendiri. Dia selalu berpegang teguh dengan egonya, tidak bisa melihat sekitarnya.
setia memeluknya dan menenangkannya. Dirinya kecewa pada dirinya sendiri dan membuat orang lain ikut terluka.
“M—maafkan aku yang selalu egois. Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka dan selalu berjuang sendiri,” isak Vee. Wanita itu bagaimana usaha Erbio yang selalu sabar untuk mendapatkan maafnya, meskipun sudah banyak pengabaian yang di berikan olehnya. Namun, lelaki itu tidak pernah menyerah dan selalu tersenyum lembut padanya.
“Aku terlalu bodoh, sampai tidak bisa melihat sifat Nessa sebenarnya. Dulu juga, akibat kebodohanku, kita berpisah. Sekarang aku mulai melakukan hal yang sama lagi. Aku sangat buruk,” gumam Vee yang di balas gelengan lemah oleh Erbio.
“Tidak sayang, kita sama-sama tidak jujur dan saling terbuka. Maka dari itu, semua masalah ini datang. Masalah yang terus menguji hubungan kita agar lebih kuat lagi, kita sama-sama saling belajar dan mencoba untuk memahami,” Erbio menarik dagu istrinya. Lelaki itu menatap lembut manik mata yang terus mengeluarkan air mata itu, tangannya mengusap lembut air mata sang istri dan di kecupnya kedua mata indah itu.
“Mulai saat ini, kita harus saling jujur dan mempercayai satu sama lain. Dari masalah-masalah yang datang ini, buatlah pelajaran penting agar kita lebih percaya untuk saling menguatkan. Kamutahu aku tidak bisa hidup tanpamu kan? Begitu pun denganmu. Aku tahu semuanya dari Enda, sahabatmu itu memarahiku dan mendesakku,” Erbio tersenyum kecil.
“Kalau bukan, karenannya… mungkin kita akan benar-benar terpisah. Aku sangat berterimakasih padanya. Kita mulai dari awal ya?” ucap lembut Erbio.
“Iya, aku ingin memulainya dari awal. Aku akan belajar untuk tidak egois lagi,” balas Vee membuat senyuman Erbio kini merekah.
“Aku mencintaimu, Viola Leony,” bisik Erbio di depan wajah sang istri.
“Aku juga mencintaimu, Erbiolan Ersent,” sahut Vee dengan senyum manisnya.
“Kenapa kamu sampai mabuk begini?” Vee mengusap wajah Erbio yang terlihat lelah.
“Aku tidak bisa menenangkan pikiranku, sehingga aku melampiaskannya pada minuman. Aku sangat kacau saat mendengarmu mengucapkan kata itu. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku memang banyak minum. Tetapi, tidak membuatku mabuk, aku masih bisa sadar,” jelasnya. Memang Erbio tidak terlihat seperti orang mabuk setelah meminum segelas air putih tadi.
“Maafkan aku. Maaf sudah membuatmu kacau seperti ini,” kata Vee dengan suara tercekatnya. Wanita itu merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Erbio saat ini.
“Tidak apa, sayang. Kalau tidak seperti ini, mungkin aku tidak akan mengatakan semuanya padamu dan hubungan kita tidak akan membaik seperti sekarang,” jelasnya membuat hati Vee terenyuh mendengarnya.
“Jangan minum lagi, aku tidak suka,” Erbio menganggukkan kepalanya.
“Tapi, karena mabuk kita bisa bersama seperti ini. Aku tidak terlalu menyalahkannya, karena aku sudah mendapatkanmu seutuhnya untukku. Maaf caranya tidak baik, namun aku bersyukur dengan ini kita bisa bersama seperti sekarang ini.”