
“Siska?” ucap kompak mereka, saat melihat Siska yang meletakkan kotak tersebut.
“Jadi, dia pelakunya?” tanya Enda.
“Sudah jelas, dia yang meletakkan kotak itu!” geram Erbio. Lelaki itu mengepalkan tangannya, mereka memilih keluar dari ruangan tersebut. Erbio menghubungi manajer Siska menyuruh wanita itu untuk datang ke ruangannya.
Vee dan Enda duduk diam di sofa, kedua wanita itu sama-sama terdiam memikirkan apa yang mereka lihat tadi. Erbio memilih duduk di kursinya, tatapannya kian menajam, lelaki itu menahan amarahnya yang bergejolak di dalam tubuhnya. Erbio tahu tentang Vee dan Siska, namun dia hanya diam saja. Tentu saja dia mengetahuinya, karena akses cctv, hanya dia yang memegang dan mengontrolnya.
Tak lama pintu ruangan Erbio di ketuk, semua mata menatap ke arah pintu yang sedang di buka setelah Erbio
menyahut dari kursinya. Vee menatap ngeri ke arah sang suami yang kini terlihat begitu menyeramkan.
Siska masuk ke dalam dengan senyuman manis, namun saat melihat tatapan menusuk dari Erbio. Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar, dia juga melihat tatapan tajam yang di layangkan Enda dan Vee yang menatapnya datar. Kenapa kedua wanita itu berada di ruangan bos mereka? Itu yang ada di pikiran Siska. Namun, yang lebih menakutkan adalah tatapan membunuh dari lelaki tampan di hadapannya.
“Saya tidak ingin bertele-tele! Kamu yang menaruh kotak ini di dalam lift?” tanya Erbio dengan suara dinginnya
sambil menunjuk kotak di atas meja kerjanya. Siska menatap kotak tersebut dengan memicingkan matanya.
“I—iya, Pak,” jawab Siska dengan suara gugupnya.
“Jadi, kamu yang mengusik rumah tangga saya dengan Vee?” pertanyaan dari Erbio kali ini membuat Siska
membelalakkan matanya. Dia tidak salah dengarkan? Vee dan Erbio adalah? Kepalanya tiba-tiba pening mengetahui fakta tersebut.
“Maksud Bapak? Vee dan Pak Erbio?” tanya Siska dengan menatap keduanya bergantian. Dia tidak menyangka kalau Vee adalah istri dari atasannya.
“Kamu sudah tahu kan maksud dari perkataan saya?” sinis Erbio.
“M—maaf, Pak, Bu,” Siska menundukkan kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar, dia sangat takut. Apalagi, dia sudah menuduh Vee dengan tidak-tidak. Dia sangat menyesali mulutnya yang tidak bisa di kontrol itu.
“Bukan itu jawaban yang saya inginkan! Saya bertanya apakah kamu berniat menghancurkan rumah tangga saya
dengan Vee? Kenapa kamu menyuruh orang untuk menguntit istri saya? Sekarang apalagi? Kamu memberi kotak ini! Atau jangan-jangan memang kamu yang menyusup ke apartemen kami dengan menaruh kotak di ruang tamu kami?” sarkas Erbio. Siska benar-benar ketakutan kali ini.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak punya mulut untuk menjawabnya?” bentak Erbio membuat Vee dan Enda terkejut. Tubuh Siska semakin bergetar, dia sangat ketakutan dengan kemurkaan dari sang bos.
“S—saya hanya di beri pesan untuk menaruh kotak itu di lift oleh seseorang. Awalnya saya tidak mau, tetapi orang
itu mengancam saya dengan pistol yang berada di tangannya. S—saya juga tidak boleh membuka kotak tersebut, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya korban yang sedang di ancam,” jelas Siska membuat Erbio memicingkan matanya.
“Jangan berbohong!” geram Erbio yang di balas gelengan takut dari Siska.
“Lo tahu siapa orang yang nyuruh lo itu?” tanya Vee yang kini melangkah menghampiri Siska. Dengan cepat Erbio
mengikutinya dan berdiri di sebelah sang istri, Erbio belum sepenuhnya percaya dengan Siska. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada istrinya.
“G—gue gak tahu wajahnya, dia nutupi wajahnya dan memakai hoodie,” jawab Siska membuat Vee dan Erbio terdiam.
“Ternyata orang itu lagi,” kata Vee dengan mengepalkan tangannya.
“Berapa kali lo ketemu sama orang itu?” tanya Enda yang ikut berdiri di hadapan Siska. Wanita itu mengernyitkan
dahinya dan kembali mengingat semuanya.
“Dua kalinya tadi. Sebelumnya, dia mengatakan kalau Vee sedang di ikuti oleh pengaggum rahasia. Awalnya gue gak terlalu menanggapi ucapannya, tapi saat dia menceritakan kalau dia adalah pengaggum rahasia Vee dan ingin memisahkan Erbio darinya. Gue masih belum percaya. Terus, tadi saat gue hendak ke toilet, dia cegat gue dan ngancam gue,” jelas Siska dengan jujur.
“Lo ngerasa pernah lihat mata orang itu?” tanya Vee, karena dia merasa tidak asing dengan tatapan mata dan bola mata milik orang itu.
“Iya, gue pernah lihat orang dengan mata itu. Hanya sekali mungkin, kalau gak salah salah satu rekan bisnis di kantor ini,” kata Siska membuat Erbio berpikir keras.
“Kamu bisa kembali keluar sekarang. Tapi, kamu masih berada dalam pengawasan saya! Ingat! Jangan macam-macam dengan keluarga Ersent, kalau kamu berani… jangan harap kamu bisa hidup tenang!” Siska mengangguk patuh. Sebelum keluar, dia mengucapkan kata maaf dan terimakasih kepada Erbio dan Vee.
***
“Lo yakin, Siska bukan pelakunya?” tanya Enda yang masih betah di dalam ruangan Erbio. Ternyata ruangan lelaki itu begitu nyaman, itulah yang ada di benak Enda. Dia hampir saja terlelap di sana, padahal hanya sofa empuk.
“Bukan dia!” seru Erbio yang masih asik dengan ponselnya, Erbio sedang menerima panggilan dari anak buahnya yang sedang di perintahkan oleh lelaki itu.
“Bukan Siska, gue yakin,” sahut Vee yang kini menikmati buah-buahan yang di kupas oleh Erbio. Wanita itu merengek meminta suaminya untuk mengupaskan buah yang di beli oleh OB tadi. Sengaja Erbio membelinya, agar Vee betah di dalam ruangannya.
“Kok kalian bisa seyakin ini?” Enda mengerutkan alisnya menatap aneh kedua orang yang bersamanya itu.
“Gue udah dapat laporan dari detektif andalan gue, kalau Siska bersih. Dia tidak terlibat apa pun, kecuali dia memang di ancam oleh orang itu. Sekarang, mereka sudah menemukan tempat orang itu. Mungkin sebentar lagi, dia akan tertangkap dan kita akan tahu siapa dalangnya,” jelas Erbio dengan mengambil buah yang hampir masuk ke dalam mulut sang istri, lelaki itu sengaja melakukan itu agar dapat menyentuh bibir manis wanita itu.
“Ih, kamu sengaja kan?” kesal Vee dengan menggerutu kesal. Erbio hanya terkekeh geli melihat wajah kesal yang di tunjukkan sang istri. Dengan gemas, dia mengecupi pipi Vee membuat wanita itu semakin kesal dan mendorong wajah tampannya untuk menjauh.
“Lo berdua gak bisa hargai gue apa?” marah Enda yang kehadirannya kembali di abaikan oleh pasangan suami-istri itu.
“Sirik aja lo! Cari gandengan sana!” ketus Erbio yang di balas delikan kesal oleh Enda. Sedangkan Vee hanya acuh dan kembali menikmati buah segar di pangkuannya.