Teenteens

Teenteens
08. Ini minum!



“Arsena, bisa ceritakan kepada saya bagaimana bisa kamu terpisah dari kelompok kamu?” Tanya Perwira.


Perwira yang lelah dengan tingkah absurd Sena memutuskan untuk memusatkan perhatian khusus kepada Sena. Dengan kata lain Perwira memutuskan untuk memilih meninggalkan kelompok yang seharusnya dia bimbing dan berjalan berdua bersama Sena untuk kembali ke lokasi perkemahan. Saat ini mereka sudah berhasil melewati gunung itu.


‘Tuhan, apakah hamba dulu avatar yang menyelamatkan negeri ini semenjak negara api menyerang? Mimpi apa gue jalan bareng Dewa Yunani gini Ya Tuhan.’ Ucap Sena dalam hati.


Di sepanjang perjalanan Sena yang gatel bukannya menggaruk tubuhnya justru melihat Perwira sampai beberapa kali tersandung batu.


“Ada apa Sena? Kamu haus?” Tanya Perwira.


“Nggak kak, disini Adem.” Jawab Sena.


Perwira yang memang baik hati, rajin ibadah, tidak sombong, rajin menabung, sayang orang tua pun lebih memilih untuk diam.


Sementara di tempat lain, masih ada Flora yang menahan haus karena Arsena Putri dengan senang hati menghabiskan air minum milik Flora. Yaah bagaimanapun Flora memiliki gengsi yang tinggi untuk meminta air kepada Bima.


“Flora, kamu nggak papa? Muka kamu pucat begitu?” Tanya Melisa.


Kalian tau apa yang terjadi? Bagaikan X-Men, Bima dengan mata lasernya dan kecepatan putaran leher yang setara dengan 400 Km/Jam langsung melihat kearah Flora. Kalimat yang sebenarnya sengaja Melisa lontarkan untuk membuat Bima terpancing dan melanjutkan kegiatan pdkt nya bersama Flora.


“Flo, lu kenapa?” Tanya Bima dengan khawatir.


“Gue nggak papa.” Jawab Flora sedikit melirih.


“Gue udah tawarin minum ke lu, sekarang minumnya udah diminum orang lain, bandel banget dah dikasih tau!” Oceh Bima membuat Flora menaikan sebelah alisnya.


Flora dibuat kaget lagi dengan Bima yang tiba-tiba jongkok di depannya. Apa lagi? Jelas Bima dengan sukarela meminjamkan punggungnya untuk menggendong Flora.


“Kak, nggak usah aneh-aneh deh, bangun!” Titah Flora sedikit lebih galak.


Setelah bima bangun, bukannya memerintahkan supaya melanjutkan perjalanan, sebelum itu dia malah menggenggam tangan Flora.


“Setidaknya lu nggak bakal jatuh lagi. Semuanya! Ayo kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi sampai” Seru Bima.


“Arda, gue mau nyanyi.” Celetuk Davin tiba-tiba.


“Nyanyi apaan lu?” Tanya Arda.


“Bila kau butuh telinga ‘tuk mendengar.. Bahu ‘tuk bersandar.. Raga ‘tuk berlindung, pasti kau temukan aku digaris teeerrrdepann.. BERTEPUK DENGAN SEBELAH TANGAN!!” Nyanyian Davin yang hampir nyerempet nyindir kegua insan yang bergandengan itu pun mengundang gelak tawa.


Flora yang menoleh menatap tajam Davin, membuat Davin langsung mengunci rapat-rapat mulutnya. Kembali, Flora menatap tangannya yang digenggam sangat erat oleh Bima.


“Keringat lu dingin.” Ucap Bima lagi.


“Lu bener-bener nggak papa?” Tanya Bima melanjutkan.


“Gue udah bilang gue baik-baik aja.” Sahut Flora sedikit melemah.


Dengan keberanian yangg sungguh-sungguh ekstra, Bima memutuskan untuk menggendong Flora ala bridal style. Bima bukan orang bodoh. Saat menggenggam tangan Flora, Bima merasakan langkah Flora yang semakin pelan.


“Diem! Jangan komentar, gue tau lu capek tapi gengsi.” Ucap Bima total membungkam mulut Flora.


Anak-anak Jengkol yang melihat kejadian itu bereaksi macam-macam, ada yang menggigit jarinya, ada yang saling pukul memukul dengan gaya yang.. entahlah, susah untuk disebutkan.


“Gue barusan dapet pesan dari Wira, kalian boleh mampir ke warung untuk membeli minum atau makanan ringan, tapi harus tetap berkelompok dan sama kakak pembimbingnya. Okay?” Kata Bima.


“Akhirnya perut.. lu keisi juga!” Ucap Arda dengan mengusap perutnya.


“Dasar lu kalo makan aja semangat.” Ucap Davin.


“Jess, kamu udah baik-baik aja kan?” Tanya Jeno.


“Iya, makasih ya.” Ucap Jessie sedikit mengayunkan nada di akhir kalimatnya.


“Ini gue yakin, kalau ada Sena, ada aja yang nyeletuk kagak jelas.” Ujar Flora dengan memutar matanya malas.


“Iya Jen, kebetulan saya juga haus.” Ucap Melisa.


"Kak, lu nggak bisa turunin gue? Malu tau." Ucap Flora. Akhirnya Bima mengalah untuk menurunkan Flora ditambah semburat halus di pipi Bima karena tidak sadar masih menggendong Flora.


Flora dan yang lainnya mampir dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pemilik warung, sekedar untuk melepaskan lelah yang mereka rasakan. Flora meluruskan kakinya ke bangku panjang kosong di sebelahnya.


“Ini minum! Kali ini jangan nolak!” Ucap Bima tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral kepada Flora.


“Makasih.” Ucap Flora singkat.


Flora menerima botol itu dan meminumnya. Karena, pada dasarnya Flora memang haus dan lelah, namun gengsinya menang.


“Gue bukan orang jahat, lu nggak perlu khawatir.” Ujar Bima.


“Gue cuma... risih. Sebelumnya belum ada yang begini ke gue.” Jelas Flora jujur.


“Santai aja kali, gue cuma pengen jadi temen lu.” Ucap Bima.


‘Temen aja dulu..’ Lanjut bima dalam hatinya.


“Okay..” Flora mengalah.


“Semuanya udah? Ayo kita lanjutkan, sebelum semakin sore. Sebentar lagi sampai.” Ucap Bima kepada semua anak-anak Jengkol.


Flora berdiri dan hendak melakukan perjalanan selanjutnya bersama kawan-kawannya.


“Gue mau buru-buru balik. Karena besok libur! Indahnyaaaa libur.” Celetuk Arda dengan meregangkan otot-ototnya.


Perjalanan  berlanjut lagi sampai mereka datang di tempat perkemahan mereka. Flora melihat Sena yang sepertinya menunggu dirinya datang untuk menceritakan- Tidak tidak tidak, bukan menceritakan. Lebih tepatnya untuk berteriak dengan histeris apa yang dia lalui bersama Sian dan Perwira. Terkadang Flora sebagai perempuan tidak paham kenapa Sena sangat tergila-gila dengan pria tampan yang menurut Flora biasa saja.


“BUNGGAAA!” Teriak Sena dengan melambai-lambaikan tangannya ke arah Flora dan anak-anak jengkol yang lainnya.


“Kan bener firasat gue.” Gumam Flora yang tentu saja hanya Fora yang dapat mendengarnya.


“Lu harus tau apa yang gue alamin selama gue nggak ikut kalian!!” Ucap Sena.


“Btw gue punya oleh-oleh nih.” Lanjutnya sambil merogoh saku celananya dan mengambil sebuah jambu biji.


“Lu... Mencuri?” Tanya Flora dengan 100% kecurigaan yang sangat akurat.


“Gue? Ya mana ada perempuan cantik kaya gue mencuri. Apalagi Cuma sebatas jambu biji begini doang? Ya kali aja Bung, gue masih punya duit buat beli itu jambu sepohon-pohonnya atau bahkan segunung- gunungnya sekalian biar Kak Wira bisa jalan bareng gue lagi!!! Oh My Godh gue bisa mimisan kalau disana lebih lama lagi! Eh! Lu nggak usah sok polos yaa.” Ujar Sena.


“Lah? Kok lu tiba-tiba gitu deh.” Kata Flora.


“Gue tau lu diapain sama Kak Bima.” Ucap Sena seolah-olah Bima sudah melakuan hal yang tida-tidak kepada Flora.


“Lu nggak usah ngada ngada deh.. mana ada yang begituan. Gue sama Kak Bima terusin jalan bareng-bareng sama anak- anak yang lain.. kagak kayak lu, terpencar sendiri, jalan-jalan sendiri, kesasar, maling jambu, Merasa cantik lu? Gue mending makan jengkol deh.” Ceramah Flora kepada Sena.


“Ah terserah! Lu tau nggak, masa Kak Wira gombalin gue!” Ucap Sena girang.


“Terdengar tidak mungkin tapi... okay, marilah kita mendengar ketidak mungkinan ini.” Balas Flora.


“Sena, kamu Asyik juga ya.. Gitu katanya bung! Gila gue kayak belum terima kenyataan kalau gue di puji orang ganteng!”


Tanpa aba-aba selanjutnya, Flora hanya menghela nafas dan memilih untuk ikut berbaris. Apel penutupan. Yaah hal


ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu leh setiap peserta seperti Flora dan Sena.


“Terimakasih untuk adik-adik semua yang sudah bersedia mengikuti perkemahan untuk melatih mental, dan fisik kita, semoga kedepannya lebih baik lagi. Dan untuk handphone kalian sudah bisa diambil ke Kak Salwa yang ada di sebelah sana, sampai bertemu lagi di hari Senin” Jelas Perwira dengan senyum.


“HANDPHONE AKU DATANG!!!”


To Be Continue...