The Fools

The Fools
END



“Maafkan aku,” lirih Vee saat mereka berada di dalam mobil Erbio yang sedang menuju ke rumah mama Erbio. Vee terus menggumamkan kata maaf, karenanya Enda di culik oleh orang itu. Dia takut Enda kenapa-napa.


“Sudahlah sayang, aku yakin dia tidak akan mencelakai Enda,” kata Erbio yang mencoba menenangkan sang istri yang terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Vino tidak akan melukai Enda!” Vee terdiam.


“Apa maksudmu dengan Vino?” tanya bingung Vee. Erbio menghela nafas kasar, dia mengambil satu tangan Vee untuk di genggamnya.


“Orang yang memperkosa Nessa adalah Vino. Kamu tahu, kenapa Nessa bisa bunuh diri?” Erbio menatap sekilas ke arah istrinya yang sedang berpikir.


“Karena, trauma sama Vino?” Erbio menganggukkan kepalanya.


“Benar, kamu ingatkan saat aku menarikmu keluar saat kamu makan bersama Vino? Ah… bukan, tapi lebih tepatnya. Vino menghampirimu,” ujar Erbio dengan satu tangan memainkan jemari sang istri yang berada di genggamannya.


“Nessa bertemu dengan bertemu dengan Vino?” Vee melebarkan matanya.


“Iya, jawabanmu tepat sekali. Vino sudah tahu semua hubungan kita bertiga, aku, kamu dan juga Nessa. Aku sudah


mendapatkan semua infromasi yang di sembunyikan oleh Vino. Dia merupakan salah satu Mafia di Eropa, dia sering gonta ganti pasangan hampir di setiap harinya. Entah, mungkin waktu itu adalah hari kesialan Nessa sehingga bertemu dengan lelaki keji seperti Vino…


… Singkatnya, Nessa mengandung anak Vino dan mengatakan kalau dia akan mempertahannya. Meskipun, Vino menyuruhnya untuk di gugurkan. Karena, Nessa keras kepala. Vino menculiknya dan mengugurkan anaknya sendiri. Tentu saja hal itu membuat Nessa hampir kehilangan nyawanya. Sekarang,” Erbio sudah berhenti di depan gerbang rumah mamanya. Lelaki itu memusatkan tatapannya pada Vee yang terdiam mendengarkan ceritanya.


“Vino sudah terobsesi untuk mendapatkanmu. Kamu tidak perlu khawatir, karena salah satu anak buah Vino adalah orang suruhanku dan Enda akan aman dengannya. Yang terpenting adalah… kamu tidak boleh jauh dari sisiku. Karena, Vino bisa melakukan apa saja untuk mendapatkanmu, sayang. Sial!” Erbio menggeram.


“Kalau saja aku tidak membawamu untuk di perkenalkan padanya. Mungkin saja, kamu dan aku akan hidup tenang


tanpa adanya gangguan darinya. Kamu jangan jauh-jauh dariku, karena Vino bisa saja berada di dekatmu dan mengambilmu dariku,” Vee hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin membantah untuk kali ini.


“Bagus, anak buahku sudah berada di sana dan akan membebaskan Enda. Sekarang kamu ke dalam dan duduk bersama kedua orang tuaku. Aku akan menyusul mereka. Karena, Vino tidak mudah untuk di takhlukkan,” Erbio menarik lembut tangan Vee untuk masuk ke dalam rumah mamanya.


“Apakah aku tidak bisa ikut denganmu? Aku bisa menjadi umpan agar Vino tertangkap. Karena, yang di incar


olehnya adalah aku. Aku tidak ingin kamu terluka olehnya,” pinta Vee membuat tatapan Erbio menjadi sangat tajam.


“Viola Leony! Kamu tetap di sini atau aku juga tidak akan membebaskan Enda!” sungguh pilihan yang sangat sulit


untuknya. Erbio dan Enda adalah hidupnya, Vee tidak bisa memilih antara keduanya.


“Aku berjanji tidak akan ada yang terluka,” Vee mengangguk lemah. Erbio mengecup keningnya sangat lama, Vee


meneteskan air matanya. Dia sangat tidak rela melepas Erbio pergi ke sana dan dia juga tidak rela Enda dalam bahaya, karenanya.


***


Sudah tiga jam lamanya Erbio pergi. Namun, sampai saat ini lelaki itu masih belum kembali. Bahkan tidak mengabarinya sama sekali, Vee sangat gelisah. Dia terus menatap ponselnya dan berharap nama sang suami muncul di layar ponselnya itu.


“Vee, tenanglah. Erbio tidak akan terluka, pasti ada masalah sedikit. Kamu tenang saja, Papa sudah mengirim


bebepara anak buah Papa yang sedang mengikuti Erbio. Mereka mengatakan tidak ada yang terluka sama sekali,” jelas papa Erbio membuat Vee menghela nafas leganya.


“Semoga saja itu benar,” gumam Vee.


“Kamu mau kemana sayang?” tanya mama Erbio saat menantunya itu beranjak dari sofa. Vee tersenyum kecil menatap mertuanya yang terlihat sangat protektif padanya.


“Vee ke kamar mandi, Ma. Vee sudah tidak kuat lagi,” jelas Vee membuat kedua mertuanya terkekeh geli melihat wajah sang menantu yang terlihat malu mengatakan kata itu.


“Ya sudah, Mama antar,” Vee hanya menganggukkan kepalanya. Mereka menuju ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur, karena itu adalah kamar mandi yang sangat dekat. Vee masuk ke dalam dan mama Erbio menunggu di dapur dengan menyeduh the hangat.


Sekitar lima menit, Vee sudah selesai dengan urusannya. Dia membuka pintu kamar mandi, saat Vee melangkahkan kakinya untuk keluar. Tiba-tiba mulutnya di bekap oleh sapu tangan. Vee meraih apapun untuk memberitahu mama Erbio yang sedang memunggunginya.


“Vee!” pekik mama Erbio saat melihat Vee tak sadarkan diri. Vee di bawa oleh Vino yang kini sudah tidak menutupi wajahnya. Vino menyeringai senang, karena wanita yang di inginkannya sudah berada di dalam gendongannya.


“Mama? Di mana Vee?” tanya panik papa Erbio yang ikut mengejar sang istri yang berlari ke arah halaman belakang. Mereka kalah, Vino sudah menghilang dengan mobilnya.


“Kenapa Vee bisa di culik lelaki itu, Pa?” tanya mama Erbio yang sudah menangis.


“Itulah sebabnya Erbio belum kembali. Vino berhasil kabur dan sekarang dia menculik menantu kita!” titah papa Erbio dengan tatapan tajamnya. Tangan beliau sudah mengepal.


“Erbio! Vee di culik oleh Vino. Lelaki itu datang ke rumah,” papa Erbio memutuskan panggilannya sepihak. Di sana Erbio sudah menggeram marah dan langsung memasuki mobilnya. Erbio mencari titik keberadaan sang istri yang berada di kalung berlian pemberiannya. Erbio menyuruh beberapa anak buahnya yang berada di dekat Vee untuk mencegat Vino dan menyelamatkan Vee.


“Sial! Gue kecolongan!” geram Erbio dengan melajukan mobilnya di atas rata-rata.


Sepuluh menit dapat di tempuh dengan cepat oleh Erbio, dia melihat anak buahnya sudah berhasil menangkap Vino dan Vee masih tak sadarkan diri di dalam mobil anak buahnya. Erbio melangkah cepat dan langsung memukul wajah Vino dengan keras.


Darah segar keluar dari hidung lelaki itu, Erbio terus menghajar lelaki ******** itu dengan membabi buta


sampai polisi datang untuk melerainya. “Matilah kau kaparat!” sekali lagi Erbio dapat melumpuhkan Vino dengan menendang perut lelaki itu. Sehingga, Vino jatuh terbatuk di aspal.


“Membusuklah di penjara!” seru Erbio saat Vino sudah hilang ke sadarannya dan di bawa oleh polisi yang di panggil olehnya.


“Kita pulang sayang,” lirih Erbio dengan membopong tubuh Vee memasuki mobilnya.