
“Mau kemana sayang? Kamu tidak bisa lepas kali ini!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Erbio menyerang Vee dengan menggebu-gebu. Kini mereka sudah berada di atas sofa panjang di ruangan Erbio. Suara pintu terkunci membuat Vee melotot sempurna dan Erbio menyeringai lebar.
“Aku cinta kamu juga, sayang, bisik Erbio membuat Vee menggerang. Tubuh mereka sudah menyatu dengan sempurna. Erbio terus menciumi leher jenjang Vee yang sudah menarik perhatiannya dari tadi. Sedangkan, Vee sendiri tidak menolak sama sekali.
“Terimakasih, sayang,” bisik Erbio dengan memeluk tubuh Vee setelah mereka mendapat pelepasan yang luar biasa. Vee sedang mengatur nafasnya yang masih memburu.
“Bio, kamu berat!” keluh Vee mencoba menyingkirkan tubuh Erbio. Namun, bukannya menyingkir lelaki itu kembali menindihnya dan melanjutkannya lagi.
***
Vee menuju ke arah kantin sendirian. Dia terus menggerutu kesal, karena ulah Erbio dirinya kelelahan dan melewatkan makan siangnya yang kini tersisa lima belas menit. Padahal mereka sedang mengadakan perang dingin, tetapi mereka melupakannya tadi.
“Sial, gue kecolongan sama si buaya!” gerutu Vee yang kini sudah duduk di salah satu kursi kantin. Tidak banyak yang berada di kantin, Enda sendiri sedang ada rapat di luar.
“Makan siang sendirian?” tanya seseorang yang sudah duduk di hadapan Vee membuat wanita itu tersedak makannya. Cepat-cepat, dia meminum minuman yang di sodorkan orang tersebut. Dia menghela nafas lega saat tenggorokannya tidak sakit lagi, wanita itu menatap tajam orang di hadadapannya.
“Memangnya terlihat seperti apa?” ketus Vee dengan melanjutkan makan siangnya.
“Makan sendiri, makanya aku menemanimu,” balasnya dengan seringai kecil dari wajahnya. Vee hanya mendengus saat melihat wajah yang menyebalkan itu.
“Cantik makannya lahap sekali,” Vee masih mengabaikan ocehan Erbio tersebut.
“Ngunyah aja seksi, apalagi saat mendesahkan namaku. Seksinya berkali-kali lipat,” Vee mendelik tajam ke arah Erbio yang kini menahan tawanya yang akan pecah.
Dengan gerakan cepat, Vee menghabiskan makan siangnya, dia sama sekali tidak membalas ucapan dari Erbio.
Apalagi, sempat ada beberapa karyawan yang menatap ke arah mereka yang tiba-tiba saja menjadi dekat. Padahal, waktu itu Erbio sempat memarahinya.
“Saya sudah selesai. Saya permisi dulu, Pak!” saat hendak beranjak, tangannya langsung di cekal oleh Erbio. Karena, dirinya masih menghormati posisi Erbio. Sehingga, dia kembali duduk dan tersenyum paksa menatap Erbio di hadapannya.
“Temani saya makan, sebentar saja,” kata Erbio.
“Tapi, ini sudah lewat dari jam makan siang. Saya akan kena marah manajer kalau tidak kembali bekerja,” alasan
Vee yang membuat Erbio terkekeh geli.
“Kamu tidak perlu memusingkan hal itu. Nanti saya yang akan bicara dengan manajermu,” kalau sudah begini Vee
hanya bisa pasrah saja. Apalagi, suara Erbio cukup keras saat mengatakan kalimat tersebut.
Lima menit kemudian, piring Erbio sudah bersih. Vee beranjak dari duduknya dan meninggalkan Erbio sendirian.
Untung saja sekarang kantin sudah sepi hanya ada mereka berdua dan para pekerja di bagian kantin.
Dengan langkah lebar Vee berusaha menjauh dari Erbio. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Wanita itu mengumpat saat berada di dalam lift berdua saja dengan Erbio, sedangkan lelaki itu kini tersenyum puas melihat wajah kesal wanitanya.
“Cantik lihat sini dong,” Vee mengabaikan bisikan mengerikan itu. Tetapi, Erbio sama sekali tidak menyerah. Lelaki itu terus menggodanya dan mencolek dagunya.
“Lihat abang dong,” Vee berdecak kesal dan mendelik tajam ke arah Erbio yang tangannya mulai kurang ajar.
“Ini kan milikku,” sahutnya dengan kembali memegang dada Vee.
“Ini ada di tubuhku dan ini milikku bodoh!” kesal Vee dengan mencubit tangan kurang ajar Erbio yang mulai tak tahu diri, seperti pemiliknya.
“Ini milikku juga, kan sering berada di dalam mulutku,” balasnya membuat Vee tanpa berpikir panjang untuk menampar mulut kurang ajar Erbio.
“Sakit sayang!” ringisnya dengan menahan tangan Vee yang terus memukul bibirnya.
“Suruh siapa jadi laki-laki mesum banget!” pekik Vee membuat telinga Erbio berdengung. Lelaki itu kembali
kesakitan di gendang telinganya, wanita dengan suaranya memang tidak bisa di ragukan lagi baginya.
“Kalau gak mesum, gak mungkin perut kamu belendung, sayang!” Vee menghembuskan nafas lelah, dia memilih diam dan tidak menghiraukan ocehan Erbio yang membuat telinganya mulai memanas.
“Semangat, sayang,” sebelum Vee keluar dari lift, lelaki itu menariknya dan mengecup sekilas bibir menggoda
milik istrinya itu.
“Fuck off!” Vee mengacungkan jari tengahnya pada Erbio yang membuat lelaki itu terbahak-bahak di dalam lift yang sudah menutup kembali itu.
“Bisa stres gue punya laki macam tuh orang,” geleng Vee saat duduk di kursinya.
“Tumben ngakuin laki lo? Ada cerita apaan?” tanya Enda yang menatap Vee dengan kerlingan menyebalkan. Vee mengelus dadanya dengan pelan, mencoba untuk tetap sabar.
“Jangan buat gue emosi lagi ya!” geram Vee yang membuat Enda semakin menahan tawanya. Mata wanita itu memicing melihat ada yang aneh dengan penampilan Vee kali ini.
“Baju lo berantahkan dan sedikit kusut, terus di leher lo ada cupangnya lagi!” tunjuk Enda ke arah leher Vee
yang terdapat warna merah keunguan. Vee mengambil kaca milik Enda dan menatap lehernya dari pantulan kaca tersebut.
“Sialan Erbio!” umpatnya membuat Enda sekuat tenaga menahan tawanya yang akan menyembur ke permukaan dengan sangat lantang. Vee menatap bibirnya yang sedikit, bukan sedikit tetapi sangat bengkak. Sungguh, dirinya ingin menjedotkan kepala Erbio ke tembok, agar pikirannya tidak mesum dan tidak bruntal lagi.
“Pantesan perginya lama banget. Gak tahunya malah jengukin buah hati,” kekeh Enda membuat wajah Vee memerah. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah layar di hadapannya, sungguh dia sangat malu. Apakah banyak yang melihat penampilan anehnya tadi? Sial! Dirinya sangat malu saat ini. Ingatkan Vee untuk mencakar wajah mesum Erbio.
“Berapa ronde?” bisik Enda membuat Vee meradang.
“Lo bisa diam gak? Kalau lo nyerocos lagi! Gue minta Erbio pindahin lo ke pulau komodo!” kata Vee membuat Enda menyengir lebar dengan tangan di angkat ke atas.
“Sensi amat yang baru dapat jatah,” gumaman yang masih bisa di dengar dengan jelas oleh Vee. Wanita itu menarik rambut sahabatnya tidak begitu kencang.
“Gue minta beneran nih?” ancam Vee yang di balas gelengan kuat dari Enda.
“Jangan dong, gue gak bisa lihat ****** lagi!” setelah mengatakan kalimat itu, Enda langsung ngacir menjauh dari Vee yang sangat marah.
“Sialan, Enda!” Vee memicingkan matanya saat melihat seseorang yang baru keluar dari lift. Wanita itu berdecih dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Siska dan Erbio? Ada kisah apa di antara mereka?” sinis Vee.