The Fools

The Fools
BAB 09



“Nessa?!” Vee berdiri dan menatap wanita yang sudah lama tidak di temuinya, sedangkan Nessa juga ikut terkejut saat melihat Vee berada di dalam ruangan Erbio.


“Vee?” gumamnya dengan mengembangkan senyumnya. Wanita itu menghampiri Vee yang mengernyitkan dahinya. Vee merasakan ada gejolak aneh dari tubuhnya. Namun, ketika Erbio datang dan menghampirinya, Vee mulai kembali tenang.


“Kamu tidak apa kan, sayang?” tanya Erbio dengan menyentuh wajah Vee yang terlihat sedikit pucat. Vee menggeleng dan tersenyum menangkan. Kini, tatapan Erbio menuju ke arah Nessa yang terdiam mematung melihat interaksi mereka.


“Wah… apakah kalian sudah baikan dan kembali bersama?” tanyanya dengan nada senangnya, Vee merasa ada yang aneh dari ekspresi yang di tunjukkan Nessa kepadanya. Tetapi, dia segera menepisnya. Vee menatap gelas susu yang berada di atas meja Erbio, segera dia meneguknya dan kembali meletakkan gelas tersebut.


“Kamu ingin makan apa?” tanya Erbio dengan mengambil gelas tersebut.


“Aku tidak lapar,” jawab Vee dengan suara pelannya.


“Aku tahu kamu kelaparan, kamu kan baru menyelesaikan laporan penting tadi! Pokoknya kamu tidak boleh keluar, karena aku sudah memesankan makanan kesukaanmu!” serunya dengan menuntun Vee untuk kembali duduk di sofa dengan Erbio yang duduk di sebelahnya. Nessa tersenyum miris, karena kehadirannya di abaikan oleh kedua insan itu.


“Lo kenapa datang ke kantor gue lagi? Bukankah gue sudah kasih lo peringatan untuk menjauh dan jangan ganggu


gue atau pun Vee!” sinis Erbio membuat Nessa menghembuskan nafas kasar, wanita itu langsung mengambil tempat di hadapan keduanya.


“Gue tahu kesalahan gue sudah fatal. Tapi, lo gak bisa salahin perasaan Erbio! Bagaimana pun gue berhak mencintai seseorang. Gue juga sudah berusaha untuk menata hati dan mencoba melupakan lo! Perlahan tapi pasti, gue sudah bisa mengikis rasa itu dan sekarang gue ingin berdamai sama lo. Gue ingin mendapatkan kesempatan kedua,” jelasnya dengan suara lirih. Vee tetap bungkam, sebenarnya dirinya enggan berada di tengah-tengah mereka, dirinya juga tidak bisa menyalahkan perasaan seseorang.


Tetapi, tetap saja… mereka tahu batasannya. Jika, orang itu sudah memiliki orang lain, seharusnya Nessa tahu tentang batasan dan juga rasanya. Wanita itu tidak boleh menyimpan rasanya terlalu dalam. Karena, bukan hanya satu yang akan terluka, melainkan yang lainnya juga. Vee tahu, Erbio berbeda saat pertama kali bertemu untuk pertama kalinya. Lelaki itu terlihat seperti zombie, tak ada sinar kehidupan di tatapan matanya.


“Gue gak bisa kasih lo kesempatan! Sebaiknya lo pergi sebelum gue panggil keamanan untuk nyeret lo keluar dari sini!” geram Erbio membuat Vee terkejut. Nessa juga tidak percaya dengan kalimat yang di lontarkan lelaki di hadapannya itu.


“Vee, gue mohon maafin gue dan bilang ke Erbio, kalau gue sudah berubah dan ingin berteman baik dengan kalian


berdua. Gue mohon, Vee,” ucap Nessa dengan memegang tangan Vee. Erbio segera menjauhkan tangan Nessa dari Vee, lelaki itu menatap tajam Nessa yang matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan Vee merasakan dilema.


“Bio, tenangkan dirimu dulu,” ucap lembut Vee dengan mengelus lengan kokoh Erbio. Tatapan Erbio menjadi lembut, ketikan bertubrukan dengan manik mata indah wanitanya.


“Jangan terlalu dendam dengan masa lalu, biarkan mereka memperbaikinya. Berilah kesempatan sekali lagi dan mencoba untuk berdamai,” ujar Vee membuat Erbio tersenyum miring dan mendekatkan wajah mereka. Vee menahan nafasnya, karena wajah mereka sangat dekat, bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan satu sama lain.


“Kamu mengatakan itu dengan tulus?” tanyanya membuat Vee dapat menghirup aroma mint dari mulut Erbio. Vee mengangguk kaku dan matanya terus tenggelam oleh manik mata tajam milik Erbio yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat.


“Katakan, sayang,” lirih Erbio dengan mencuri satu kecupan di ujung bibir wanitanya. Vee mulai kehilangan kesadarannya, dia hanya bisa mengangguk.


“Katakan!” desak Erbio dengan menyentuh dagu Vee.


“Kalau begitu, kamu juga harus berdamai dengan masa lalu dan bisa menerima status kita! Bagaimana? Kamu mengatakan kalimat itu dengan mudah dan aku juga ingin memintanya darimu,” Erbio dapat melihat wajah wanitanya menegang untuk beberapa saat sebelum, dia kembali menormalkan ekspresinya. Nessa hanya bisa diam melihat kejadian itu.


“Aku akan berdamai dan menerima status kita, sayang,” balas Vee dengan senyuman lembutnya. Hati Erbio berdesir mendengar panggilan itu dari orang yang sangat di cintainya.


“Terimakasih, sayang,” lirih Erbio dengan mendekap erat wanitanya. Tak lupa kecupan hangat lelaki itu sematkan di


puncak kepala wanitanya. Dirinya sangat senang dengan kalimat yang di ucapkan Vee, sungguh kalimat yang sangat indah yang pernah di dengar olehnya. Bahkan, dia ingin merekamnya untuk di dengarkan setiap waktu.


“Lo sudah dengarkan? Bio sudah maafin lo dan kasih lo kesempatan,” jelas Vee kepada Nessa membuat wanita itu


tersenyum senang mendengarnya. Nessa langsung memeluk Vee dan mengucapkan kata terimakasih.


“Tapi, hubungan kita tidak akan seakrab dulu. Sekarang lo teman gue dan istri gue,” jelas Erbio yang di balas


anggukan cepat dari Nessa. Wanita itu sangat bahagia, sehingga tanpa sadar memeluk erat Erbio. Tetapi, saat menyadari Erbio tak membalass pelukannya, Nessa menarik tubuhnya dan tersenyum kikuk.


“Maaf, tadi gue terlalu senang,” ungkapnya yang di balas senyuman kecil dari Vee. Wanita itu merasa tidak senang


melihat Nessa memeluk Erbio dengan erat. Meskipun, Erbio tidak membalas pelukan wanita itu. Tapi, tetap saja dirinya merasa terbakar.


“Gue balik dulu, ada kerjaan di kantor. Nanti gue hubungi kalian, oh ya… selamat atas pernikahan kalian,” ucapnya sebelum beranjak pergi dari sana.


“Sejak kapan Nessa datang ke sini?” tanya Vee kepada Erbio yang terus memeluknya.


“Seminggu yang lalu,” jawab Erbio yang membuat Vee kurang puas.


“Sudah berapa kali?” tanyanya lagi membuat Erbio menatap wanitanya dengan heran. Tapi, dia tetap menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Vee.


“Sudah tiga kalinya sekarang, yang pertama dia tidak bertemu denganku, karena aku sedang rapat. Dan… yang kedua, aku langsung mengusirnya,” jelas Erbio membuat Vee mengembuskan nafas lega. Wanita itu berbalik dan menatap Erbio.


“Apakah kalian sebelumnya pernah bertemu?” Vee memeluk tubuh Erbio yang membuatnya nyaman dan tenang.


“Tidak sama sekali, karena aku tahu dia sedang berada di luar negeri. Dia juga tahu aku di sini, karena majalah


bisnis dan tentang pernikahan kita. Dia melihat laptopku yang menyala dengan background pernikahan kita,” jelas Erbio dengan mengecupi puncak kepal Vee.  Wanita itu tidak ingin melepaskan pelukan ternyaman itu, bahkan saat supir pribadi Erbio datang dan membawakan makanan yang di minta Erbio, wanita itu masih tetap dalam posisinya. Erbio tidak merasa keberatan sama sekali.