The Fools

The Fools
BAB 11



Hubungan Erbio dan Nessa sudah dekat, tapi hanya ssebatas teman biasa. kadang-kadang Erbio menolak keingina Nessa yang meminta bantuannya, Erbio tidak ingin kejadian dulu kembali terulang kembali. Cukup susah untuk mengembalikan semuanya, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.


“Kamu ikut aku meeting di luar, nanti aku tunggu kamu di lobby!” ujar Erbio dari sebrang telepon. Vee hanya mengiyakan permintaan Erbio yang tiba-tiba saja menghubunginya langsung menggunakan telepon kerjanya.


“Haah,” Vee menghela nafas panjang dan memejamkan matanya, semua pekerjaannya sudah dia selesaikan. Sebenarnya, dia sangat senang, karena akan keluar. Meskipun itu adalah meeting penting, tapi setidaknya dia merasa sedikit bebas.


“Lumayan bisa menghirup udara segar,” gumamnya dengan sebuah senyum sumringah di wajahnya. Vee akan meminta Erbio membelikannya makanan jepang, tiba-tiba dirinya sangat menginginkan makanan dari negara sakura tersebut.


“Membanyangkan sup miso sudah buat ngiler aja,” gumamnya terkekeh geli. Vee bersenandung kecil dengan menenteng tas kerjanya, dia sedang menunggu lift yang akan menuju langsung ke arah lobby. Di dalam lift dia sendirian, tangannya terus mengusap perutnya dengan gerakan pelan.


“Sayang,” sapa Erbio ketika Vee keluar dari lift. Terlihat wajah lelaki itu sangat bahagia, Vee masuk ke dalam pelukan Erbio yang merentangkan tangannya lebar.


“Mas, aku pengin sup miso,” ujar Vee saat mereka berada di dalam mobil Erbio. Mereka duduk di jok belakang dengan supir yang menyetir.


“Wah, kebetulan sekali. Rapat kali ini di restoran jepang, sayang,” jelas Erbio  membuat mata Vee berbinar senang.


“Anak kita memang beruntung sekali,” kekeh merdu dari Vee itu membuat Erbio tersenyum senang. Apalagi, Vee sudah menerimanya sepenuh hati. Tidak ada lagi jarak di antara mereka, Erbio sangat bersyukur dengan kebaikan Tuhan kepadanya yang masih menghadirkan sosok wanita yang berada di dekapannya tersebut.


“Aku akan memperkenalkanmu sebagai istriku, apakah kamu tidak keberatan?” tanya Erbio membuat Vee mendongak dan menatap manik mata yang menatapnya dengan penuh harap, tangan Vee terangkat mengusap bulu-bulu halus di dagu suaminya yang membuatnya terlihat semakin tampan. Vee sendiri yang meminta Erbio untuk tidak mencukurnya.


“Aku sama sekali tidak keberatan. Biarkan mereka semua tahu dengan perlahannya,” jawab Vee dengan lembut. Erbio menarik tangan Vee yang berada di wajahnya dan mengecup setiap jari tangan indah tersebut.


“Terimakasih, sayang,” bisik Erbio yang di balas senyuman manis oleh Vee.


Mereka berdua sampai di sebuah restoran jepang yang sangat besar, mereka menuju ruang VIP di mana tempat yang sudah di janjikan untuk membicarakan bisnis. Erbio mengatakan kalau rapat ini adalah rapat pertama dengan rekan bisnisnya. Sehingga, dia ingin mendapatkan kesan yang tak biasa dari rekannya.


“Tuan Vino,” sapa Erbio kepada lelaki yang memakai jas abu-abu. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan menyambut


kedatangan Erbio dan Vee.


“Tuan Erbio,” sapanya dengan menjabat tangan Erbio. Pandangan Vino beralih kepada Vee yang berdiri di sebelah Erbio, Vee menampilkan senyum ramahnya dengan menundukkan kepalanya dengan sopan.


“Perkenalkan wanita ini adalah Viola Leony, istri saya,” jelas Erbio membuat Vino sedikit terkejut, tetapi lelaki itu langsung menormalkan mimik wajahnya.


“Saya kira anda masih single, ternyata sudah mempunyai gandegan,” kekeh Vino membuat Erbio tersenyum lebar dan merangkul pinggang Vee dengan posesif.


“Mari duduk dan makan dulu, baru kita mulai rapatnya setelah selesai makan siang,” ujar Vino. Mereka menikmati


makan siangnya dengan keadaan tenang, Vee sendiri sedang asik dengan dua mangkuk sup miso yang membuat perutnya kekenyangan.


“Aku ke toilet dulu ya,” ucap Vee setelah selesai makan.


“Mau aku temani?” tawar Erbio yang di balas gelengan oleh Vee. Wanita itu berpamitan dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dekat tempatnya.


kerjanya.


“Iya, istri saya sedang hamil dan sudah memasuki bulan keempat,” jelas Erbio dengan nada bahagianya. Vino tersenyum kecut dan mengulurkan tangannya.


“Selamat atas kehamilan istri anda, saya turut senang mendengarnya,” ucapan itu terkesan aneh bagi Erbio. Tetapi,


untuk menghormati Vino, Erbio menyambut uluran tangannya dan mengucapkan terimakasih.


Mereka memulai rapat dengan Vee yang mendengarkan semuanya dengan sesekali mencatat point penting, meskipun Erbio sudah melarangnya melakukan hal itu. Tapi, tetap saja Vee tidak ingin lepas dari tanggung jawabnya.


Sekitar satu jam lebih mereka berbincang-bincang masalah kerja sama, Vee mulai bosan dan merengek menginginkan es krim kepada Erbio. Dirinya sudah mencoba untuk menahan keinginan itu, tetapi batas kesabarannya tidak bertahan lama.


“Hati-hati sayang,” teguran halus dari Erbio membuat Vee tersenyum malu. Pasalnya dirinya tidak sadar kalau es krim yang di makan olehnya belepotan. Tangan Erbio membersihkan sisa es krim di wajah Vee dengan lembut. Vino menatap kejadian di hadapannya itu dengan tatapan tajam.


“Sepertinya rapat kali ini sudah selesai, nanti sekretaris saya akan membawa surat kontraknya dan kita akan melanjutkannya di rapat kedua di kantor anda tuan Erbio,” ujar Vino dengan suara tegasnya. Vee terkesima dengan suara milik Vino yang terdengar serak.


“Baik,” jawab singkat Erbio yang entah kenapa merasa tidak enak dengan tatapan Vino kepadanya, apalagi Vee kini menatap Vino tanpa berkedip sama sekali.


“Kalau begitu saya permisi, selamat siang tuan Erbio dan nona Vee,” pamit Vino dengan menundukkan kepalanya.


Erbio mendengus kesal membuat Vee yang sedang asik dengan ponselnya melirik ke arahnya. “Kamu kenapa?” tanya Vee dengan mengusap pipi Erbio.


“Aku merasa ada yang aneh dengan Vino, entahlah… aku rasa tatapannya sangat berbeda saat melihatmu,” ujar Erbio yang tidak di mengerti oleh Vee.


“Maksudmu? Aku tidak mengerti,” bingungnya.


“Aku tidak tahu, tetapi aku ingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan Vino. Karena, lelaki itu akan sering berkunjung di kantor untuk masalah kerja sama nantinya. Aku tidak mau ketemu sama dia!” seru Erbio dengan tegas.


“Tapi, Vino orangnya terlihat seksi dan suara sangat indah,” celetuk Vee yang membuat Erbio melotot tak terima.


“Mana ada? Aku jauh lebih tampan, seksi dan suara beratku akan membuatnya diam tak berkutik. Seperti ini,” Vee


terdiam saat Erbio mengatakan kalimat tersebut dengan suara beratnya yang membuat Vee terpana mendengarnya.


“Kamu curang,” rengek Vee, ketika Erbio tertawa puas melihat wajah konyol Vee saat menatapnya dengan tatapan


kagum.


“Aku tidak curang sayang, aku memang benar. Buktinya kamu terlihat seperti orang bodoh saat mendengar suaraku!” serunya membuat Vee semakin kesal dan memukul dada bidang Erbio dengan cukup keras.


“Aku marah sama kamu!” Vee beranjak dari duduknya meninggalkan Erbio yang tersedak, karena pukulan Vee. Erbio mengusap wajahnya dengan kasar dan berlari mengejar Vee yang sedang merajuk padanya.