The Fools

The Fools
BAB 32



Vee yang mendengar suara tembakan langsung terbangun dari tidurnya, dia menatap ke arah samping dan tidak menemukan keberadaan Erbio. Tanpa berpikir panjang Vee langsung menyibak selimutnya dan turun ke lantai bawah lebih tepatnya halaman belakang.


“Vee ada apa?” tanya mama Erbio yang baru keluar dari kamarnya, di susul oleh sang suami yang berdiri di belakang beliau.


“Vee juga tidak tahu, Ma. Tapi, Erbio tidak ada di kamarnya,” terang Vee membuat mereka langsung bergegas ke arah keributan yang berada di halaman belakang.


Vee melihat Erbio yang berdiri di dekat pintu, banyak orang di sana. Vee tahu mereka adalah anak buah dari Erbio.


Tapi, ada satu orang yang membuatnya manahan nafas. Seseorang yang memakai hoodie dan putup wajah. Orang itu sudah di kepung oleh anak buah Erbio. Vee malangkah pelan ke arah sang suami yang terlihat menahan amarahnya.


“Mas, tidak kenapa-napa kan?” tanya Vee dengan memegang bahu Erbio membuat lelaki itu tersentak kaget saat merasakan tangan lembut sang istri.


“Aku tidak apa-apa, sayang. Kenapa kamu turun?” tanya Erbio dengan mendekap erat Vee. Tatapannya kini beralih lembut saat melihat wajah sang istri.


“Aku takut Mas kenapa-napa. Suara tembakannya sangat keras,” kata Vee dengan memeluk erat pinggang Erbio.


“Tidak ada yang bisa melukaiku, sayang. Kamu tenang saja, aku ini Erbio Ersent, suamimu,” ujar Erbio mencoba menenangkan sang istri.


“Siapa orang itu? Apakah dia yang sedang mengganggu kalian?” tanya papa Erbio yang sudah berdiri di hadapan sang putra.


“Sepertinya, iya. Karena, dia mencoba untuk membunuhku!” sahut Erbio dengan tenang. Bagaimana lelaki itu bisa tenang? Padahal musuhnya sudah ada di depannya dan berniat untuk mencelakainya. Sungguh, Vee tidak habis pikir dengan otak lelaki itu.


“Kenapa kamu terlihat tenang? Padahal musuhmu hampir mencelakaimu?” marah Vee. Erbio menghela nafas kasar dan kembali menatap sang istri yang menatapnya tajam.


“Kalau aku panik, siapa yang akan menenangkanmu, sayang?” tanya Erbio membuat Vee bungkam seketika. Perkataan itu sungguh benar, kini Vee menatap ke arah orang yang memakai hoodie itu. Matanya sama seperti yang di lihatnya kemarin.


“Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu!” serunya membuat semua orang kini mmusatkan perhatiannya pada orang aneh itu.


“Hai Viola Leony! Kau sangatcantik, sayang. Aku berjanji akan mendapatkanmu. Kau akan menjadi milikku dan hidup bahagia denganku, salam penuh cinta dari pengagum rahasiamu ini!” setelah mengucapkan itu. Sebuah asap muncul tiba-tiba, bukan tiba-tiba melainkan orang itu melemparkan sesuatu. Sehingga penglihatan semua orang bermasalah. Vee merasakan pelukan dari Erbio semakin mengerat.


“Berarti dia seorang laki-laki!” kata Erbio tiba-tiba.


“Bukankah dari postur tubuhnya, dia memang terlihat seperti seorang laki-laki?” tanya papa Erbio.


“Kalau begitu, apakah Siska ada hubungannya dengan orang itu?” tanya Vee tiba-tiba.


“Aku juga tidak tahu, detektifku sudah mencarinya. Namun, tidak menemukan apa-apa. Aku sudah mengerahkan unit yang lebih elit lagi dan kita akan menunggu hasilnya. Sebaiknya kita kembali masuk, biarkan mereka yang menjaganya!” Erbio menggendong tubuh Vee sebelum wanita itu akan lanjut bertanya lagi.


Vee hanya terdiam dengan pikirannya yang terus berkecamuk dengan orang tadi dan Siska. Dia bingung, apakah mereka mempunyai hubungan? Apakah ini salah satu cara licik Siska untuk mendapatkan Erbio? Vee memejamkan matanya, dia mencoba menganyahkan pemikiran buruk itu. Dia yakin, bukan Siska yang melakukan hal tersebut.


“Jangan bebani pikiranmu! Biarkan aku yang mengurusnya,” kata Erbio setelah meletakkan Vee di atas ranjangnya. Vee hanya mengangguk kecil dan kembali masuk ke dalam selimut tebal. Erbio ikut masuk ke dalam selimut dan mendekap erat sang istri.


***


“Aku ingin masuk kerja hari ini. Aku bosan di rumah tanpa melakukan aktivitas apa-apa. Please, izinkan aku,” rengek Vee yang mulai di lancarkan ketika dirinya baru bangun tidur. Erbio sudah melarangnya dengan tegas, namun Vee tetap keras kepala dan mengatakan ingin bekerja hari ini.


“Tidak sayang, kamu aman di rumah ini. Aku sudah memperketat perjagaan dan beberapa alat lainnya. Kamu tidak akan ke kantor!” tegas Erbio yang membuat Vee mendengus kesal. Vee menarik lengan Erbio agar lelaki itu menatapnya.


“Aku mohon, aku bosan,” mohonnya membuat Erbio terlihat frustasi.


“Tidak!”


“Mas Bio,” rengek Vee dengan mata berkaca-kaca. Erbio menghembuskan nafas.


“Baiklah,” putus Erbio. Dia sudah menyerah saat melihat sang istri hampir menangis.


“Yey! Terimakasih, suami tampanku!” Vee menarik wajah Erbio dan menghujaminya dengan ciuman di setiap sisi wajah tampannya.


“Asalkan, kamu harus hati-hati dan kalau ada apa-apa teriak yang keras!” titah Erbio yang langsung di balas anggukan patuh oleh Vee.


“Kita berangkat bersama dan sarapan dulu!” Erbio menggenggam tangan Vee keluar dari kamarnya. Mereka sampai di meja makan yang sudah terdapat kedua orang tua Erbio yang sedang menyantap sarapannya.


“Vee berekarja hari ini?” tanya papa Erbio saat melihat penampilan menantunya.


“Erbio tidak bisa menolaknya, dia sangat pandai membuat Erbio luluh,” adu Erbio membuat kedua orang tuanya tertawa. Sedangkan Vee hanya menatap tajam sang suami.


“Tidak apalah, lagian ada kamu juga dan di sana ada beberapa anak buahmu yang akan menjaga Vee. Papa dan Mama juga sudah memperketat keamanan kantormu,” jelas papa Erbio membuat putranya mendesah lega mendengarnya.


Setelah itu mereka sarapan dengan tenang. Vee dan Erbio berangkat ke kantor, sedangkan kedua orang tua lelaki itu akan menemui teman mereka yang tak lain besan mereka. Mereka akan membicarakan tentang masalah yang menimpa rumah tangga anak mereka, mungkin mereka akan menemukan jalan keluar untuk menangkap pelakunya.


“Ingat pesanku!” ingat Erbio untuk kesekian kalinya yang membuat Vee jengah mendengar lelaki itu terus mengatakan kalimat yang sama selama perjalanan mereka menuju kantor. Vee sendiri sudah mual mendengarnya, namun dia hanya bisa pasrah agar dirinya di perbolehkan untuk keluar rumah dan bertemu dengan Enda.


“Iya, sayang!” kata Vee dengan mengecup pipi Erbio sebelum keluar dari mobil lelaki itu. Erbio hanya menggelengkan kepalanya, baru saja di katakan jangan berlari. Tetapi, wanita itu sudah berlari dan mengejar Enda yang baru turun dari mobilnya.


“Akhirnya selingkuhan bos masuk kerja juga!” Vee dan Enda menghentikan langkahnya. Mereka sudah berada di


lantai tempatnya bekerja. Siska datang dengan menatap sinis ke arah Vee yang hanya menatap wnaita tersebut dengan datar. Enda yang akan maju untuk melontarkan kata-katanya, di tahan oleh Vee.


“Tentu saja. Setelah dua hari menemani kekasih tercinta. Tidak ada salahnya bukan kembali bekerja untuk menghilangkan rasa bosan berada di rumah mewah seharian?!”