
Vee sudah di perbolehkan pulang dan masih membutuhkan istrirahat, Enda yang membantu Vee membereskan barang-barangnya. Sedangkan Erbio hanya bisa terdiam, sudah tiga hari Vee mendiaminya dan tak pernah menatapnya.
Sakit? Tentu saja, Erbio sangat sakit. Dirinya tidak bisa Vee diamkan, karena itu lebih menyakitkan dari pada Vee menatap dirinya dengan penuh kebencian. Erbio tidak bisa menjangkaunya, Vee terlihat sangat jauh darinya, bahkan lebih jauh lagi.
“Apakah benar, ini ulah Nessa?” pertanyaan itu selalu terlintas di benak Erbio. Dia juga sudah memerintahkan orang untuk menyelidiknya. Erbio tidak akan membiarkan orang yang mencelaki anak dan istrinya berkeliaran bebas.
“Gue gak bisa temani lo sampai rumah, gue ada janji sama keluarga gue hari ini,” ujar Enda membuat Vee mendesah lesu. Sedangkan Erbio diam-diam bersorak senang, karena dia akan terus mendesak Vee agar tidak menghindarinya.
“Keluarga lo lebih penting, makasih sudah temani dan dengerin curhatan gue,” jelas Vee membuat Enda tertawa kecil dan mencubit pipi cabinya dengan gemas.
“Itu sudah jadi tugas gue, Vee! Lo adalah sahabat gue dan saudara gue,” tulus Enda membuat Vee tersenyum haru mendengarnya. Kalau bukan Enda yang selalu memberinya masukan, mungkin Vee sudah menyerah.
Vee enggan menceritakan masalahnya kepada kedua orang tuanya, karena dia tidak ingin mereka terbebani dengan masalahnya. Ini adalah rumah tangganya dan kehidupannya, jadi Vee tidak ingin membenbankan mereka, kecuali Enda yang sudah tahu dari awal.
“Hati-hati Enda!” pekik Vee kepada Enda yang keluar dari kamarnya.
Kini hanya tinggal Erbio dan Vee berdua di dalam kamar tersebut, keadaan menjadi sedikit canggung. Vee diam-diam menyembunyikan senyumannya saat melihat Erbio yang nampak gelisah dan hendak mengeluarkan suaranya, tetapi tidak jadi.
“Lo gak mau bantu gue turun gitu?” Erbio sontak menaikkan pandangannya, dia melihat Vee sedang berusaha turun dari atas tempat tidur. Dengan cekatan Erbio menghampirinya dan membantunya untuk turun.
Vee menahan kedutan di ujung bibirnya, dia sangat ingin tertawa melihat tingkah Erbio saat ini. Dirinya juga sudah bosan menunggu Erbio membuka suarany terlebih dahulu, dirinya ingin cepat-cepat pulang dan beristirahan di atass ranjang kesayangannya.
“Kita langsung ke mobil, ya,” Vee hanya menganggukkan kepalanya, dirinya mencoba melepaskan tangan Erbio. Tetapi, tidak bisa.
“Kenapa?” tanyanya saat Vee menatapnya dengan tajam.
“Tangan!” Erbio yang mengerti langsung melepaskan tangannya dari bahu Vee. Setelah itu Vee merasakan tangan hangat menggenggam erat tangannya. Pandangan Vee mengarah pada tangan Erbio yang sedang menggenggamnya.
“Kenapa lagi?” tanyanya membuat Vee mengangkat tangannya ke atas. Erbio menarik tangannya dan mencium tangan Vee yang di genggamnya itu. Vee hanya mendengus melihat tingkah Erbio itu, dia membiarkan saja tangan Erbio.
Di dalam mobil pun Erbio masih tidak melepaskan tangannya dari Vee. Sesekali bibirnya memberi kecupan bertubi-tubi pada jari-jari Vee. Meskipun tidak ada yang membuka suara sama sekali, suasana di dalam mobil terasa menghangat.
“Kita sudah sampai,” Erbio melepaskan tangannya dan keluar cepat. Dia memutari mobilnya dan membuka pintu untuk Vee. Setelah itu mereka kembali bergandengan, atau lebih tepatnya Erbio menarik tangan Vee untuk di genggamnya.
“Gue mau kita tidak tidur di kamar yang sama,” ujar Vee membuat Erbio menghentikan langkahnya dan menatap Vee dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
“Terserah apa kata lo! Tapi, gue tetap mau pisah kamar sama lo!” seru Vee dengan melepaskan tangannya dari Erbio saat cekalannya mengendur. Vee langsung masuk ke dalam kamar tamu dan menguncinya, Erbio mengetuk pintu kamar tersebut dan berteriak.
“Vee, jangan kekanakan! Kita bisa membicara ini dengan kepala dingin dan baik-baik!” serunya dengan terus mengutuk pintu kamar tempat Vee berada.
“Gue masih capek! Gue mau istirahat, lo jangan buat gue stres!” balas Vee membuat Erbio menghembuskan nafas kasar. Lelaki itu memilih mengalah, karena kesehatan Vee adalah yang utama untuk saat ini. Nanti dia akan kembali berbicara dengan Vee.
“Baiklah, kamu istirahatlah, sayang. Nanti kita bisa bicara lagi,” jelas Erbio sebelum meninggalkan tempat
tersebut. Lelaki itu memilih untuk beristirahat di sofa dari pada ke kamarnya, dia takut Vee akan mencarinya untuk meminta sesuatu.
***
Langit sudah berganti warna, Vee membuka kelopak matanya dengan perlahan. Wanita itu menatap sekitarnya yang gelap gulita, tangannya terulur menghidupkan lampu tidur yang tak jauh dari tempatnya.
“Sudah malam ternyata,” gumamnya dengan merengangkan otot-ototnya.
Vee menguap lebar, lalu beranjak dari atas ranjang. Kaki telanjangnya menapakkan langkah pelan di atas lantai yang terasa dingin. Dia membuka kunci kamar tamu dan menyembulkan kepalanya keluar.
“Erbio tidur di sofa?” Vee melihat Erbio yang masih terlelap di sofa panjang, bahkan pakaian lelaki itu masih sama seperti tadi. Vee menghembuskan nafas panjang.
Perlahan, dia melangkah mendekat ke arah Erbio yang masih tak terusik sama sekali. Vee menatap wajah Erbio yang terlihat lelah itu, hati kecilnya memaki dirinya yang sudah keterlaluan terhadap Erbio. Tangannya mengusap pelan rambut halum milik Erbio.
“Kelelahan ya? Di usap begini saja gak bangun,” ucap pelan Vee saat melihat Erbio sama sekali tak terganggu dengan kelakuannya. Vee dapat melihat lingkaran hitam di bawah mata Erbio, lelaki itu memang kurang tidur dan lebih memilih menatap wajah Vee yang terlelap, karena saat bangun. Vee tidak ingin menoleh ke arahnya.
“Kamu tidak salah, tapi temanmu yang salah dan sudah kelewatan. Aku hanya ingin yang terbaik dan kamu harus bisa membuka mata agar tahu siapa yang menjadi penjahat sebenarnya,” lirih Vee yang duduk di atas karpet tebal dekat sofa.
“Sial, aku sangat merindukannya. Tapi, aku masih marah padanya yang sudah membentakku dengan kasar. Kamu sudah membuatku terluka,” omel Vee yang terus menatap wajah Erbio yang masih tertidur dengan pulas.
Vee mengibaskan tangannya di depan wajah Erbio untuk memastikan sekali lagi, lalu wanita itu tertawa kecil. Dia menatap sekelilingnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Erbio yang masih tertidur. Bibir mungilnya menyentuh bibir menggoda Erbio.
Hanya sebentar, setelah di rasa cukup. Vee menarik wajahnya dan berdiri. Wanita iu kembali masuk ke dalam kamar tamu, dia akan membersihkan diri. Tak lama setelah Vee masuk ke dalam kamar tamu, Erbio mengerjapkan matanya.
“Mimpi yang sangat indah, aku melihat Vee menciumku saat tertidur. Terasa nyata, tapi aku sangat senang dengan mimpi tadi,” gumam Erbio dengan tersenyum tak jelas saat membayangkan kejadian nyata yang di kira mimpi itu olehnya.