
“Sayang ini kotak apa?” teriak Erbio dari ruang tamu pada Vee yang sedang masak di dapur untuk makan malam
mereka. Sengaja Vee masak sendiri, karena dirinya ingin memakan semur jamur dan ayam, sehingga mereka tidak mampir ke restoran setelah pulang kerja tadi. Erbio juga merengek ingin memakan masakannya.
“Kotak apa? Aku tidak tahu?” tanya Vee yang masih berada di dapur. Vee mendengar suara langkah mendekat dan dari baunya saja Vee sudah tahu orangnya siapa.
“Ini ada di meja ruang tamu,” Erbio menyerahkan kotak yang berada di tangannya pada Vee. Kotak sedang berwarna merah gelap itu sudah berpindah di tangan Vee.
“Ini siapa yang ngirim? Kok gak ada tanda pengirimnya? Siapa juga yang menaruhnya di atas meja?” pertanyaan bertubi-tubi yang di lontar Vee tersebut membuat Erbio seakan tersadar dan menarik kembali kotak tersebut dari tangan istrinya.
“Kenapa di ambil lagi?” bingung Vee yang kini menatap Erbio yang terlihat sedikit khawatir di wajahnya. Erbio membuka kotak tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri. Mereka berdua terkejut dengan isi kotak tersebut. Erbio segera menutupnya kembali.
“Siapa yang ingin bermain-main dengan kita?” tanya Erbio dengan melempar kotak tersebut ke arah tong sampah
otomatis di dekat dapur.
“Bio,” tubuh Vee mulai mengigil. Wanita itu sangat terkejut saat melihat bangkai kucing di dalam kotak tersebut,
tidak ada surat atau pun secarik kertas di dalamnya. Hanya ada bangkai kucing yang berlumuran darah, entah kotak itu di tujukan untuk siapa. Tapi, kotak tersebut sudah menunjukkan ada yang sedang meneror keluarga mereka.
“Sayang, kita ke kamar saja ya! Aku akan memesan makan nanti, sekarang kamu harus tenang, di sini ada aku yang akan menjaga kalian berdua,” Vee menganggukkan kepalanya denga pelan, dia membiarkan Erbio menggendongnya menuju kamar mereka.
Erbio meletakkan Vee di atas ranjang mereka dengan hati-hati, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh
mereka. Erbio memeluk erat tubuh bergetar Vee, dia menggeram marah, karena kotak tersebut sekarang istrinya ketakutan luar biasa.
“Tenanglah sayang, aku berada di sisimu,” bisik Erbio kepada Vee yang sedang menyembunyikan wajahnya di dadanya. Erbio mengusap lembut punggung istrinya mencoba untuk menenangkannya. Meskipun dirinya juga tidak tenang setelah mendapat peringat tersebut, tetapi dia mencoba untuk terlihat tenang agar Vee tidak terlalu takut.
“M—Mas, aku takut. A—aku takut yang neror kita membahayakan anak kita. A—aku tidak ingin kehilangannya lagi. A—aku takut,” kata Vee dengan suara bergetarnya. Hati Erbio serasa di remas mendengar kalimat tersebut.
“Tidak ada yang bisa mencelakai anak kita atau pun kamu. Aku akan menjaga kalian, sekarang kamu istirahatlah.
Kamu jangan terlalu memikirkan kotak tadi, aku akan membereskannya,” ujar Erbio mencoba untuk menenangkan sang istri.
“M—Mas, jangan tinggalkan aku. Kamu tidur juga, peluk aku,” pinta Vee dengan suara yang sudah tidak bergetar lagi.
“Aku tidak akan meninggalkamu, sayang. Aku akan menemanimu tidur, ayo kita tidur sama-sama,” Erbio merasakan
Vee mengeratkan pelukannya. Erbio tersenyum kecil dan mengusap pelan punggung Vee. Tak lama kemudian, Erbio mendengar deru nafas Vee sudah teratur, dia menghela nafas lega melihat wanita yang di cintainya sudah terlelap.
“Aku berjanji akan melindungi kalian, karena kalian adalah hidupku,” Erbio mengecup lama kening Vee sebelum ikut memejamkan matanya menyusul Vee di dunia mimpi. Tak lama dirinya juga sudah terlelap, mungkin faktor kelelahan dia cepat tertidur.
Pintu kamar mereka terbuka, menampilkan sesosok yang memakai hoodie hitam dan menutup kepalanya dengan
hoodie tersebut, orang tersebut menatap sepasang suami-istri yang terlihat serasi. Apalagi mereka berpelukan sangat erat.
“Sungguh sangat serasi dan keluarga bahagia. Tetapi, hal itu hanya sebentar. Karena kamu hanya milikku seorang.
Orang itu melangkah kelaur dari sana, tak lupa kembali menguci apartemen milik Erbio dengan kunci yang di
simpannya. Orang itu menghilang di dalam lift yang sudah menutup, senandung tanpa irama terdengar dari bibirnya.
“Maafkan aku sudah membuat kalian ketakutan, namun tujuanku hanya memilikimu sayang. Setelah kamu berada di pelukanku, maka aku tidak akan mengganggu keluarga kalian. Sebab, kamu sudah menjadi milikku,” kekehnya dengan suara sangat menyeramkan saat di dengar. Orang itu memasuki unit apartemennya yang berada di lantai berbeda.
***
“Kamu jangan masuk dulu hari ini, aku akan mengantarmu ke rumah Mama,” ujar Erbio saat mereka sedang sarapan. Vee yang mendengar perkataan Erbio terdiam sejenak.
“Tidak aku ingin ke kantor!” balas Vee yang di balas gelengan oleh Erbio.
“Tidak bisa, sayang. Mama sudah tahu tentang kotak tersebut, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mama
mengancam akan menyeret kita untuk tinggal di rumah mereka dan menyuruhmu untuk berhenti berkerja. Aku tahu kamu pasti tidak mau, jadi aku hanya bisa menitipkanmu di sana dan setelah itu aku akan menjemputmu saat pulang kerja,” jelas Erbio yang membuat Vee mau tak mau mengangguk lesu.
“Ya sudah kalau begitu, aku akan ke rumah Mama,” putus Vee membuat Erbio tersenyum senang, bahkan lelaki itu mengecup pipi istrinya bertubi-tubi.
“Pipiku jadi kotor kena minyak! Kamu kalau mau cium serbet dulu mulutnya!” kesal Vee dengan menjauhkan wajah Erbio yang masih berada di sebelahnya.
Erbio hanya mengerucutkan bibirnya, padahal dirinya senang akhirnya Vee mau untuk menuruti keinginannya. Sebenarnya Erbio yang mengatakan tentang hal semalam kepada papanya, tanpa di ketahui olehnya sang Mama ada di sana dan mendengar semuanya. Langsung saja dirinya di marahi dan di teror untuk membawa Vee tinggal di rumah Mamanya.
Namun, Erbio mengingat sifat dari sang istri sehingga dia mencoba untuk berbicara lagi pada mama dan membujuknya, untung saja mamanya mau mengerti. Erbio memperhatikan Vee yang sedang mencuci piring kotor bekas mereka sarapan.
“Cantik,” gumamnya dengan senyum manis yang tak pernah lutur dari wajahnya.
“Kenapa kamu senyam-senyum begitu? Mas masih sehatkan?” Erbio tersentak kaget saat tangan dingin Vee menyentuh keningnya.
“Kamu pikir suami tampanmu ini sudah gila?” dengus Erbio dengan wajah masamnya mampu membuat Vee tertawa terbahak-bahak melihatnya.
“Sudahlah, aku mau ganti baju
dulu,” tangan Vee di cekal oleh Erbio.
“Mau temani?” tawarnya.
“Mau, tapi di alam mimpi!” Vee menarik tangannya dan melangkah menuju ke kamar mereka untuk bergantu baju.
Karena, dirinya sudah memakai setelan kantor. Namun, tujuannya kini sudah berbeda, jadi dia memilih menggunkan dress berwarna cream.
“Cantik!” Vee terkejut mendengar suara asing yang terasa dekat dengannya.
“Siapa itu?” tanya Vee dengan suara pelannya. Dia melihat sekitarnya, namun tidak ada seorang pun yang di dalam kamarnya.