The Fools

The Fools
BAB 33



“Tentu saja. Setelah dua hari menemani kekasih tercinta. Tidak ada salahnya bukan kembali bekerja untuk


menghilangkan rasa bosan berada di rumah mewah seharian?!” Vee menyeringai dengan memperlihatkan kalung berliannya yang di belikan Erbio. Sebenarnya ini bukanlah dirinya. Vee tidak terlalu suka memamerkan apa yang dia miliki. Namun, untuk wanita di hapadapannya itu adalah pengecualian.


 “Wah-wah, ternyata sudah di belikan rumah mewah ya?” sinis Siska dengan memandang rendah Vee yang masih terlihat angkuh itu.


“Tentu saja. Karena gue adalah wanita yang sangat di cintai Erbio,” jelas Vee yang memang benar adanya. Enda


ingin menyemburkan tawanya saat mendengar kata-kata itu yang di lontarkan oleh sang sahabat.


“Itu tidak akan lama lagi! Lo siap-siap aja, sebentar lagi Erbio jatuh ke pelukan gue! Apalagi, lo sedang di teror sama pengagum rahasia saat ini. Wah… sungguh indah ya?” Vee terkejut dengan kalimat yang di lontarkan oleh Siska.


“Bagaimana lo tahu tentang pengagum rahasia gue?” tanya Vee dengan menatap tajam ke manik mata Siska yang juga terkejut.


“G—gue hanya nebak aja! I—ya gue hanya nebak aja!” katanya dengan sedikit gugup. Selepas itu, Siska beranjak dan pergi dari hadapan Vee mau pun Enda.


“Vee? Masa Siska dalangnya?” tanya Enda yang sepemikiran dengan Vee. Enda memang sudah tahu semuanya, Vee menceritakan semuanya melalui pesan yang di kirim olehnya. Sehingga, Enda tidak perlu banyak bertanya tentang dirinya yang tidak masuk kerja.


“Gue gak tahu jaga, Nda! Gue gak mau nuduh tanpa adanya bukti yang kuat,” jelas Vee yang di angguki oleh Enda.


“Sebaiknya lo hati-hati sama dia! Ingat lo juga lagi hamil!” Vee hanya mengangguk menanggapi perkataan sahabatnya. Mereka kembali mengerjakan tugasnya masing-masing, dengan Vee yang tidak terlalu banyak tugas. Karena, Erbio sudah menghandle tugas-tugasnya, lelaki itu hanya membarinya tugas yang ringan saja. Vee sebenarnya tidak ingin di perlakukan seperti itu. Namun, dia tidak bisa membantah atau Erbio tidak membiarkannya bekerja lagi. Sungguh pilihan yang sangat berat baginya.


“Gue ke toilet dulu ya!” seru Vee kepada Enda.


“Tunggu! Gue temani!” Enda segera mengejarnya, dia sudah berjanji pada Erbio untuk menemani Vee kemana saja. Sebagai gantinya, dia tidak perlu mengerjakan banyak tugas. Hanya satu tugas yang sama seperti Vee dan satu tugas lagi untuk menjaga Vee.


Mereka sampai di toilet khusus untuk wanita, Vee dan Enda sama-sama masuk ke dalam. Enda menunggu di depan cermin dengan memainkan rambut sebahunya, dia bersenandung kecil sambil menunggu Vee yang sedang menuntaskan tugasnya.


Tak lama Vee keluar dari toilet dan membersihkan tangannya di samping Enda yang masih asik berselfi. Vee hanya menggelengkan kepalanya, di mana ada cermin di situ ada Enda dengan ponselnya yang menyalakan kamera.


“Lo kebiasaan deh,” dengus Vee yang di balas cengiran khas dari sahabatnya itu.


“Lo mau kemana lagi?” tanya Enda membuat Vee menaikkan sebelah alisnya.


“Tumben pekerjaan lo gak numpuk?” bingung Vee.


“Iya dong! Suami lo kasih gue satu tugas dan sudah selesai gue kerjain. Sekarang tugas gue yang lain hanya


menemani istri tercintanya dan menjaganya!” sahut Enda membuat Vee mendengus kesal. Suaminya itu memang membuatnya selalu pusing.


“Temani gue ke atap gedung ini! Udah lama gue gak ngadem di sana,” Vee mengeringkan tangannya yang masih basah. Enda hanya mengangguk dan berjalan di sebelah Vee keluar dari toilet. Mereka langsung masuk ke dalam lift, ternyata di sana terdapat ssebuah kotak dan tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua.


“Kotak apa ini?” Enda langsung mengambil kotak tersebut dan pintu lift sudah tertutup. Vee menekan tombol yang menuju ke atap gedung tempatnya bekerja.


Perlahan Enda membuka tali yang membungkus kotak tersebut, Vee hanya melihatnya dan enggan untuk menyentuh kotak itu. Setelah berhasil di buka, Enda membuka penutupnya dan mereka berdua melihat isi kotak tersebut.


***


“Tidak bisakah mengetuk pintu sebelum menerobos masuk? Itu tindakan yang tidak sopan!” marah Erbio ketika


Enda langsung membuka pintu ruangan lelaki itu. Pasalnya, Erbio sedang fokus dengan laptopnya, sehingga tidak tahu siapa yang sedang datang.


“Gak ada waktu ****!” geram Enda membuat Erbio langsung menaikkan wajahnya. Lelaki itu terkejut saat melihat


Enda bersama istrinya masuk ke dalam ruangannya. Apalagi, Enda sedang memegang sebuah kotak aneh menurutnya.


“Kotak apa itu?” tanya Erbio dengan menarik Vee ke dalam pelukannya. Enda hanya mendengus kesal melihat tingkah mereka di depannya itu. Apakah mereka tidak menghargainya yang sedang menyandang jomblo saat ini? Sungguh keterlaluan mereka itu.


“Lo lihat sendiri!” Enda meletakkan kotak tersebut di meja depan sofa yang di duduki oleh mereka. Dengan satu


tangan yang tidak memeluk sang istri, Erbio membuka kotak tersebut. Matanya mulai menajam dan terdengar suara geraman di bibirnya.


“Siapa yang ngirim kotak yang penuh dengan foto-foto istri gue?” marahnya. Erbio tidak bisa diam saja, karena di


dalam kotak itu berisi foto-foto dari sang istri. Parahnya lagi, terdapat foto sang istri yang sedang mengganti bajunya, untung saja hanya perut indah milik Vee yang terlihat. Kalau lebih banyak lagi, Erbio akan membunuh orang tersebut.


“Kita menemukan kotak itu di dalam lift, aku sama Enda tidak tahu siapa orangnya,” jelas Vee. Erbio langsung


menghubungi orang-orangnya untuk mencari orang yang terlihat mencurigakan yang masuk ke dalam kantornya.


“Lo gak lihat cctv? Bukannya kantor ini ada cctv-nya?” seakan tersadar dari perkataan Enda. Erbio langsung


menjentikkan jarinya. Seketika tembok di belakangnya bergeser, Vee terperangah. Dia menatap banyak monitor yang memantau keadaan kantor mereka.


“Ayo kita lihat di dalam!” mereka masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah itu, pintu yang terbuat dari tembok


tertutup dengan sendirinya. Enda mengaga tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya, belum pernah dia melihat pemandangan seperti itu. Vee duduk di pangkuan Erbio, karena lelaki itu langsung menariknya saat dia ingin duduk di sebuah kursi empuk di sebelah lelaki itu.


“Mata suci gue ternodai!” Enda menutup matanya dengan tidak rapat. Vee dan Erbio hanya memutar bola mata


jengah melihat tingkah laku wanita itu. Dengan sengaja Vee mengecup bibir Erbio yang membuat Enda semakin menjerit.


“Sialan lo pada!” makinya dengan memalingkan wajahnya. Pasalnya, Erbio menahan wajah Vee saat menghentikan


kecupannya. Tentu saja Erbio tidak membuang kesempatan emas tersebut, dia memperdalam ciumannya sampai Vee kewalahan dan menarik kuat rambutnya. Setelah itu mereka kembali fokus dengan apa yang akan di lihatnya.


“Siska?” ucap kompak mereka, saat melihat Siska yang meletakkan kotak tersebut.