The Fools

The Fools
BAB 16



Erbio memasuki mobilnya yang sudah terdapat Vee di dalamnya. Tetapi, wanita menatap aneh Erbio yang terlihat


sedang menahan emosinya. Satu lagi yang terlintas di pikirannya, kenapa Vino tidak bersamanya dan ikut dengan mobil mereka?


Seakan tahu dengan isi pikiran sang istri Erbio menghela nafas, “Vino ada urusan mendadak. Jadi, kita akan makan


siang berdua. Biarkan aku egois untuk kali ini!” Erbio tak menunggu jawaban dari Vee, lelaki itu langsung menjalankan mobilnya.


Keadaan di dalam mobil hening, Vee memang terbiasa akan hal itu. Tetapi, biasanya Erbio selalu mencari topik


pembicaraan untuk mengalihkan perhatiannya. Namun, hari ini lelaki itu tetap bungkam dengan wajah yang terlihat sedang menahan gejolak.


“Kita sudah sampai,” Erbio keluar dari mobilnya terlebih dahulu meninggalkan Vee yang menatapnya dengan penuh


tanda tanya.


“Biarin aja,” acuh Vee yang ikut keluar dari dalam mobil.


Mereka berdua memasuki rumah makan padang yang cukup ramai, mengingat jam sekarang merupakan waktu untuk makan siang dan istirahat. Untung saja mereka masih menemukan tempat kosong untuk di duduki. Erbio sudah meninggalkan Vee kembali untuk memesan makanan mereka.


“Tidak ada yang mau di pesan lagi?” tanya Erbio setelah duduk di hadapan Vee yang sedang asik bermain ponselnya. Vee hanya menjawab dengan gelengan pelan, Erbio menghela nafas lagi dan menyandarkan punggungnya di kursi.


Pesanan mereka datang dan lagi-lagi mereka bungkam, Vee sudah meremas tangannya, karena dirinya merasa aneh dengan keadaan sekarang ini. Tapi, dia mencoba untuk menahan gejolaknya yang ingin mencecarkan banyak pertanyaan untuk lelaki di hadapannya itu. Dia hanya mampu mendengus kesal.


“Kenapa?” tanya Erbio dengan menatapnya sekilas. Lelaki itu dapat mendengar Vee mendengus kesal tadi. Sehingga, dia melemparkan pertanyaan tersebut.


“Lo ada masalah?” tanya Vee tanpa basa-basi. Erbio terdiam dan menatapnya dengan satu alis yang terangkat.


“Masalah? Haha…” sinisnya membuat Vee cukup terkejut, meskipun hanya sebentar.


“Lo tanya gue ada masalah?” kini nada suara Erbio sudah berbeda membuat Vee sedikit merinding mendengarnya.


“Gue punya banyak masalah dan masalah terberat gue adalah lo, Vee!” tekannya dengan menatap tajam Vee. Sedangkan, Vee hanya memandang Erbio dengan tatapan sinisnya. Wanita itu menopang dagunya dengan kedua tangannya.


“Gue masalah terberat lo?” kekeh Vee dengan nada sinisnya. Erbio tampak mengeraskan rahangnya, kilatan amarah nampak jelas di mata kelamnya itu.


“Iya, lo masala terberat gue! Dengan lo jauhin gue dan kini sudah ada bedebah baru yang ingin main-main samamilik gue,” jelasnya dengan kekehan mengejek terdengar jelas di indera pendengaran Vee. Wanita itu tidak mengerti dengan maksud lelaki itu.


“Lo sudah selesai makannya? Kalau belum gue tunggu di dalam mobil,” Erbio beranjak meninggal Vee yang masih


terdiam. Wanita itu merasakan dadanya sesak, matanya terasa memanas dan tangannya perih, karena dirinya menekan kukunya sendiri sehingga melukai telapak tangannya. Bahkan, dia tidak sadar melakukan hal itu.


“Sial, gue gak boleh kalah begitu aja,” desisnya dengan memejamkan matanya dalam-dalam. Vee mengambil nafas


Setelah di rasa emosinya stabil, Vee ikut beranjak dan kembali menuju ke arah parkiran. Vee melihat Erbio menyandar di badan mobilnya dengan tangan yang mengapit rokok, terkejut? Tentu saja! Ini adalah pertama kalinya, Vee melihat pemandangan tersebut.


“Kalau ayah anak gue mati, gue bisa cari yang lebih darinya,” Vee sengaja lewat di hadapan Erbio dengan mengucapkan kalimat tersebut dengan sakartis.


Erbio menggeram marah dan membuang putung rokok yang masih sisa setengah ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu hitamnya. Erbio masuk ke dalam mobil dan melihat Vee sedang asik dengan ponsel di genggamannya.


“Ternyata lo masih perhatian sama gue, sampai ingatin gue bahaya rokok,” ujaran sinis itu membuat Vee menatapnya sekilas.


“Oh, perasaan gue hanya bergumam tadi. Lagi pula siapa juga wanita yang mau sama lelaki penyakitan,” balas Vee tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Gimana kalau kita jalan-jalan? Gak usah balik ke kantor, gue enek di sana,” tanpa menunggu jawaban dari Vee. Lagi-lagi Erbio melajukan mobilnya ke arah yang berlawan dari kantornya. Vee hanya mengendikkan bahu acuh, dia tidak ingin mengambil pusing tindakan Erbio saat ini, dirinya hanya ingin membuktikan sesuatu.


Mobil Erbio berhenti di sebuah tebing dekat hutan perbatasan. Lelaki itu keluar terlebih dahulu dari mobilnya tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Vee menatap takjub tempatnya sekarang, dirinya segera membuka pintu mobil dan menuju ke arah pembatas tebing yang memperlihatkan jurang yang sangat indah.


“Indah,” kata itu keluar dari bibir mungil Vee tanpa sadar. Diam-diam Erbio tersenyum tipis mendengarnya, lelaki


itu menaruh kedua tangannya di saku celana kainnnya. Tatapannya kini semakin menajam saat melihat bercak merah di telapak tangan Vee.


“Lo lukain tangan lo sendiri?” Erbio menarik tangan Vee dan menatap luka tersebut dengan teliti. Tanpa sempat memprotes, Erbio menarik Vee terlebih dahulu ke dalam mobil.


Lelaki itu mengambil kotak obat yang tersedia di dalam mobilnya, Vee hanya terdiam melihat kehebohan Erbio


memarahinya, karena sudah melukai tangannya sendiri. Geraman dengan nada khawatir itu membuat Vee sekuat tenaga menahan tawanya yang akan pecah.


“Jangan sampai terluka lagi! Sekecil apa pun! Gue gak mau lihat lo terluka atau lo akan mendapat hukuman


kalau terulakan lagi!” Vee hanya memutar bola matanya dengan jengah, Erbio dengan kecerewetannya kini sudah kembali lagi.


“Lo dengarin gue gak sih?” kesal Erbio dengan menarik dagu Vee untuk  menatap dirinya. Saat mata Vee bertubrukan dengan Erbio, wanita itu dapat melihat tatapan khawatir terpantri jelas di manik mata kelam itu. Vee tenggelam dengan tatapan itu.


“Iya,” decak kesal Vee dengan menurunkan tangan Erbio dari wajahnya. Kembali sunyi, tidak ada yang membuka


suaranya sama sekali. Baik Vee mau pun Erbio sama-sama menatap ke arah samping, entah apa yang mereka rasakan. Tetapi, mereka merasa sedikit canggung saat ini.


“Masih sakit?” tanya Erbio dengan suara tenangnya dan lembut. Lelaki itu menarik tangan Vee dan meniupnya dengan pelan. Tak lama kemudian, dia membawa tangan Vee ke bibirnya dan mengecupnya dengan lembut. Desiran di dalam diri Vee kembali bergemuruh.


“Enggak sakit,” balas Vee dengan suara yang terlihat aneh, karena wanita itu mencoba menghilangkan kegugupan yang melanda secara tiba-tiba.


Erbio nampak frustasi dengan terus-terusan berdecak kesal dan menghela nafas kasar. Vee sendiri cukup bingung dengan kelakuan  lelaki tersebut. Tatapan mereka kembali bertemu tanpa sengaja, Vee menalan ludahnya dengan susah payah.


Erbio mendekatkan wajahnya dan menatap dalam manik mata Vee, sampai wanita itu merasakan benda dingin dan kenyal menubruk bibirnya dengan sangat lembut.