Teenteens

Teenteens
34. Bukan Episode Bucin



“Eh... Flora! Ya ampun, Bunda seneng kamu dateng lagi!” Ucap Bunda Bima dengan senang hati.


“Iya bunda, Flora juga senang.” Ucap Flora dengan senyum.


Banyak perkembangan yang Bima dan Flora alami, dimulai dari Bunda Bima yang sudah tidak ingin dipanggil tante dan mulai meminta Flora untuk memanggilnya Bunda juga, dan itu membuat Bima senang sekaligus cemburu. Senang karena kedua wanita yang dia sayangi menjadi lebih dekat dan cemburu karena dia harus berbagi bunda dengan Flora.


“Flora mau makan pake apa nak?” Tanya Bunda Bima.


“Bundaa!!” Rengek Bima.


“Gue anak bunda.” Ucap Flora dengan ekspresi wajah yang mengejek.


“Tuuh bunda tuh! Liat tuh!” Tunjuk Bima pada wajah Flora yang membuat Bundanya tertawa manis.


“Flora mau.. hmmm sup jagung, cuma pake bakso gitu bun.” Jelas Flora.


“Mau lu apasi bocah?” Sungut Bima marah.


“Yeh, serah gue dong! Kan Bunda nanya.” Ucap Flora lalu menjulurkan lidahnya.


“Bundaaaaa” Rengek Bima lagi. Flora menghela nafasnya dan berjalan menuju dapur keluarga Bima.


Bima yang berakal sangat bulus mulai menyusul Flora dan duduk di kursi tempat mereka biasa makan hanya untuk mencari kesempatan agar bisa menjahili Flora.


“Mau.. makan apa?” Gumam Flora pelan.


“Hah? Nggak denger!” Teriak Bima yang menjahili Flora. Sebenarnya Flora adalah perempuan yang baik hati, perhatian dan pengertian, tapi semua itu kalah dengan gengsi tingginya.


“Nggak. Kentut gue tadi.” Jawab Flora dengan sebal.


Bunda datang membawa beberapa bahan tambahan dan mereka berdua pun mulai memasak dengan bahagia karena Bunda dan Bima, memiliki keluarga tambahan. Setidaknya mereka sudah menganggap Flora seperti itu.


“Kok Flora mau sih sama Bima?” Tanya Bunda kepada Flora.


Flora terkekeh mendengar hal itu, dia melirik wajah Bima yang berpura-pura tidak dengar dan masih saja memainkan game di handphonenya. “Bima nyewa dukun, Bun.” Jawab Flora membuat Bima membelalakan matanya garang.


“Tuh kan bun! Anak bunda yang ganteng ini diem-diem aja masih aja di gangguin, Flora tuh galak banget kalo di sekolah, tapi kalau sama bunda? Tuh.. kami jadi tukeran gini!” Keluh Bima.


“Flora, biar bunda aja yah yang masak, kalian main game aja sana.” Ucap Bunda mengusap lengan Flora. Flora pun mengangguk, tersenyum dan mengajak Bima bermain playstation di kamarnya.


“Haahh gue jadi ngantuk.” Ucap Flora membaringkan tubuhnya di atas kasur Bima.


“Hei..” Panggil Bima. Flora memutar tubuhnya dan menatap Bima yang berdiri.


“Kadang gue bertanya-tanya.” Ucap Bima yang berjalan perlahan dan duduk di samping Flora.


“Hm?” Tanya Flora.


“Apa lu benar-benar suka gue, apa lu benar-benar sayang gue. Karena lu nggak pernah nunjukin itu ke gue.” Ucap Bima dengan tatapan yang sedikit sendu.


“Lu tau kan gue nggak bisa-” Ucap Flora yang terpotong.


“Bisa nggak? Lu nurunin ego lu kalau lu lagi sama orang yang lu sayang? Gue nggak minta itu harus selalu gue. Kita nggak bisa selalu menang dalam pilihan Flo. Kita juga harus belajar merelakan dan nurunin ego demi kebaikan.” Jelas Bima dengan wajah yang sedikit serius, dan hal itu membuat Flora terdiam.


“Kok diem?” Tanya Bima menatap wajah Flora yang nampak berfikir.


“Jangan anggap serius..” Lanjut Bima dengan mengusap kepala Flora.


“Gue nggak tau bagaimana harus memulai, How i can say I love you like the other.” Ucap Flora yang memindahkan kepalanya ke paha Bima.


“Gue pikir lu ngerti tanpa gue bilang?” Lanjut Flora menutup matanya pelan.


“Tau apa?”


“Semua itu nggak harus selalu ditunjukkin pake kata-kata kan, seharusnya dengan perbuatan lu peka.” Ucap Flora yang diakhiri dengan helaan nafas.


“Sorry.” Ucap Bima pelan.


“Kenapa?” Tanya Flora.


“Gue terlalu sayang sama lu sampai rasanya gue selalu ekspetasiin lu yang bukan diri lu sendiri, dan gue pikir kalau lu adalah pacar gue, lu bakal selalu bilang lu sayang gue setiap harinya.” Kekeh Bima.


“Kita bukan Habibie & Ainun nggak usah kebanyakan ngehayal. Kalo lu suka begitu karena lu pengen gue ucapin gue sayang lu setiap hari. Gue yakin Penny masih buka lowongan buat lu.” Jawab Flora yang membuat Bima menyentil dahi Flora lalu terkekeh bersama


Flora bangun dan menatap Bima yang masih terkekeh. Dia berfikir, seharusnya dia tidak menjadi jenis pacar yang menunggu 5 menit untuk membalas pesan kekasihnya sendiri untuk menghindari kata-kata ‘Flora Bucin.’ Toh dia adalah bucin dari kekasihnya sendiri.


“Gue nggak tau gimana caranya lu liat gue terus suka gitu.” Kata Flora yang mulai turun dari kasur Bima lalu mulai menghidupkan Playstation yang ada di kamar Bima.


“Nggak tau gue juga. Dari awal liat lu, Sena, sama Wira jalan rasanya gue udah tertarik sama lu. Terus lu kemah dan gue sadar gue tertarikmsama lu waktu lu nyanyi sama temen-temen kelompok lu. Lebih cantik aja. Suara lu bagus.” Puji Bima pada Flora.


“Gue mau ketawa sih liat kuntilanak dasternya ngegantung di betis.” Ujar Flora menahan tertawanya.


Mereka pun mulai memainkan game yang sudah Flora nyalakan dan bermain. Mereka bermain dengan senang hati sampai Flora sama sekali tidak menunjukkan wajah flat yang biasa dia tunjukkan.


“Flo, bisa nggak kalau di sekolah atau dimanapun, senyumnya ke gue aja, jangan ke cowok lain?”  Celetuk Bima yang masih saja mendominasi permainan. Flora terkekeh melihat kekasihnya yang mulai posesif.


“Iya. Eh-eh jangan deket-deket gue! Iu musuhnya banyak!” Jawab Flora yang berusaha mengimbangi skill game Bima.


“Cita-cita lu apa?” Tanya Bima.


“Apenih.. lu mau kayak di film-film?” Jawab Flora.


“Kagak gila. Makanya punya hp jangan buat streaming drama mulu.” Sahut Bima.


“Cita-cita.... Nggak tau, dulu gue mau jadi dokter, kemarin gue mau jadi guru, kemarinnya laigi gue pengen jadi.. yah asalkan PNS. Tapi akhir-akhir ini gue kehilangan mereka. Nggak tau kemana.” Ucap Flora.


Tidak lama setelah itu, Bunda Bima datang dengan membawa berita bahwa makanannya sudah matang dan siap dihantam. Mereka pun meninggalkan game nya dan berlomba siapa yang sampai lebih dulu di meja makan adalah anak bunda. Kekanak-kanakan memang.


“Waah kelihatannya enak, Bun” Ucap Bima yang semangat dan dengan cepat mengambil nasi, sup, dan beberapa lauknya.


“Hmmm, Bima emang nggak pernah salah milih kepala koki di rumah ini.” Lanjut Bima yang merasa puas dengan hasil masakan Bundanya.


“Enak Bun.” Puji Flora yang juga sudah mengambil makannya.


“Flora punya saudara kandung?” Tanya Bunda Bima.


“Uhum.. punya Bun, adik laki-laki.” Ucap Flora menjawab pertanyaan Bunda Bima.


“Oh, seru dong, rumahnya rame. Kalo disinikan cuma ada Bunda sama Bima aja. Belum lagi kalau Bunda kerja Bima sendirian.” Ucap Bunda Bima.


Flora melirik Bima, sepertinya Bima paham atas pertanyaan di mata Flora, dia tersenyum manis melihat Flora.


“Udah selesai? Gue anter pulang.” Ucap Bima.


Flora segera membereskan sisa-sisa bekas makanan mereka, mencucinya dan mengembalikan ke tempat mereka berasal. Flora segera berpamitan dan meninggalkan rumah Bima, memasuki mobil Bima dan berjalan keluar area


rumah.


“Ayah... Kecelakaan dan-”


“Nggak usah cerita. Gue kan nggak nanya.” Ucap Flora membungkam Bima.


“Gue, nggak suka lu bahas orang tua lu kalau beliau nggak ada, so.. jangan dibahas okay?” Gumam Flora tersenyum dan menggenggam tangan Bima yang menganggur.


To Be Continue..