Teenteens

Teenteens
23. Kembaliin Hp gue!



“Mau ikut ngejer Bunga juga, tapi nanti gue ganggu.” Ucap Sena sambil menghela nafas frustasi saat melihat Flora pergi yang di kejar oleh Bima, Sena ingin menangis melihatnya, bukan karena cemburu tetapi karena dia akhirnya sendirian lagi.


Sena kesusahan saat berusaha mengambil handphone yang ada di saku celananya karena terlalu banyak makanan yang ada di pelukannya.


“Yah jatoh.” Ucap Sena melihat snack yang sudah tergeletak di lantai, akhirnya Sena berjongkok untuk mengambil snack.


Setelah mengumpulkan snack yang berhamburan di lantai, Sena tidak langsung berdiri dia mengambil handphone yang ada di saku celananya, dan langsung mencari kontak Arda yang sudah berjanji mengantarnya pulang.


Sena melihat handphonenya dengan tatapan sedih, sudah tiga kali dia menelpon Arda tetapi tidak di angkat, kurang ajar sekali Arda bisanya cuma PHPin anak orang.


“Ngapain lu disitu? Cosplay jadi pengemis?” Tanya seseorang dengan sinis yang membuat Sena menoleh.


Sena kembali fokus ke handphonenya dan mencoba lagi meenghubungi Arda, dia tidak peduli dengan pertanyaan tadi atau mungkin lebih tepatnya hinaan.


“IHHHHH KAK SIAN, KEMBALIIN HP GUE!” Teriak Sena marah saat ada tangan yang tiba-tiba mengambil handphonenya.


“Ish suka benget teriak, cepet bangun malu-maluin aja.” Ucap Sian sambil melihat Sena yang ada di bawah kakinya.


“Nggak mau, kembaliin Hp gue dulu.”


“Bener nggak mau bangun? Gue buang nih Hp.” Ucap Sian mengancam.


“Buang sana buang! Nanti biar gue aduin ke abang gue! Terus biar di ceramahin sampai lu pingsan.” Ancam Sena menakut-nakuti Sian.


Karena melihat Sena yang sepertinya tidak ada niatan bangun, Sian menarik tangan Sena dan membawanya pergi, dia sudah sangat malu karena banyak tatapan mata yang mengarah kepadanya dan Sena.


“JAJAN GUE KETINGGALAN.”Teriak Sena lagi sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Sian.


Sian melepasakan cengakalnnya karena hampir di gigit oleh Sena, setelah lepas Sena langsung berlari mengambil semua Snacknya yang ada di lantai dengan buru-buru karena takut ada yang mengambil, lalu berlari lagi ke arah Sian.


“Sini hpnya!” Ucap Sena ketus yang di abaikan Sian, dia langsung berjalan meninggalkan Sena yang sudah mengumpatinya lagi.


“Iiiih sini hpnya, nanti gue teriak loh.” Ucap Sena yang berjalan mengikuti Sian dari belakang.


“Budek ya ? Gue teriakin maling nih.” Acamnya lagi, tapi di hiraukan oleh Sian.


Sena melihat Sian yang tidak menoleh kebelakang sama sekali, dia sudah sangat kesal hari ini tapi kenapa harus bertemu dengan orang menyebalkan itu.


Sena masih punya dendam kesumat dengan Sian, dia ingat sekali saat meminta jambu biji yang ia titipkan ke Sian saat hiking tetapi dengan santainya Sian bilang “Udah gue kasih ke Juna, salah sendiri lu nitip jambu udah beberapa hari lalu, tapi baru diminta sekarang.” Sian saja yang tidak tahu kalau Sena sudah mencarinya kemana-mana saat selesai hiking.


Sian berhenti di rombongan anak basket SMAnya.


“Dari mana aja? Lu tadi pergi sendiri balik-balik udah bawa buntut.” Ucap kakak kelas Sena yang bernama  Dito sambil mengipas-ngipas badannya menggunakan baju, Sena terpesona melihatnya ‘Ganteng banget gila.’ Ucapnya dalam hati.


“Hai Sena.” Sapa anak-anak yang berseragam baju basket kepadanya, maklum ya kawan Sena ini termasuk dalam daftar anak-anak cantik kelas 10.


“Hai juga kakak-kakak ku yang ganteng.” Ucap Sena genit.


“Dasar betina kurang belaian lu.” Ucap Juna yang jengah melihat Sena.


“BUAYA DARAT! Jahat banget lu ninggalin gue sendirian.” Ucap Sena yang baru sadar kehadiran Juna, Sena langsung menghampiri Juna dan menendang kaki Juna, sebenarnya Sena juga ingin memukul Juna tapi tangannya penuh dengan snack yang lebih berharga daripada Juna.


“Kasar banget sih jadi cewek.” Ucap Juna sambil memegang tulang keringnya yang di tending Sena, anak-anak basket yang lainpun ikut meringis kesakitan padahal yang di tendang Juna.


“Ayok anterin gue pulang, tanggung jawab lu.”


“Mana ada, nggak bisa gue, lu pulang sendiri aja sana, gue mau nganter ayang beb gue pulang nih.” Ucap Juna sambil memamerkan pacar barunya.


Sena melihat perempuan yang diakui Juna sebagai pacarnya, dia sungguh kasihan dengan perempuan itu, padahal dia sangat cantik tapi kok mau dengan buaya darat seperti Juna yang isi kontaknya saja sudah seperti asrama perempuan.


“Maap nih mba, saya itu tadi berangkat sama ini buaya, jadi dia harus nganterin saya pulang.” Ucap Sena kepada perempuan itu yang sedang tersenyum kikuk, sepertinnya pacar baru Juna ini sangat kalem.


Tapi sebelum pacar Juna menjawab “Lu minta anterin Sian aja ya Sen, dia sendirian tuh, masa lu tega sih biarain cewek gue yang cantiknya macam bidadari ini pulang sendiri.” Bujuk Juna yang membuat Sena kesal, kenapa coba harus minta anterin Sian, seharusnya Juna peka kalau Sena tidak suka dengan Sian, kan bisa dia menyuruh Kak Dito yang tampan untuk mengantarnya.


“Tolong anterin nih anak ya, rumahnya di samping rumah gue.” Ucap Juna lagi kepada Sian.


“Ishh nggak mau, pokoknya anterin gue pulang, gue udah capek mau tidur nih, kalau lu nggak mau gue aduin Bang Satya nih.” Ancamnya.


Sian langsung menarik kerah baju  belakang Sena, “Yuk pulang.” Ucapnya dengan santai dan membawa sena seperti anak kucing, hilang sudah harga diri Sena di depan anak-anak Basket yang ganteng.


“Lepas ih, lepas Sian Jelek.”


“Bilang apa lu?” Tanya sian dengan ekspresi sok galak.


“Jelek! Sian jelek!” Ucap Sena lagi.


Sian kesal langsung melepaskan Sena, “Sana pulang sendiri.” Ucap Sian lalu meninggalkan Sena, Sena yang melihat itu tetap mengikuti Sian dari belakang karena handphonenya masih ada di Sian, handphonenya terlalu


mahal untuk dia ikhlaskan.


Di tempat parkir mobil, Sena sempat takjub melihat Sian yang dengan santainya masuk kedalam mobil Benz, sepertinya Sian adalah orang kaya.


TIN TIN


Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunan Sena, “Ngapain bengong, mau pulang nggak?” tanya Sian ketus.


Sena tidak menjawab, Sian bener-benar cowok yang tidak peka, apakah dia tidak melihat tangan Sena yang masih memeluk jajannya, membawa jajannya saja sudah sangat sulit apalagi membuka pintu mobil.


“Gue tinggal ya.” Ucap Sian lagi yang memancing emosi Sena.


“Gak peka banget sih jadi cowok, bukain dong pintunya, nggak liat apa tangan gue penuh? Dasar nggak pengertian.” Ucap Sena sambil marah-marah.


“Cerewet.” Ucap Sian tetapi tetep membukakan pintu mobil untuk Sian, nah begitu dong daritadi masa harus marah-marah dulu baru peka.


Sena berhati-hati masuk dan duduk di dalam mobil Sian, tidak lucukan kalau nanti mobilnya tidak sengaja ke gores dan Sian meminta pertanggung jawaban, bisa miskin Sena nanti.


Sena menoleh ke arah Sian yang sedang menyetir sambil memainkan handphone , dia baru ingat kalau handphonenya masih di rampok oleh Sian, dia baru-buru mengambil handphone milik Sian dan membuat Sian kaget dan berhenti secara mendadak.


“Lu mau mati?” hardik Sian kepada Sena.


“Pake di tanya, ya enggak lah.” Ucap Sena.


“Bisa nggak sih  lu duduk anteng dan nggak buat masalah, sini handphone gue!” Kesal Sian.


“Balikin dulu handphone gue!”


Sian berusaha mengambil handphone di tangan Sena, tentu saja Sena tidak mau kalah dan berusaha menghindar, handphone Sian tidak sengaja terbuka saat perebutan sengit terjadi.


“Ini bukannya pacar Juna ya?” Tanya Sena penuh dengan selidik saat melihat wallpaper handphone Sian yang ternyata adalah foto pacar Juna.


Sian langsung mengambil handphonenya dan menatap Sena dengan sangat tajam, “Nggak usah ikut campur!” Ucapnya dengan marah dan langsung menjalankan mobilnya lagi.


Setelah itu mobil di dalam suasana mencekam, sepertinya Sian benar-benar sangat marah kepadanya, dan itu juga yang membuat Sena tidak berani berbicara, dia berdoa dalam hati semoga selamat pulang kerumah dalam keadaan sehat walafiat, karean Sian membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.


‘Gue masih belum mau mati, abang tolongin Sena bang.’ Ucap Sena dalam hati sambil ingin menangis.


Mobil Benz Sian berhenti di perumahan Pondok Indah, setelah kehingan yang mencekam selama perjalanan akhirnya sampai juga ke tempat yang Sena inginkan.


“Turun!” Ucap Sian dengan dingin.


Sena masih diam, ternyata kalau Sian marah seperti ini seram juga ya, auranya bahakan hampir sama dengan aura kemarahan Bang Satya.


“Cepet turun!” Ucap Sian lagi dengan nanda yang lebih dingin.


“Hp gue dulu.” Ucap Sena pelan, dia juga sebenarnya ingin cepat-cepat turun dari mobil ini, dia tidak peduli lagi dengan mobil mahal milik Sian.


Sian mengambil handphone Sena yang ada di saku jaketnya dan langsung memberikannya kepada Sena, Setelah melihat handphone kesayangannya Sena langsung turun dari mobil tidak lupa membawa snacknya.


Karena terburu-buru turun snack Sena banyak yang jatuh ke jalan, saat mau mengambil Snacknya, Sian dengan kurang ajaranya langsung menjalankan mobilnya dan tidak sengaja melindas Snack milik Sena.


“Jajan gue.” Ucap Sena dengan sedih sambil melihat Snack kesukaannya yang sudah menjadi korban tabrak lari, kasian seklai kamu nak.


Dia langsung berjongkok mengambil Snacknya yang masih bisa di selamatkan, dan kemudian berjalan kearah rumahnya, sebenarnya Sian salah menurunkannya, rumah Sena itu di samping kiri rumah Juna tetapi Sian menurunkannya di samping kanan rumah Juna.


Sena benar-benar membenci Sian, dia tidak akan pernah memaafkan Sian yang telah membuat Snacknya terbuang percuma.


To be continue…