The Fools

The Fools
BAB 23



Kini ada yang beda dari keadaan Vee dan Erbio, pasangan itu terlihat sangat lengket. Apalagi, hari ini mereka sama-sama tidak bekerja, karena weekend. Mereka menghabiskan waktu paginya di apartemen milik Vee, Erbio juga ikut menginap di sana.


“Sayang, mau kemana?” tanya Erbio saat Vee beranjak dari ranjangnya. Mereka baru bangun, karena mendengar bunyi alarm ponsel Vee yang lupa di matikan.


“Aku lapar, pengin makan,” jawabnya dengan mengusap pelan perutnya. Erbio terkekeh geli melihat pemandangan tersebut, dia ikut bangkit dan mengusap perut sang istri.


“Anak Ayah kelaparan ya sayang?” bisik lembut Erbio dengan mengecup perut Vee.


“Iya, Ayah. Aku mau sup daging dan Ayah yang membuatnya sendiri,” jawab Vee dengan suara yang mirip anak kecil membuat tawa Erbio pecah seketika.


“Anak Ayah atau Bunda yang pengin sup dagingnya?” goda Erbio.


“Dua-duanya,” sahut Vee dengan nada semangatnya.


“Kalau gitu… mana morning kiss-nya untuk Ayah?” Erbio memonyongkan bibirnya di hadapan Vee. Namun, bukannya mendapat apa yang di inginkan. Erbio malah memekik saat bibirnya di cubit oleh sang istri. Erbio ingin marah, namun saat melihat senyum manis di wajah cantik sang istri. Terpaksa dirinya menyimpan di dalam hatinya saja.


“Aku mandi dulu, nanti kalau selesai panggil aku!” Vee melangkah ke arah kamar mandi meninggalkan Erbio yang hanya bisa mengusap dadanya dengan sabar.


“Untung cantik, untung sayang, untung istri,” gumamnya dengan terus merapalkan kata-kata tersebut. Erbio mulai melakukan aktivitasnya, ternyata bahan-bahan di dalam lemari es sangat lengkap. Jelas saja, Vee sudah belanja kemarin setelah pulang dari kantor.


“Sup daging spesial untuk istri dan anak tercinta!” slogan Erbio dengan penuh semangat. Bahkan, selama memasak lelaki itu terus mengucapkan slogan buatannya.


Diam-diam Vee tertawa geli mendengar suara menggelegar Erbio yang sampai di dalam kamarnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia menatap pantulannya pada kaca besar di meja riasnya. Wajahnya terlihat bahagia sekali, dadanya terasa ringan. Bebannya seperti terangkat dan menjauh.


“Semoga tidak akan terjadi masalah lagi,” doanya dengan penuh harap.


“Sudah cukup dengan semua drama ini. Semoga Tuhan memberikan kita kebahagian,” lanjutnya dengan menatap dirinya sendiri melalui kaca.


Vee merasakan pelukan hangat dari samping, saat menoleh dia mendapati wajah tampan sang suami yang tersenyum hangat menatapnya. Dagu Erbio di letakkan di bahu sang istri, matanya menatap manik mata Vee melalui pantulan kaca.


“Makanannya sudah matang, ayo kita sarapan sama-sama,” Erbio menggandengan lengan Vee menuju meja makan. Harum masakan Erbio membuat Vee tersenyum senang dan tak sabar untuk mencicipinya.


“Silahkan duduk Nyonya Erbio,” Erbio menarik kursi yang kemudian di duduki oleh Vee. Wanita itu terkekeh geli mendengar panggilan dari sang suami.


“Termikasih Tuan Erbio,” balas Vee yang mendapat hadiah kecupan singkat di pipi kirinya. Vee hendak mengambil piring, namun tangan besar menahannya.


“Kali ini biarkan aku yang akan melayanimu,” ujarnya dengan telaten mengambilkan nasi dan sup daging pada


piring Vee. Setelah itu, Erbio mengambil makanannya sendiri. Vee sudah mengambilkannya, namun lelaki itu tetap menolaknya dan tak membiarkan Vee kelelahan. Padahal hanya mengambil nasi saja tidak akan membuat Vee kelelahan.


Mereka makan dengan diam, karena Erbio tidak ingin Vee tersedak. Setelah selesai makan, Erbio mengambil alih


pekerjaan Vee yang membereskan meja makan.


“Erbio, biarkan aku aja,” Erbio menggeleng dan menarik lembut lengan istrinya menuju ruang tengah. Dia mendudukkan Vee di sofa panjang dan menghidupkan televisi berlayar besar di hadapan mereka.


“Kenapa dia jadi sangat cerewet dan manis?” gumam Vee dengan tersenyum tak jelas. Dirinya seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta, sungguh geli membayangkannya. Namun, itu yang dia rasakan saat ini. Vee mengusap wajahnya dan mengembuskan nafas.


“Aku mulai tidak waras,” ucapnya.


Tiga puluh menit berlalu, kini Erbio sudah keluar dengan memakai hoodie cokelat sama persis seperti milik Vee.


Sampai-sampai Vee melihat ke arah baju yang di kenakannya, dia mengerjap beberapa kali sampai tangan Erbio menyadarkannya.


“Ada apa?” tanya dengan mengusap pelan puncak kepalanya.


“Kenapa pakaian kita sama?” bingung Vee yang di balas kekehan geli oleh lelaki itu.


“Kamu lupa? Ini kan hoodie khusus saat kita pacaran dulu? Kamu bilang ini sangat lucu dan mau membelinya,” ujar Erbio membuat Vee kembali mengingat kenang tersebut.


“Tapi, kenapa kamu bisa memakainya? Maksudku… kenapa bisa ada di apartemenku?” bingung Vee yang memang tidak tahu tentang hal tersebut.


“Aku sengaja menyuruh supir pribadiku untuk membawakannya. Sekarang kita berangkat, ayo!” Erbio mengulurkan tangannya di hadapan Vee yang di sambut oleh wanita itu. Mereka keluar dari unit apartemen milik wanita itu dengan bergandengan.


“Kita mau kemana?” tanya Vee saat mereka berada di dalam mobil Erbio.


“Kamu mau kemana?” tanya balik Erbio membuat Vee mengerutkan dahinya.


“Kenapa kamu tanya ke aku?”


“Aku juga tidak tahu kita akan pergi kemana. Jadi, aku tanya kamu,” sungguh Erbio sangat jujur membuat Vee sedikit kebingungan. Padahal, lelaki itu yang mengajaknya keluar. Namun, tujuan mereka masih abu-abu.


Mobil mereka sudah berjalan membelah jalan raya, namun tujuan mereka masih di ketahui. Baik Erbio mau pun Vee mereka sama-sama bingung ingin pergi kemana hari ini.


“Jadi, kita mau kemana?” tanya Erbio saat mereka sudah cukup jauh dari apartemen.


“Aku mau ke CFD!” Erbio langsung menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka sudah tahu tujuannya, dengan kecepatan sedang Erbio membelah jalan yang cukup lenggang. Tak sampai lima belas menit mereka sampai di pusat CFD yang sudah ramai, meskipun sudah tidak pagi lagi. Mereka sama-sama keluar dan Erbio langsung menarik tangan Vee.


“Mau beli jajanan?” tanya Erbio yang di balas gelengan.


“Oke, kamu mau apa?” Vee kembali menggelengkan kepalanya.


“Aku malas ngunyah. Jadi, lihat-lihat aja ya! Kayaknya di sana ada stand panggung deh? Aku dengar ada suara orang bernyanyi di sana. Ayo ke sana!” kali ini Vee yang menarik tangan sang suami menuju stand yang terlihat ramai tersebut.


“Ramai, aku jadi malas mau lihat. Kita duduk di kursi taman sana!” lagi-lagi Vee menarik tangan Erbio menuju kursi taman yang tidak jauh dari tempat mereka.


“Minum dulu,” Erbio menyerahkan botol minuman air mineral yang sempat di belinya kepada Vee yang terlihat berkeringat. Tangannya mengusap keringat di wajah cantik sang istri, mereka tidak menyadari seseorang yang melihat mereka dengan tatapan bingung.