The Fools

The Fools
BAB 19



“Hari ini ulang tahun kantor kan?” tanya Enda saat mereka keluar dari lift.


“Emang iya?” tanya balik Vee membuat Enda berdecak kesal.


“Terus kita di pulangkan sore ini ada apa, Neng?” kesal Enda dengan sangat gemas mencubit pipi tembam Vee dengan cukup kuat. Sehingga membuatnya meringis pelan.


“Iya, kan gue lupa,” cicit Vee.


“Makanya jangan ****** terus yang lo ingat!” kali ini Vee sudah benar-benar kesal dengan sahabatnya itu.


“Lo bisa gak sih buat stop ngomongin masalah tadi?” tanya Vee dengan nada lelahnya.


“Iya-iya, gue janji akan bungkam,” Enda menutup bibirnya dengan rapat-rapat. Mereka kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda.


“Nanti lo berangkat sama siapa?” pertanyaan itu membuat Vee mengalihkan pandangannya ke arah Enda yang berjalan bersisian dengannya.


“Sama lo deh, soalnya gue gak mungkin sama si laki!” ketus Vee yang di sambut kekehan geli dari Enda.


“Ya udah, nanti gue jemput lo jam setengah tujuh!” Vee hanya mengacungkan jempolnya kepada Enda.


***


Malam pun tiba, kini Vee menggunakan gaun panjang sampai mata kakinya. Gaun hitam tanpa lengan dengan renda transaparan di atas dadanya. Rambut panjangnya sengaja di sanggul dengan di beri hiasan jepitan bunga dan mutiara.


“Perfect,” gumamnya saat menatap tampilan dirinya di depan cermin. Bibirnya kini terlihat merah menyala, dirinya memang sengaja dan tinggal menunggu beberapa menit lagi.


“Lo cantik dan terlihat menggoda banget,” ujar Enda saat Vee keluar dari pintu. Enda memakai gaun panjang


berwarna merah dengan lengan pendek. Rambutnya juga di biarkan terurai dengan sedikit bergelombang.


“Lo juga cantik dan terlihat jomblonya,” balas Vee membuat Enda mendengus.


“Memang lo sahabat terbaik gue,” sinisnya membuat Vee tersenyum geli.


“Sudahlah, gue gak sabar untuk acara malam ini. Have fun!” Vee menarik lengan Enda menuju ke arah mobil wanita itu. Perjalan mereka tidak memakan waktu lama. Sekitar empat puluh menit. Kini mereka sudah menapakkan kakinya di karpet merah.


Acaranya jam tujuh tepat dan mereka terlambat lima belas menit, sudah ramai dan banyak sekali yang datang. Bukan hanya karyawan saja, melainkan para kolega dan rekan bisnis mereka juga di undang pada acara besar tersebut.


“Semuanya natap kita kali ini, gila!” bisik Enda dengan berdecak kagum, karena kini mereka menjadi sorotan banyak orang. Sebenarnya bukan mereka berdua yang menjadi pusat perhatian melainkan Vee yang kini berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.


“Ini Vee? Astaga?! Lo cantik banget malam ini,” decak kagum Intan yang menghampiri mereka berdua. Vee hanya


memamerkan senyum manisnya yang membuat seisi ruangan kembali berdecak melihat hal tersebut.


“Biasa aja kali, Tan. Gue tetap Vee biasanya,” balas Vee dengan mata yang kini menatap salah satu lelaki yang


menatapnya dengan sangat tajam. Namun, Vee hanya melongos, tanpa berniat menatapnya lebih lama lagi.


“Ini gak biasa Vee! Lo beda banget dan terlihat wow,” ujar Siska yang baru datang bersama Erbio di sampingnya.


“Lo cantik juga Sis, ya kan Pak Erbio?” kata Vee membuat Siska tersenyum malu.


“Iya, tapi kamu sangat berbeda malam ini Viola,” jawab Erbio dengan menatap intens Vee. Tidak ada yang melihat tatapan itu, hanya Vee saja yang mengetahuinya.


“Pak Erbio, sebentar lagi Pak Ardi dan Ibu Amora tiba,” ujar sekretaris Erbio yang menyampaikan kedatangan kedua orang tuanya. Selama Vee bekerja di perusahaan milik keluarga Erbio, tidak ada satu pun anggota keluarga Ersent yang datang ke acara ulang tahun perusahaannya. Kini Vee mulai terlihat gelisah.


“Arahkan mereka ke tempatnya,” perintah Erbio dengan tegas.


“Nona Viola? Kenapa anda terlihat gelisah begitu?” tanya Erbio yang menyadari kegelisahan dari Vee. Enda menatap sahabatnya dengan mata yang hampir keluar, tentu saja wanita itu tahu apa yang sedang ada di pikiran sahabatnya.


“T—tidak, saya tidak gelisah,” jawab Vee dengan senyum sopannya.


“Siska, kamu pantau acara malam ini. Saya akan menemui kedua orang tua saya dulu,” Erbio langsung berlalu meninggalkan keemapat wanita tersebut.


“Gimana rasanya habisin setengah hari dengan pak Erbio?” tanya Intan tiba-tiba yang membuat Siska tersenyum


malu-malu. Vee hanya mencebikkan bibirnya, tetapi telinganya selalu siaga dengan sangat tajam untuk mendengar semuanya.


“Gue senang banget! Kalian tahu gak? Gue bahkan makan berdua sama pak Erbio. Duh, jantung gue gak bisa bekerja dengan normal. Apalagi saat berdiri di sebelahnya, bahkan ada orang yang menyangka kita adalah pasangan. Beruntungkan gue kalau itu benar terjadi?” jelasnya dengan senyum bahagia yang tak pernah pudar dari bibirnya.


“Tapi, gue dengar pak Erbio sudah nikah lo!” celetuk Vee tiba-tiba membuat Enda berusaha keras menahan tawanya yang akan meledak. Sedangkan Siska dan Intan kini terlihat sedikit terkejut dengan ungkapan yang di lontarkan oleh wanita itu.


“Lo tahu dari mana?” tanya Siska dengan wajah yang mulai murung.


“Gue gak sengaja aja lihat dia bergandengan mesra dan sorry ya, gue gak sangaja lihat mereka ciuman,” jelas


Vee dengan sangat hati-hati. Wajah Siska semakin muram, setelah mendengar pernyataan itu.


“Tapi, bisa aja itu belum kuat,” sahut Intan.


“Kita lihat aja nanti, pasti dia di kenalkan oleh keluarga Ersent. Gue yakin, mereka akan mengumumkan hal itu malam ini, mengingat pemiliknya baru kali ini hadir di acara ulang tahun kantornya sendiri,” Vee sekuat tenaga tidak berteriak bodoh untuk dirinya sendiri. Apalagi, saat melihat wajah memerah Enda yang menahan tawanya.


“Vee bisa ikut saya sebentar?” suara Erbio membuat Vee dan ketiga wanita yang bersamanya menoleh ke arah Erbio yang sudah berada di dekat mereka.


“Iya, Pak,” Vee mengikuti langkah Erbio menuju salah satu ruangan.


“Tunggu!” Vee manahan lengan Erbio, sehingga lelaki itu menghentikan langkahnya.


“Aku tahu waktu ini akan tiba. Tapi, aku tidak mau mereka melihat wajahku. Cukup katakan kalau kamu sudah memiliki istri dan sedang hamil, sehingga tidak bisa ikut ke dalam pembukaan. Aku mohon, bujuk Papa sama Mama,” ujar Vee dengan wajah memohonnya.


“Tapi, mereka ingin mengenalkan mantunya ke hadapan semua orang, Vee!” titah Erbio membuat Vee semakin gelisah. Wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan sukup kuat membuatnya meringis sendiri.


“Jangan lukai dirimu sendiri, aku tidak suka,” Erbio mengusap bibir Vee yang di gigitnya. Lelaki itu memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir merah Vee dengan tangan yang memeluk erat pinggang Vee. Mereka seakan lupa kalau masih berdiri di depan pintu tempat kedua orang tua Erbio berada.


“Vee, Erbio? Apa yang kalian lakukan di depan pintu?” Vee mendorong wajah Erbio dengan sekuat tenaganya. Sehingga pangutan mereka terlepas.