
“Siapa kau?” tanya Vee dengan sedikit gemetar, pasalnya orang itu kini sudah melangkah mendekatinya. Hanya matanya saja yang dapat di lihat oleh Vee. Orang tersebut memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya.
“Kau tidak tahu namaku?” tanyanya tepat di hadapan Vee. Mereka hanya terhalang oleh pintu pagar yang cukup
menjulang tinggi. Vee menggeleng pelan dan terus menatap manik mata yang tak di kenalinya. Bahkan suaranya orang itu saja dirinya tidak tahu sama sekali, dia tidak pernah mendengar suara seperti itu.
“Aku tidak tahu siapa kau! Tapi, kenapa kau selalu memperhatikanku?” tanya Vee dengan sekuat tenaga menahan rasa takutnya. Dia yakin, orang di hadapannya tidak bisa menggapainya. Karena, terhalang oleh pintu di hadapan mereka.
“Tak lama lagi kau akan mengetahuiku, aku berada di sekitarmu, Vee!” serunya sebelum menghilang dari hadapan Vee.
“Vee?!” teriak mama Erbio membuat Vee tersadar.
“Mama?” Vee melihat mama Erbio sudah berdiri tak jauh darinya, beliau mempercepat langkahnya menuju ke arahnya.
“Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya beliau dengan nada khawatirnya. Vee menormalkan degub jantungnya yang terasa sangat kecang.
“Tidak ada, Ma. Vee hanya jalan-jalan kecil saja,” balas Vee dengan senyum tenangnya. Dia tidak ingin
membuat mertuanya khawatir kalau dia mengatakannya dengan sejujurnya tentang apa yang dia lihat tadi.
“Syukurlah, lebih baik kita masuk ke dalam saja. Kamu harus istrirahat! Jamnya sudah pas untuk melakukan aktivitas tidur siang yang sangat efektif,” ujar mama Erbio membuat Vee tertawa kecil. Setelah mendengar itu, tiba-tiba saja dirinya ingin tidur siang.
Vee memasuki kamar Erbio, saat dirinya menghirup aroma khas dari sang suami. Dirinya merasakan tenang dan
nyaman, langsung saja Vee merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik sang suami. Tanpa mengganti pakaiannya, dia sudah sangat ngantuk.
“Aku sangat lelah,” gumam Vee sebelum benar-benar terlelap, tak lama kemudian pintu kamar tersebut terbuka.
Menampilkan sesosok lelaki yang menyampirkan jas hitamnya di bahunya, dengan kemeja biru yang sudah di gulung sampai siku.
“Aku merindukanmu,” katanya dengan mengecup lama kening Vee yang tak terusik sama sekali dengan kegiatannya itu. Setelah di rasa cukup, lelaki itu memposisikan tubuhnya di sebelah Vee setelah melempar jasnya ke atas meja.
Vee langsung memeluk erat tubuh lelaki itu, membuatnya tersenyum senang dan melingkarkan tangannya di punggung Vee untuk membalas pelukan tersebut. Tak lama kemudian, dia menyusul Vee yang sudah berkelana di alam mimpi.
***
Perlahan kelopak mata indah milik Vee terbuka, dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya. Setelah di rasa cukup Vee mulai tersadar, Vee merasakan sapuan hangat di puncak kepalanya, dia mendongak dan menemukan wajah tampan sang suami.
“Kapan dia datang?” gumamnya dengan mengusap pipi Erbio dengan lembut. Vee semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan sang suami yang membuatnya terasa nyaman. Tangan Erbio yang memeluk Vee semakin mengerat.
“Mas sudah bangun?” tanya Vee dengan mendongak, menatap Erbio yang sudah membuka kedua matanya yang terlihat indah. Senyum manis terpantri di wajah tampannya, sehingga muncul lesung pipit yang sangat menawan di wajahnya.
“Bagaimana kau tidak bangun, kalau tangan lembut istriku menyentuh pipiku?” Vee tersenyum dan kembali memeluk kembali Erbio.
“Maaf sudah membuatmu terbangun,” sesal Vee.
“Tidak apa, sayang. Aku juga sudah lumayan lama tidurnya, karena memelukmu,” jelas Erbio. Vee menarik tubuhnya dan terduduk di atas ranjang, sedangkan Erbio masih setia tiduran dengan memeluk perut Vee dengan hati-hati.
“Mas, gak ke kantor?” tanya Vee dengan memainkan jemari Erbio yang mengusap perutnya dengan gerakan sangat pelan.
“Kan ada Mama yang menemaniku,” kata Vee dengan tenang. Sedangkan Erbio terlihat masih belum tenang, lelaki itu ikut duduk di sebelah sang istri dengan tangan yang masih memeluknya dengan posesif.
“Tetap saja, aku masih belum tenang sayang. Kalau orang itu belum di ketahui, aku masih belum bisa tenang. Aku
masih ragu dengan Siska, tetapi aku tetap menyelidikinya. Sudah ku kerahkan orang-orangku untuk mencari tahu semuanya,” Vee terdiam sejenak. Dirinya cukup bimbang mengatakan tentang sosok tadi yang di temuinya.
“Sayang? Kenapa kamu melamun?” bisik Erbio yang membuatnya tersadar.
“Tidak ada, aku hanya lapar,” Vee tak sepenuhnya berbohong. Perutnya mulai kelaparan, padahal dirinya sudah makan sangat banyak tadi. Namun, dirinya masih belum kenyang juga.
“Kamu mau makan apa?” tanya Erbio dengan gemas.
“Aku ingin sup krim,” jawab Vee dengan sangat semangat.
“Oke-oke, kita akan turun dan aku akan membuatkannya untukmu!” Erbio mengganti kemejanya dengan kaos polos
berwarna merah. Vee juga mengganti pakaiannya dengan kaos milik Erbio yang berwarna hitam.
“Sayang?” suara Erbio membuat Vee yang baru selesai mengganti pakaiannya mengalihkan atesinya pada lelaki itu.
“Kenapa?” tanya Vee dengan alis berkerut. Pasalnya wajah Erbio kini memerah.
“Harus ya ganti baju di hadapanku? Aku tidak bisa menahannya!” seakan mengerti dengan maksud Erbio, Vee segera bergegas keluar meninggalkan Erbio yang mengumpat kesal di dalam kamar lelaki itu. Sedangkan Vee hanya tertawa geli mendengarnya.
“Padahal aku tidak sengaja, aku kan lupa kalau ada dia di dalam,” gumam Vee dengan melangkah santai menuju ke arah dapur. Tak lama berselang, Erbio sudah sampai di dapur dengan wajah masamnya. Namun, Vee menghiraukannya.
“Mama kemana?” tanya Vee saat menyadari keadaan rumah sangat sepi.
“Mama keluar saat aku datang tadi,” jelas Erbio yang di balas anggukan oleh Vee. Wanita itu mengeluarkan
bahan-bahan untuk membuat sup krim, Erbio membantunya dengan kemampuan yang di milikinya. Mereka sesekali bercanda, dengan Vee yang menggoda Erbio.
“Vee! Jangan membuatku menyeranmu di dapur!” geram Erbio yang membuat Vee menjadi bungkam seketika. Dirinya kembali melanjutkan kegiataannya tanpa menghiraukan Erbio yang terus menatapnya dengan intens.
“Sup nya sebentar lagi matang, aku akan ke belakang dulu. Ponselku masih berada di gazebo,” ujar Vee yang kini
sudah bergegas menuju ke halaman belakang. Erbio hanya menatap sang istri dengan menggelengkan kepalanya.
“Vee kenapa sangat lama? Sebaiknya aku susul dia,” Erbio meletakkan sup krim yang sudah matang di atas meja. Setelah itu menyusul Vee ke halaman belakang.
Vee menatap ponselnya yang tergeletak di meja gazebo, dengan langkah pelan dia menuju ke arah gazebo.
Namun, ada yang mencekal tangannya. Vee terkejut dan menatap orang yang di lihatnya tadi siang kini sudah berada di hadapannya.
“Hai, Vee!” serunya dengan mengeluarkan sapu tangan dari saku hoodienya.
“Siapa lo!” teriak Erbio membuat sapu tangan yang di pegang orang itu terjatuh.