
“Flo, kamu ikut ekskul seni kan? Nanti kalau mau ke sanggar bareng gue ya.” Ucap Sila kepada Flora.
“What? Lu ikut seni?” Sahut Sena.
“Iya.” Jawab Flora.
“Oh iya juga, suara lu bagus. Sebelas dua belas lah sama gue.” Ucap Sena percaya diri.
“Yaudah deh terserah lu.” Ucap Flora pasrah.
Tiba-tiba ada seorang kakak kelas yang datang membawa perintah dari atasannya.
“Kelas X IPA 1 yang mengikuti ekskul seni diharapkan kumpul di sanggar sekarang ya!” Ucap kakak kelas itu lalu pergi keliling untuk memberi tahu informasi ini ke kelas yang lain nya.
“Ayo Flo.” Ajak Sila.
“Bye Bung!” Ucap Sena yang sambil melambaikan tangannya.
Flora dan Sila berjalan menyusuri sekolah yang lebar itu. Flora sama sekali belum paham dimana lokasi sanggar berada, jadi dia hanya mengikuti kaki Sila yang berjalan.
“Sil, lu tau sanggar dimana?” Tanya Flora.
“Nggak hehe.” Ucap Sila dengan cengiran khasnya.
“Ya ampun.. gue kira lu tau.” Ucap Flora.
Sila dan Flora terus berjalan sampai tanpa sadar dia bertemu dengan kakak kelas yang memberikan informasi untuk berkumpul di kelasnya.
“Permisi, kak.” Ucap Sila.
“Oh, iya, ada apa dek?” Jawab kakak kelas tersebut.
“Saya mau tanya, sanggar di sebelah mana ya? Hehe, saya sama temen saya dari tadi nggak ketemu- ketemu nih cari sanggar.” Jelas Sila.
“Oooh, mari ikut saya.” Ucap kakak kelas itu.
Mereka ternyata hanya perlu berjalan sedikit dari lokasi mereka tadi. Pada akhirnya mereka sudah sampai di Sanggar, di sana banyak sekali karya- karya hasil siswa-siswi, dan juga SMA Darma Bhakti terkenal akan sanggarnya, karena pelatihnya yang luar biasa galaknya.
“Flo, kita duduk sini aja.” Ucap Sila mengajak Flora untuk duduk di barisan paling pojok di ruangan itu.
“Sil, gue minus, muka mereka nanti nggak keliatan.” Ucap Flora.
Akhirnya sila mengalah dan maju ke barisan yang sedikit lebih depan dari posisi semula. Tidak lama dari itu, satu persatu anggota baru sanggar berdatangan, dan para senior pun datang. Flora melihat ke kanan dan ke kiri, banyak sekali anggota baru yang memiliki paras bagus.
“Flo, aku denger yang cantik- cantik ini bakal diikuti ajang kecantikan gitu deh, lu kan cantik dan berbakat, kemungkinan lu juga masuk.” Ucap Sila.
“Tapi gue pendek. Dari ukuran aja gue udah ke eliminasi.” Ujar Flora.
“Apa gue coba aja ya?” Ucap Sila bertanya kepada Flora.
“Hmm, terserah lu.” Jawab Flora seadanya.
Seketika, suasana sanggar yang berisik, ricuh, dan banyak obrolan dimana- mana menjadi hening sesaat, aura- aura mencekam keluar lebih dari gelapnya perasaaan Sena kepada Bu Ratih. Flora menoleh dan mendapati ada
seorang guru yang dikawal oleh kedua senior berbadan besar dan tinggi dan berparas tampan dan cantik. Andai Sena melihatnya, mungkin dia akan masuk sanggar dan menjadi anggota tetap.
“Hmmh.” Deheman guru yang terdengar seperti kekehan mengejek dengan seringaian andalannya.
Untuk pertama kalinya Flora menelan ludahnya merasakan aura hitam yang sangat mencekam, bahkan lebih seram dari ayahnya saat marah.
“Nama saya Retno, sebelum kalian senang masuk sanggar karena ganteng- ganteng dan cantik- cantik, yang nggak punya jiwa seni mending keluar dari sini, sekarang!” Ucap Bu Retno tegas.
“Anak sanggar nggak ada yang bau ketiak! Kalian masuk sini sanggar jadi bau.” Ucap Bu Retno ketus, yang langsung membuat hati anggota baru sangat tersinggung, walaupun mereka sebenarnya tidak merasa bau, tapi secara tidak langsung mereka tertusuk.
Flora membentuk pola O pada mulutnya, sangat tercengang memiliki Pembina yang ketus dan ber aura gelap seperti Bu Retno. Mungkin jika dirinya adalah Sena, dia akan menangis dan merengek untuk keluar dari ruangan ini.
“Yang merasa jelek keluar!” Ucap Bu Retno.
“Kalau mau masuk di organisasi saya, harus nurut sama saya, kalau kalian nurut sama saya, saya juga bakal nurutin apa mau kalian, jadi bagi yang nggak kuat dengan peraturan sanggar silahkan keluar dari sekarang!” Lanjut Bu Retno.
Flora melihat beberapa anak- anak yang tidak percaya diri keluar dari sana. Anak- anak yang hanya mengincar senior dan tidak benar- benar memiliki bakat perlahan keluar dari ruangan itu.
“Latihan di sanggar itu fleksibel, kalian bisa datang kapan aja untuk latih kemampuan kalian. Kakak- kakak senior kalian yang cantik-cantik dan ganteng- ganteng ini adalah penghuni tetap di sanggar. Jadi kalian jangan sungkan untuk bertanya kepada mereka.” Jelas Bu Retno lagi.
“Jika tidak ada yang mau di tanyakan harap hubungi Kakak Yuda atau Kak Indira untuk masuk ke Grup Sanggar. Cukup dari saya, kalian bisa kembali ke kelas masing-masing.” Ucap Bu Retno.
Sila yang merasa mendapat secercah cahaya dari ruangan beraura gelap itu segera menarik tangan Flora untuk meninggalkan neraka sekolah itu.
“Waaah… Itu neraka fiks, ada ya orang kayak gitu astaga. Dulu kakak gue juga anggota sanggar sini, dia yang nyuruh gue masuk sini, dia bilang asyik. Tapi nggak cerita kalo pembinanya membunuh gini!” Ucap Sila.
Flora tidak membalas perkataannya karena setuju dengan Sila. Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas karena mereka sudah melewatkan beberapa menit jam pelajaran, dan Flora iba kepada Sena yang menempuh jam pelajaran tanpa ada dirinya.
Di perjalanan, Flora merasa terpanggil oleh seseorang. Flora menoleh dan ternyata Bu Ratih lah yang memanggilnya.
“Flora!” Panggil Bu Ratih.
“Lu duluan aja Sil, gue di panggil bu Ratih.” Ucap Flora kepada Sila.
“Oh, Okay! Gue duluan ya!” Ucap Sila yang langsung berlari kecil memasuki kelasnya.
Flora berjalan ke sumber suara, yaitu di depan ruang guru, disana sudah ada Bu Ratih yang menunggu kedatangan Flora.
“Iya ada apa bu?” Tanya Flora.
“Ada yang mau ibu bicarakan, ibu sudah izin ke guru mata pelajaran kamu kok, ayo masuk ke ruangan saya.” Ucap Bu Ratih yang diangguki oleh Flora, lalu Flora memasuki ruangan ibu Ratih.
“Begini Flora, ibu lihat kamu cukup berpotensi di bidang kimia, ibu mau tahun depan kamu bisa mewakili sekolah kita untuk ajang Olimpiade Kimia Nasional.” Ucap Bu Ratih menjelaskan.
“Tapi bu, kan masih tahun depan, lagi pula saya masih kelas 10.” Ucap Flora.
“Tidak apa- apa, ibu tau kamu adalah murid yang sangat berpotensi, ibu yakin kamu akan segera di hubungi oleh guru- guru mata pelajaran lainnya. Kalau ibu boleh promosi, selama bimbingan ibu, Kimia selalu mendapatkan juara minimal juara 3. Ibu harap, semakin kedepan semakin baik. Apa kamu bersedia?” Tanya Bu Ratih.
Butuh beberapa saat untuk Flora berfikir, pada akhirnya dia dengan mantap menyanggupi, masih ingatkah kalian janji Flora? Dia akan memenangkan perlombaan besar untuk membuktikan kepada kedua orang tuanya.
Setelah menyanggupi itu, Flora kembali ke kelasnya dan mendapati gurunya yang sudah beranjak keluar kelas karena jam pelajaran sudah habis, yang akan digantikan oleh mata pelajaran berikutnya.
“Flora, saya memberikan tugas, silahkan kamu tanya kepada Sena apa tugasnya. ” Ucap guru itu.
Flora mengangguk dan mengatakan terimakasih kepada guru itu.
“Bung! Kok lu nggak bareng sama Sila? Lu di begal Kak Bima ya?” Tanya Sena.
“Nggak, gue di begal Bu Ratih.” Ucap Flora.
“Terus gimana? Lu aman?” Tanya Sena serius.
“Iyaa.. dan gue nemuin jalan ninjaku.” Ucap Flora kepada Sena.
To Be Continue...